Lanjut ke konten

Sharing Bareng Komunitas Suarajakarta.com

12 November 2011


Suasana sharing di Leksika, Lenteng Agung. (foto:adhi)

BERBAGI alias sharing pasti berfaedah. Karena itu, Sabtu (12/11/2011) pagi saya bergegas ke Toko Buku Leksika, Lenteng Agung, Jakarta Selatan untuk bertemu komunitas Suarajakarta.com.
“Komunitas ini adalah mereka yang terlibat di Akademi Jurnalis yang digelar Suarajakarta,” kata bro Ardy.
Sekitar pukul 09.33 WIB saya tiba di gedung berlantai empat itu. Agenda hari itu adalah membahas teknik reportase dan pewarta warga.
Suasana di lantai dua gedung Leksika masih lengang. Ada enam orang, tujuh dengan saya. Belakangan datang satu orang lagi, Zahra. Keenam yang lain adalah Endang, Irma, Ibrahim, dan Iwan. Serta dua kolega saya, bro Ardy dan bro Nadhi.
Diluar kami bertiga, selebihnya adalah mahasiswa/wi semester tiga hingga tujuh. “Kecuali saya, sudah rampung kuliahnya,” papar Irma.
Semangat mereka patut diacungi jempol untuk berbagi seputar jurnalistik. Tiga di antara mereka ingin menjadi jurnalis. Sisanya, ingin jadi penulis. Profesi yang mulia.
Tak heran kala diskusi mencuat pertanyaan-pertanyaan seperti; bagaimana mencari sumber yang valid?; Bagaimana mencari inspirasi untuk menulis?; Apakah perlu melakukan konfirmasi saat menulis figur seseorang?
Saya yang kebagian berbagi soal teknik reportase dan menulis berita, mengajak mereka untuk mengetahui dulu esensi soal berita. Ada lima hal yang saya utarakan soal makna dari berita. Kelima hal itu mencakup unsur; kebaruan, penderitaan/kesedihan manusia, kebahagiaan atau kesuksesan, penyimpangan, dan hal-hal unik.

Saya jelaskan bahwa kelima hal itu bisa menjadi patokan untuk menulis berita. Termasuk ketika menulis di blog. Memang, khusus mengenai tema penyimpangan, seorang penulis harus memahami aturan yang berlaku. Misal, apakah berkendara melintas di bahu jalan atau trotoar jalan itu menyimpang? Jawabannya ya, karena Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan melarang hal tersebut.

Diskusi untuk berbagi terus mengalir. Bahkan, diperkuat dengan praktik menulis dan langsung dikritisi bersama. Kami saling melengkapi. Karenanya mencuat pertanyaan dan paparan seperti, “Kok rasanya judul tidak nyambung dengan isi. Alurnya kok melompat-lompat, atau bagaimana membedakan straight news dengan features?”
Oh ya, soal rujukan penulisan berita, Endang sempat bertanya, apakah media bisa jadi rujukan untuk menulis. Bro Adhi menjelaskan hal itu bisa saja. Terpenting, ketika menulis juga diperkaya dengan riset kepustakaan.
Asyiknya perbincangan membuat waktu terasa cepat bergulir. Jarum jam memasuki pukul 13.00 WIB. Pembahasan bahkan meluas soal internet sehat. “Aku selama ini takut ngeblog karena takut gak punya privasi atau di-hack,” papar Zahra.
Bro Adhi sontak memberi tips. “Salah satunya jangan mencantumkan nomor ponsel kecuali untuk kepentingan komersial,” katanya.
Soal bagaimana ngeblog, kata bro Adhi, bisa kita bahas di sesi khusus.
Sebelum meninggalkan Leksika, saya dan dua kolega isi perut di rumah makan Padang diseberang Leksika. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. soemarlien permalink
    12 November 2011 17:45

    subhanallah, itu ada syahrini ya???

    • 12 November 2011 23:12

      Hahaha… kalo sama yg mengkilap cepet bener nangkepnye…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: