Lanjut ke konten

Butet dan Kadal Makan Negara

1 November 2011

MASIH ingat Butet Kertaradjasa? Tokoh yang kerap meniru suara Pak Harto? Belum ngeh juga? Coba ingat-ingat soal bintang iklan sepeda motor Honda tahun 2007.
Ini kalimat yang disampaikan Butet dalam iklan Honda Supra Fit di televisi.

“Honda memang mengerti saya, di zaman serba hemat, disaat BBM terusss naik, Honda memberikan solusi yang hebat. Supra Fit, motor yang sesuai selera saya. Ngerti situasi dan kondisi saat ini. Harganya, pas buat saya.
Pakai Supra Fit bebas dari masalah, semua jadi mudah. Terimakasih Honda.
Iklan itu dibuka dan ditutup lagu band Zamrud, terimakasihhh….”

Sudah ingat? Yah. Sosok seniman kritis asal Jogjakarta itu, memang punya talenta khas. Karya-karya seninya tajam dan menggelitik. Coba saja tengok ‘Sentilan Sentilun’ di Metro TV.
Bagi saya, pelakon ini mengemas kritik dalam canda yang menyegarkan. Ulasan soal perilaku politikus maupun sepak terjang pemerintah yang korup, digelontorkan dalam candaan yang menghibur. Entah bagi koruptor yang disindir.
Nah, Butet bahkan menuangkan sesuatu yang lebih dalam ‘Kadal Nguntal Negoro’. Kenapa dahsyat? Di pagelaran teatrikal itu dikupas habis soal perilaku koruptor. “Korupsi siji, korupsi kabeh,” kata Butet saat membuka teatrikal, di Bentara Budaya Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10/2011) malam.

Alur cerita yang mengisahkan seorang koruptor minta ditahan karena korupsi itu, cukup apik. Tentu saja digarap dengan jenaka. Apalagi dijahit dengan lagu-lagu satir oleh Djaduk. Merdunya alunan musik Sinten Remen membuat panggung kian semarak.
Di antara padatnya kupasan soal korupsi, terselip juga pesan-pesan yang terkait keselamatan jalan. Khususnya, soal kemacetan lalu lintas jalan Jakarta dan perilaku korup pilisi di jalan.
“Maaf acara ini terlambat dibuka karena menunggu penonton yang terlambat datang karena kemacetan lalu lintas. Kita juga mesti ngasih penghargaan atas prestasi gubernur Jakarta yang sudah bikin taman parkir terbesarn,” ujar Butet dengan gaya khasnya.
Di bagian lain, dikisahkan seorang pesepeda yang diperas karena dituduh salah parkir. Dua polisi meminta sejumlah uang kepada sang pemilik sepeda. “Kamu salah parkir, ayo bayar,” kata pelakon yang memakai seragam. Saat itu, setting-nya adalah petugas kepolisian Afrika Selatan.

Sontak sang pemilik sepeda protes. Pasalnya, saat dia parkir, rambunya menunjukan boleh parkir. Tapi oleh sang polisi, rambu tadi diubah. “Wah, rambu apaan ini?” Sergah sang pemilik sepeda yang akhirnya harus membayar sejumlah uang.
Sentilan soal lalu lintas juga mencuat soal gubernur yang memakai pengawalan untuk membuka jalan. “Saya gak usah pakai pengawalan, nanti malah bikin macet. Wong gak ada saya aja jalanan sudah macet,” ujar sang Gubernur Afrika Selatan yang diperankan Sulistyo.
Adegan itu parodi perilaku pejabat yang memakai kawalan voorijder yang justeru menimbulkan antrean panjang. Apalagi di Jakarta yang lalu lintas jalannya sangat padat. “Selama transportasi publik belum nyaman, warga banyak memakai kendaraan pribadi yang bikin macet,” kata Agus Pambagio, pengamat kebijakan publik, saat berbincang dengan saya di selan menyaksikan Kadal Nguntal Negoro, Sabtu.
Kisah Kadal Guntal Negoro atau Kadal Makan Negara digelar dua hari, 28-29 Oktober 2011 di TIM. Dalam alur cerita yang berlangsung sekitar 180 menit, nyaris seluruh penonton dikocok perutnya. Seorang wanita muda yang duduk persis di belakang saya bahkan tak henti-hentinya tertawa. Suaranya melengking, bikin saya juga tersenyum.
(edo rusyanto)

13 Komentar leave one →
  1. 1 November 2011 09:59

    Okrex

  2. 1 November 2011 10:33

    hiburan buat para koruptor…
    kalo pada nonton, dalam hati paling bulang “wah, nyindir nih”
    tapi ya udah, korupsi jalan terus…
    mumpung jadi pejabat..

  3. tyonugra permalink
    1 November 2011 10:53

    ngga nonton sih…tp kyanya rame, sentilan sentilun aj saya suka

  4. 1 November 2011 12:43

    keren neh.. moga bisa road show ke seluruh kota..

  5. bybre aka brembo permalink
    1 November 2011 14:12

    maaf oot..
    Mbah edo.
    Saya baru saja kena razia di pasar minggu karena saya menggunakan head lamp warna putih/halogen.
    Apakah itu termasuk pelanggaran berat?
    Saya terima ditilang dengan form merah (sidang), dan ga mau jalan ‘damai'(suap).

    Alasan saya merubah menjadi halogen karena mata saya sudah minus, dan saya pulang kerja tengah malam (jam 2 malam).
    Karena lampu bawaan motor saya kurang terang, saya rubah jadi halogen.

    Mohon penjelasan mbah edo..
    Thx.

  6. 1 November 2011 18:39

    disiarin gak ya?

  7. 1 November 2011 20:50

    Saya sangat prihatin dengan fenomena siswa SMP yang semakin banyak bawa motor ke sekolah. Kalau hanya menyalahkan masalah angkutan umum sepertinya tidak terlalau benar karena jarak mereka ke sekolah rata-rata masih terjangkau dengan sepeda angin. Polisi pun seakan sudah tak peduli lagi dengan kondisi ini. Karena itu perlu upaya dari semua pihak untuk mencari solusi yang tepat. Karena kalau semakin dibiarkan, disamping menambah keruwetan jalan juga sangat rawan kecelakaan. Orang tua jangan memberi toleransi kepada anak bawa motor ke sekolah. Polisi tegas melakukan tilang. Sekolah menindak siswanya yang bawa motor, karena pada prinsipnya mereka telah melanggar aturan berlalu lintas. Yang terakhir pemerintah/kepolisian menaikkan persyaratan usia untuk bisa mendapatkan SIM, menjadi 17 tahun. Dari sini akan jelas tidak mungkin seorang pelajar SMP bahkan kelas 1 atau 2 SMA sudah memiliki SIM. Jadi jelaslah bagi polisi yang bertugas di jalan bisa langsung tangkap/tilang kalau melihat siswa berseragam SMP naik motor di jalan raya.

  8. 2 November 2011 12:14

    ga ngajak2.. huh

    • 2 November 2011 12:23

      ente super sibuk sih, ane sih ‘biasa-biasa’ aja, hehehehe….

  9. 2 November 2011 12:26

    Kapan ya Butet bikin teater di Jogja? 😀
    Saya pengen liat.
    Btw, itu di Youtube ada ga ya mas?

  10. 2 November 2011 12:37

    @aanhamzah: maksudnya di siaran televisi mas bro? rasanya gak ada yah? entah kalau nanti.

    @u2-harmony: rasanya saya belum menemukan mas bro. salam

  11. tyas permalink
    28 Juni 2014 07:25

    Dulu saya agak tertarik dg keunikan seorang butet. Tp makin ke sini makin muak. Terutama semakin masuk dagelan politik yg bukan domainnya. Terkesan nyinyir dan menggiring opini publik tentang obyek dagelannya yg tdk lucu. Satu kalimat dari saya buat butet: ‘otak asing, tampang lokal’. So…. hati2 dg devide et impera kreasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: