Lanjut ke konten

Busway kok Janggal Yah?

15 November 2011

KERAP kali kami mempergunjingkan kata ini, busway. Secara harfiah, busway bermakna lajur bus. Namun, tak jarang kata itu dipakai untuk menyebut angkutan umum Transjakarta.
Benar. Transjakarta memiliki lajur khusus yang disebut busway. Angkutan umum massal itu beroperasi mulai 2004 di Jakarta. Selain lajur khusus, Transjakarta juga memiliki halte khusus. Artinya, bus-bus Transjakarta tidak bisa berhenti disembarang tempat. Tarifnya pun khusus, tahun 2011 ini, Rp 3.500 per orang. Kini, armada Transjakarta sekitar 500-an bus.
Balik lagi soal busway. Kita sering kali menganggap remeh sebuah sebutan. Mungkin dianggap hal kecil. Kecuali jika memang tidak ada padanan yang pas. Misalnya, air putih. Secara kasat mata, putih dan bening berbeda. Air putih sering dipakai untuk air bening. Padahal, kalau secara harfiah yang termasuk air putih adalah susu. Benar gak sih?
Lantas, bagaimana dengan busway? Saya kok merasa janggal yah menyebut Transjakarta sebagai busway?

Sebelum ada Transjakarta, warga DKI Jakarta dan sekitarnya bisa kok menyebut bus lain dengan PPD, Mayasari Bhakti, Metromini, atau Kopaja. Kok yah untuk Transjakarta malah disebut busway. Boleh jadi media massa punya andil mempopulerkan Transjakarta dengan sebutan busway. Kalau sudah begini, repot jadinya.

Bagaimana tidak, jika hal-hal kecil diacuhkan, bagaimana dengan hal besar. Coba aja tengok, mungkin dianggap remeh ketika berkendara harus berhenti di belakang garis setop. Terjadilah penumpukan luar biasa di perempatan lampu pengatur lalu lintas jalan. Seakan siap-siap untuk adu kebut ketika lampu berwarna hijau. Belum lagi aksi melintas di bahu jalan atau di trotoar jalan. Mungkin dianggap remeh. Tapi, jika sering dilakukan, jangan-jangan kita lupa, sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil. (edo rusyanto)

8 Komentar leave one →
  1. 15 November 2011 06:33

    Luar biasa Pak, sepagi ini sudah produce 2 tulisan menarik. Saya juga heran Pak, kenapa penyebutan Trans Jakarta bisa salah kaprah begitu. Padahal orang-orang pun tidak payah menyebut nama “Trans Halim” (jenis kendaraan ke daerah Halim) yang notabenenya adalah angkot seperti angkot lain pada umumnya. Mungkinkah karena “Busway” lebih terasa singkat disebut ketimbang “Trans Jakarta”?

  2. 15 November 2011 07:50

    Janggal memang, karena nama aslinya trans Jakarta, tapi kita udah terbiasa pakai sebutan busway…. Dan ternyata…. itu ada latar belakangnya Omm.

    Alkisah, Gub DKI saat itu (Sutiyoso) sedang berembug dengan kolega2nya, tentang mass transport yang akan mereka terapkan. Lha koleganya yang kebetulan berasal dari Jawa tengah bilang ,” Pak Suti, sebaiknya kita pakai Bus wae, ojo kereta api…” lha dari malam itu ngetren istilah Bus wae… bus wae … jadinya busway..

    garing.com

  3. 15 November 2011 07:53

    media memang punya andil mas.
    soalnya masyarakat lebih gampang menangkap sesuatu dari media

  4. goyobod permalink
    15 November 2011 10:35

    Pernah dibahas juga sama oom mitra di sini
    http://blognyamitra.wordpress.com/2011/10/27/antara-busway-dan-transjakarta/

  5. 15 November 2011 12:08

    Tapi, jika sering dilakukan, jangan-jangan kita lupa, sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil.

    keren kalimatnya!

  6. 15 November 2011 16:48

    Begitulah orang Indonesia. Mengikuti apa yang umum saja. Padahal itu belum tentu benar.

  7. 15 November 2011 17:23

    Betul, seringkali kita salah dalam hal-hal kecil. Padahal hal-hal kecil memulai sesuatu yang besar. 🙂

    Sebaiknya dibikin singkatan aja, TJ lebih bagus. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: