Lanjut ke konten

Jalan Darurat di Atap Bus

28 November 2011

INGAT kasus bus yang terbakar dan menimbulkan banyak korban beberapa tahun lalu? Ya. Salah satu penyebabnya memang karena berdesak-desakan untuk keluar dari bus. Penyebab utama tentu saja kebakaran itu sendiri.
Masih banyak kasus kecelakaan lain yang menimpa angkutan umum bus. Ada yang tercebur ke jurang, tabrakan dengan kendaraan lain, hingga tercebur ke danau. Para pemilik bus bisa mengantisipasi dengan beragam jurus.
Sebut saja misalnya dengan mendisiplinkan pengemudi bus agar tidak semata mengejar setoran, tapi juga memperhatikan keselamatan seluruh penumpang bus. Selain itu, mengajarkan kepada awak agar senantiasa menjaga kebugaran dan keterampilan berkendara. Tentu saja hal yang tak boleh diingkari adalah peningkatan perilaku pengemudi yang disiplin, tertib, dan mau peduli dengan sesama pengguna jalan.
Dari faktor teknis, para pemilik bus mesti memperhatikan unsur kendaraan yang berpotensi memicu kecelakaan. Hal ini di antaranya adalah kondisi ban yang dalam kondisi baik, kondisi rem, hingga peralatan penunjang.

Nah, soal peralatan penunjang, baru-baru ini saya menumpang bus carteran tujuan Jakarta ke Bandung dan kembali lagi ke Jakarta. Saya menemukan tiga unsur penunjang keselamatan yang patut diacungi jempol.

Di dalam bus ada sabuk pengaman. Tidak saja untuk pengemudi, tapi juga untuk para penumpang. Walau, saya lihat ada beberapa penumpang yang tidak memakainya, setidaknya, penyediaan fasitas itu sudah amat membantu upaya meningkatkan keselamatan di jalan.
Lalu, ada alat pemecah kaca yang ditaruh didinding bus. Alat seperti itu amat dibutuhkan manakala terjadi situasi seperti kebakaran di dalam bus. Kaca yang dipecahkan menjadi alternatif jalan keluar.
Terakhir, saya melihat adanya petunjuk jalan keluar darurat di atas bus. Jalan keluar yang mungkin jarang dipakai karena lebih tepat dimanfaatkan saat tercebur ke air. Walau, bisa jadi juga dapat dimanfaatkan ketika bus terguling. Jalan keluar di bagian atap bus itu ditandai dengan petunjuk yang cukup jelas.

Andai semua bus angkutan bisa dilengkapi alat penunjang keselamatan, setidaknya bisa menimbulkan rasa aman, nyaman, dan selamat. Rasa aman penting bagi pengguna angkutan umum. Tentu saja, amat berguna bagi para pemilik angkutan bus. Kan kalau busnya terus beroperasi dengan selamat, setoran juga berjalan lancar. (edo rusyanto)

11 Komentar leave one →
  1. 28 November 2011 12:22

    ini pasti Blue Bird…hehehe

  2. 28 November 2011 12:39

    WhiteHorse

  3. 28 November 2011 13:06

    white horse kayaknya…….

  4. kentang permalink
    28 November 2011 13:16

    burung ? kuda ?… ckckckckck, itu bis tau 😀

  5. 28 November 2011 14:43

    yg pasti bukan bebek…wekwekwek…

  6. 28 November 2011 16:35

    Kalau di Jakarta, bus yang punya safety belt pasti bus mewah.
    Di Korea semua bus punya safety belt untuk setiap tempat duduk.

    • KrokKrok permalink
      20 Juni 2016 04:08

      Di Korea DOANG atau taunya CUMA Korea?

  7. 28 November 2011 19:54

    seandainya kopaja atau metromini bisa kayak gtu…
    wkwkkwkw NGIMPI,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  8. uungferi permalink
    28 November 2011 21:49

    wowwwwww

  9. 29 November 2011 11:08

    sangat bagus fiturnya..

  10. 30 November 2011 12:48

    bisa juga ditiap kursinya diberi fitur ejection seat, jd begitu ada musibah penumpang bs melontarkan diri ke udara..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: