Lanjut ke konten

Beli Motor Buat Gaya atau Transportasi?

5 Desember 2011

LIFE cycle atau umur sepeda motor bisa cukup panjang. Kalau cuma 5-10 tahun mah pasti bisa. Bahkan, kata Shirae Takayuki, service manager Yamaha Motor Corporation (YMC), Jepang, untuk sepeda motor Yamaha, usianya bisa lebih panjang.
“Asal konsumen merawat motor dengan bagus, usia motor bisa selamanya,” kata dia, di sela ‘Grand Final Kontes Teknisi dan SMK Indonesia 2011 road to Japan’, di Bandung, akhir November 2011.
Kuncinya ada di perawatan. Secara berkala dan memanfaatkan suku cadang yang berkualitas.
“Kalau bicara life cycle mesti dilihat secara parsial, tidak bisa begitu saja secara utuh,” jelas Mangiring Siahaan, general manager Service and Motor Sport PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) pada kesempatan yang sama.
Dia mencontohkan, kualitas piston diasil cylinder di sepeda motor Yamaha minimal berusia lima tahun. Sedangkan komponen-komponen tertentu ada yang di bawah itu, misalnya saja, ban dan kanvas rem. Karena itu, butuh perawatan yang maksimal dengan secara rutin memeriksanya di bengkel terdekat.


Siklus Pembelian

Sebagai penunggang sepeda motor, saya mencoba sebaik mungkin merawat tunggangan agar usia sikuda besi bisa lebih panjang. Maklum, untuk membelinya, saya harus kerja membanting tulang. Jerih payah untuk membeli siroda dua itu, harus seimbang dengan fungsi ekonomisnya. Bukan sekadar gaya-gayaan.
Maklum, saya termasuk yang sepakat terhadap pendapat bahwa banyak orang di masyarakat kita membeli sepeda motor karena alasan ekonomis. Maksudnya, sepeda motor dimanfaatkan sebagai alat transportasi. Menjadi alat yang mendukung mobilitas untuk mencari nafkah, mencari ilmu, beranjang sana, berinteraksi social, hingga berekreasi.
Barangkali, pada masyarakat tertentu yang berdaya beli tinggi, sepeda motor sebagai hobi semata. Karena itu, produk yang dibeli harganya amat syur, bisa ratusan juta rupiah per unit.
Saya termasuk yang membeli sepeda motor karena alasan ekonomis. Tak heran, jika saya mencoba sebisa mungkin merawat sikuda besi agar tahan lama. Rezeki yang terkumpul dimanfaatkan untuk aneka biaya kehidupan. Mulai dari bayar listrik, telepon, iuran anak sekolah, hingga membayar pajak. Soal urusan ganti tunggangan menjadi nomor kesekian. Nah, disinilah menjadi mutlak perawatan yang maksimal agar motor saya tidak cepat rewel, apalagi minta diganti yang baru.

Saat ini saya berpikir, baru akan berganti sepeda motor ketika usia sikuda besi yang saya punya saat ini memasuki usia 7-10 tahun. Kalau memaksakan diri berganti kendaraan karena rajinnya para produsen menggerojok pasar dengan produk baru, rasanya ekonomi saya tidak mampu. Secara rasional, bagi saya loh, tidak logis. Wong motor masih bisa bertahan sekitar 10 tahun.
Seorang manajer di sebuah pabrikan motor berbisik kepada saya, saat ini, masyarakat menempatkan sepeda motor sebagai gaya hidup. Sehingga, katanya, dalam periode tertentu, misalnya tiga tahun sekali, berganti sepeda motor. Tiga tahun dicomot dari fakta di lapangan bahwa siklus atau tenor kredit sepeda motor ada direntang tersebut. Artinya, tiga tahun kredit, ketika lunas, beli lagi yang baru.
“Sekalipun motor kami cukup awet, tapi karena kami produsen sepeda motor, beli dong motor baru kami,” tutur Shirae Takayuki. (edo rusyanto)

16 Komentar leave one →
  1. 5 Desember 2011 00:11

    keduanya, multi purpose

    • AD! permalink
      10 Desember 2011 12:55

      Betul bro rata2x multi purpose dan bisa juga karena terpaksa… artikel bang Edo yg satu ini mah balik lagi ke Pemerintah dong… pemerintah mau nggak menyediakan alat tranportasi yg cepat, tepat waktu, murah, flexibel dll…. contoh berkaca dari negara jepang d bawah kota nya itu tersusun jalur2x kereta bawah tanah yg banyak dan rapi… rata2x kereta bawah tanah di jepang itu cepat2x dan tepat waktu juga biaya murah dan kita nyaman memakai jasa kereta ini….. itu hanya 1 contoh lho ada juga contoh lainnya di negara lain…. bandingkan dgn negara tercinta kita…. busway aza msh nabrak pengendara motor…. trs angkot yg suka ngetem lama juga suka menurunkan penumpang seenaknya…. trs ada juga mau ke satu tujuan hrs naik 2 sampai 3 kali angkot + bus umum malah….. mangkanya rakyatanya lari ke alat transportasi yg bisa memenuhi kebutuhan yaitu MOTOR RODA 2…

      • 10 Desember 2011 13:00

        pemerintah harus didorong agar memenuhi kewajibannya menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. pemerintah jangan membiarkan warganya mencari transportasi alternatif. kasihan dong. trims sudah berbagi mas bro. salam

  2. 5 Desember 2011 05:50

    buat tidur

  3. 5 Desember 2011 12:18

    kalo ekonomi memungkinkan, saya pengen ganti kaya Ardi itu Yang #nggosipZX6R 😀
    Salam

  4. necel permalink
    5 Desember 2011 14:17

    Motor shogun saya dah 8 tahun

  5. binladeen permalink
    5 Desember 2011 15:25

    Hampir rata-rata konsumen yaaa seperti Mas Edo lah. Minimal beli motor baru pas habis kredit motor lama. Cuma beberapa bulan terakhir kayaknya kita diprovokasi oleh pabrikan untuk membeli motor sesering mungkin, seperti membeli hape. Selain banyak pilihan, juga brojol saban bulan. Supaya tidak kena “jebakan batman”, mari kita jadi konsumen yang waras yang membeli sesuatu berdasarkan logika kebutuhan, bukan esmosi dan nafsu syahwat ingin gaya-gayaan …..

  6. 5 Desember 2011 17:35

    Punyaku th 80 masih dipakai sampe sekarang, mau beli nggak ada duit. Ikut meramaikan saja dah….

  7. vanz21fashion permalink
    5 Desember 2011 19:03

    belom baca artikel secara lengkap, ngejawab judul dulu.. ane si jujur buat gaya dan hobi..

  8. 6 Desember 2011 02:20

    kalo saya lebih memilih sebagai mode transportasi aja, ga memikirkan gaya, yang penting bagi saya bisa jalan kemana saya perlukan dan tentunya hemat bensin, hehe

  9. arsenal permalink
    6 Desember 2011 10:47

    pendapat saya,..jika ada pabrikan yang membuat motor dengan banyak menyasar anak muda yang labil,,dengan mengandalkan desain,..maka secara otomatis akan menanamkan fikiran konsumtif,..karena desain itu sangat cepat berkembang,.anak muda memiliki sifat pamer sangat tinggi,..mereka suka membanding bandingkan.kalo saja dia beli motor,..biasanya yang di lihat adalah desain,..speed,..dan kurang memerhatikan harga(duwit minta).
    Maka resiko yang orang begini yang beli motor buat gengsi.

  10. 9 Desember 2011 10:34

    yamaha jupiter bapak saya dh 7 tauN masih bisa ngacir 12o km

  11. jon sukmana permalink
    9 Desember 2011 11:18

    Betul sekali saya memiliki yamaha virago xv 1100 cc thn 94 memang saya urus dan rawat dgn mengganti komponen ban dsb masih ok sampai hour ini walaupun bayar stnk nya cukup lumayan

  12. 15 Desember 2011 19:45

    Shogunku dah 10 taun, mau ngredit lagi kasian bapakku :mrgreen:

    jadi pelihara aja motor ini sampe 5 taunan lagi, kalo udah mampu beli motor baru…ya yang ini dijadikan cadangan 😀

  13. febi permalink
    21 Maret 2014 09:35

    kyak bpak kos gue aja…beli motor 3 baru semua…tapi makan aja indomie mulu…
    ama anak kos pelit.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: