Lanjut ke konten

Berbagi di Pinggir Kali Ciliwung

20 November 2011

CILIWUNG cukup akrab di telinga warga Jakarta. Sungai itu berhulu di Bogor, Jawa Barat, membelah Jakarta, dan bermuara di Laut Jawa. Saat ini, kian ke hilir, air Ciliwung kian keruh, bahkan sebagian berwarna hitam pekat plus aneka sampah.
Hal itu membuat sejumlah komponen masyarakat memberdayakan diri mengurangi pencemaran terhadap sungai Ciliwung. Salah satunya adalah Komunitas Ciliwung Condet, Jakarta Timur. Mereka berjuang mengurangi sampah yang mencemari.
Salah satu aktifitas mereka untuk menggaungkan semangat peduli dan aksi nyata menjaga kebersihan Ciliwung, mereka menggelar Nimbrung di Ciliwung. Program yang menghimpun sekitar 30 komunitas di Jakarta dan sekitarnya itu, cukup mengundang banyak peminat.
Saat saya menjejakan kaki di kawasan Jl Munggang, Condet Balekambang, Minggu (20/11/2011) pagi, tampak puluhan anak remaja dan dewasa. Ada yang sedang asyik diskusi, ada yang bermain, bahkan ada yang sedang bermusik dan main sulap. Tampak juga kolega saya bro Adhi aka alonrider.

“Nimbrung di Ciliwung merupakan kegiatan wisata pendidikan ramah lingkungan,” jelas Sudirman Asun, penggagas kegiatan tersebut.
Nimbrung di Ciliwung digelar oleh Jejaring Komunitas Peduli Ciliwung Jakarta. Jejaring tersebut terdiri atas lintas komunitas yang mengerjakan isu lingkungan, seni, dan pendidikan.

“Bicara lingkungan itu luas. Tidak semata penghijauan, tapi juga bicara ekosistem, termasuk lingkungan jalan,” papar Abdul Khodir, aktifis Komunitas Ciliwung Condet (KCC), saat berbincang dengan saya, Minggu.
Pantas saja ada stand sulap dan ekspresi musik di area yang dikelilingi pohon salak Condet itu.
Saya sempatkan berkeliling sejenak. Hingga akhirnya memilih sebuah saung bambu untuk beristirahat. Suasana sekeliling teduh karena dinaungi rerimbunan aneka pohon. Betapa nyamannya Jakarta jika memiliki banyak hutan kota seperti ini. Masyarakat tidak seenaknya menebang pohon untuk membangun hunian. Terlebih para pengembang yang gencar membangun superblok dengan gedung pencakar langitnya.
Belum lagi sesaknya Jakarta oleh jutaan kendaraan yang ramai-ramai membuang gas emisi buang. “Aturan soal gas emisi buang sudah ada, tinggal penerapannya saja di lapangan,” kata Panggung, staf kementerian lingkungan hidup (KLH), saat berbagi di area KCC.
Faktanya, di lapangan aneka kendaraan dengan gas emisi buang yang bisa menyesakan dada masih berseliweran di jalan. Selain itu, juga banyak yang memakai knalpot dengan suara memekakan telinga. Butuh masyarakat yang peduli kepada lingkungan.

“Yang peduli banyak mas, tapi yang berbuat aksi nyata masih kurang,” papar Khodir.
Ya. Aksi nyata untuk lingkungan sekitar memang masih dibutuhkan. Tak semata soal menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, tapi juga mencakup lingkungan yang lebih luas. Termasuk tentu saja di lingkungan jalan. Berkendara yang peduli dengan sesama untuk keselamatan seluruh pengguna jalan. Jakarta mesti menjadi kota yang lebih manusiawi. Cukup sudah tiga orang tewas sia-sia setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

7 Komentar leave one →
  1. 20 November 2011 22:23

    selamatkan bumi kita untuk anak cucu kita, “GO CLEAN GO GREEN”

  2. 21 November 2011 00:16

    siiip . . .

  3. Zuki permalink
    21 November 2011 05:38

    Salut sama mas edo, bloger yg peduli akan keselamatan berlalu lintas, ternyata msh peduli jg akan lingkungann hidup. Miris juga setelah berkunjung ke warung salah satu blogger yg dg giatnya mempromosikan tunggangan rakyat salah satu pabrikan. Disini mas edo malah sdg giat2nya mempromosikan pentingnya akan keselamatan berlalu lintas & lingkungan hidup.

  4. 21 November 2011 10:27

    pernah baca dimana lupa, kalau mau kalinya bersih, coba banyak melepas kura-kura (apa penyu yang hidup di air tawar? :)) lupa namanya). sebagai contoh (menurut tulisan itu) sungai gangga di India itu dulunya tercemar berat dan airnya tidak bersih seperti sekarang, tapi setelah diketahui bahwa penyu/kura2 itu memakan segala yang lewat di kali, sekarang terbukti air gangga jadi bersih dan bisa dinikmati oleh masyarakat India (mandi misalnya) kalau sekarang yang ada air di Ciliwung itu untuk sekedar mandi saja, rasanya masih mikir 3 kali 🙂
    wassalam

  5. 21 November 2011 13:08

    Sukses selalu untuk segala aktifitasnya Sob.

    Salam
    Ejawantah’s Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: