Skip to content

Ironis, Pengendara Tanpa SIM Masih Tinggi

3 November 2011

SUATU siang saya dikejutkan oleh pengendara sepeda motor. Sang pengendara mendahului dari sisi kiri saya. Tak sampai disitu, ketika berada di depan, sang pengendara tiba-tiba berbelok tanpa member lampu isyarat. Ketiganya masih memakai rok biru dan kemeja putih. Ketiga penumpang sepeda motor itu tidak memakai helm.
Memang tak ada insiden serius. Namun, tingkah polah sang pengendara belia itu membuat saya miris. Tak habis pikir, ada orang tua yang tega mengizinkan anak puterinya bersepeda motor di jalan raya. Saya duga, mereka tak memiliki surat izin mengemudi (SIM) C. Saya hanya bisa berharap, dalam waktu segera mereka menyadari kekeliruan yang terjadi.
Saya jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu. Saat menunggu isteri saya membeli panganan di sebuah rumah makan, saya sempat berbincang dengan seorang sopir angkutan umum. Memang dia hanya beroperasi di lingkungan kampong. Kami menyebutnya odong-odong.
Dia bercerita, terpaksa menjadi sopir karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Ijazah SMA dari kampong halaman tercinta nyaris belum terpakai. Setiap hari dia mengantongi sekitar Rp 20 ribu dari menarik odong-odong selama hampir lima jam. “Lumayan pak buat makan dan ngerokok,” kata dia.
Hal yang membuat saya kaget, dia tidak memiliki SIM. Dalihnya, ngurus SIM butuh biaya, sedangkan uang dikantong belum mencukupi. Sama persis dengan alasan para tukang ojek yang saya temui disebuah desa di Bogor, Jawa Barat. Mereka mengaku belum memiliki SIM walau sudah narik ojek sepeda motor sudah lebih dari lima tahun. “Polisi sudah ngerti kok pak,” kata seorang tukang ojek.
Kenapa SIM dianggap tidak penting? Coba tengok, data Korps Lantas Polri menyebutkan, sepanjang semester pertama 2011, dari total pelanggaran lalu lintas jalan, para pelanggar yang tidak memiliki izin berkendara mencapai sekitar 36,20%. Angka itu setara dengan sekitar 999 ribuan pelanggar, mengingat total pelanggaran pada rentang waktu itu sekitar 2,75 juta pelanggaran.

Di posisi pertama para pelanggara masih diduduki para pemilik SIM C alias para pengendara sepeda motor, yakni sekitar 1,21 juta (44,08%). Sedangkan para pemegang SIM mobil sekitar 544 ribuan (19,72%).
Boleh jadi kasus pelanggar dari kalangan pemotor seperti kasus tukang ojek yang saya temui di Bogor. Sedangkan kasus remaja puteri pelajar sekolah yang saya temui beberapa waktu lalu, maupun sopir odong-odong dikategorikan berkendara tanpa izin.
Padahal, kita tahu semua bahwa sanksi pengendara tidak memiliki SIM bisa dikenai denda maksimal Rp 1 juta. Pilihan lainnya adalah sanksi kurungan badan maksimal empat bulan. Bagaimana faktanya? Hemmm…belum pernah dengar sanksi maksimal diterapkan untuk pelanggaran soal SIM. Padahal, pelanggaran aturan lalu lintas jalan sangat berpotensi memicu kecelakaan. Pasti masih ingat pernyataan pak polisi kan? Kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan lalu lintas jalan. Tuh kan. (edo rusyanto)

Iklan
15 Komentar leave one →
  1. pengamat Bikers permalink
    3 November 2011 09:17

    Lah wong ngurus SIM aja kalo gak pake “orang dalem” itu gak bakalan LULUS mbah ,,

  2. 3 November 2011 09:28

    Flyover kalibata nampaknya, betul?….flyover teraneh didunia….

  3. 3 November 2011 09:34

    Terutama siswa SMP yang sungguh memprihatinkan.

  4. necel permalink
    3 November 2011 10:09

    Kesadaran masyarakat Indonesia masih rendah. Padahal untuk keselamatan diri sendiri. Mahal ngurus sim karena pake jalur nembak. Kalo ga nembak ya ga mahal
    http://necel.wordpress.com/2011/11/03/mengenal-honda-rc212v-motor-800cc-4-tak-terbaik/

  5. 3 November 2011 10:41

    SIM sala bim

    • 3 November 2011 10:50

      kalau kata pesulap yg satu itu, prok prok prok jadi apa jadi apa…eh keliru yah? wong alamat palsu, mbak ting ting, hehehehe….

  6. 3 November 2011 12:39

    Pak Polnya kok terkesan membiarkan kan kejadian sperti itu sih Om?dipertanyakan nih komitmennya terhadap peraturan dan keselamatan pengguna jalan……….Hopeless klo gitu……..

    http://beckhem.wordpress.com/2011/11/03/mengisi-waktu-luang-dengan-tts-an/

  7. 3 November 2011 12:52

    Malas berurusan sama birokrat pak.
    Kalau syarat dan sistemnya dipermudah,
    seperti bikin rekening di bank, mungkin banyak orang mau.

  8. 3 November 2011 13:03

    ketika SIM haya sebagai pelengkap saja pak, makanya sebagian orang menganggap cuma hal kecil, padahal SIM adalah sebagai bukti bahwa sorang itu memiliki keahlian atau kecakapan dalam mengoprasikan kendaraan tertentu sesuai tingkatanya pak.
    sIm cuma kedok aja pak ngak bisa buat pembeda antra seorang yang layak secarah benar untuk mendapatkan, semua di campur aduk dalam proses pengujianya.

    Bahkan kenapa istri saya sendiri saja belum saya buatkan SIM, karena saya masih merasa dia belum memiliki kemampuan berkendara, memang dia bisa naek motor,

    okelah pak pengalaman pribadi, saya dapat sim aja ketika usia saya kurang dari 17 tahun, tapi apa jadinya pak?itupun duli saya belajar naek motor tanpa sim pada saat kelas 4SD.tetepi saya masih naik sepeda ontel sampe tamat SMP, baru saya masuk SMA, dapet motor, sama SIM, dan tanpa ada dasar pelajaran tentang berkendara, apa jadinya pak?masuk dunia BALI, trek-trek kan. Copot spion, hehe… Itu dulu pak, ketika di suatu saat aku sadar semuanya kutinggal…

  9. 3 November 2011 13:36

    betul tu om… saya pun kalo ada pemakai jalan dan terjadi kenapa napa…. terutama melibatkan saya… pasti saya tanya duluan…
    “eh… loe punya SIM gak…?” dan ternyata 90 persen pelaku ugal2lan gak punys SIM…. dah gak punya SIM… salah… marah dan gotot pula lagi… itulah realita sekarang ini….

  10. 3 November 2011 14:39

    Sama ironisnya dengan pajak yang semangkin meningkat….
    Bekasi dah mulai pajak progresif…glodaghh..

    kalo dipikir2, penyelenggara negeri ini mirip ma preman…. bisanya cuma majakin orang.
    Kalo preman majakin orang lewat, orang jualan, lha kalo pemerintah majakin rakyatnya.
    ckckckckck.

    Memang sudah garisnya negeri ini dipimpin preman/jawara
    kalo dirunut dari jaman dulu, siapa Raja majapahit ?? tak lain dan tak bukan adalah seorang jawara yang sakti mandra guna, atau kata lain…. ya preman tadi, sukanya mungutin pajak ke rakyatnya. Begitu pula dengan patih, tumenggung deelel..

    lha sekarang, kita juga digali dan digali untuk memperbanyak bayar pajak, oleh “preman”, sedangkan sumber daya alam diangkut ke LN dengan dalih gak bisa mengolah

    sori mbah…. nggladrah…hehe

    • 3 November 2011 19:19

      hahahahaha…mantabs sudut pandangnya mas bro, trims yah.

  11. arsenal permalink
    4 November 2011 12:45

    kebetulan saya simnya dari daerah eyang.

  12. ian egx permalink
    6 November 2011 03:09

    hehe… dulu sempet mau bikin SIM, gara-gara kurang tidur pas test baca eh salah liat padahal tinggal satu huruf terakhir dan saya mau revisi ditolak. malah disuruh periksa mata, karena saya yakin mata saya alhamdulillah masih sehat wal’afiat lantas saya coba check ke dokter mata dan hasil nya 100% Normal. Saat itu saya kesel sama yang namanya bikin SIM, tapi akhirnya saya bikin juga sih krn gak mau bikin polisi gendut terus, baru kemaren jadi wekekeke…

  13. 17 November 2011 01:10

    Semuanya tergantung aparat penegak hukum ( POLISI ), sebaiknya lakukan razia setiap hari agar kejadian pengendara yang tidak mempunyai SIM bisa diminimalisir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: