Lanjut ke konten

Saya Ketergantungan Ponsel

31 Oktober 2011

Saya keranjingan telepon seluler (ponsel). Sehari tanpa ponsel terasa menyiksa. Hidup terasa ada yang kurang.
Ponsel cerdas (smart phone) memenuhi kebutuhan saya untuk berkomunikasi. Ponsel juga menyokong pekerjaan saya sehari-hari. Termasuk membantu hobi menulis di dunia maya.
Mulai matahari terbit hingga tenggelam di ufuk barat, ponsel menemani aktifitas saya. Ada kalanya ponsel membantu menyelamatkan tugas-tugas penting dari kantor. Kalau untuk urusan berkomunikasi dengan keluarga tercinta sih sudah gak usah diomongin. Ponsel merekatkan komunikasi dengan keluarga.
Soal urusan ngeblog atau menulis di dunia maya, saya juga amat terbantu oleh ponsel. Cukup mengetik apa yang dirasakan, lalu kirim via surat elektronik (surel), blog sudah terisi. Termasuk untuk memotret dan menayangkannya di blog.

Saking ketergantungannya pada ponsel, saat makan, saat kongkow, bahkan saat di ruang pribadi, ponsel menempel di tangan. Pernah bahkan saat berkendara, saya memanfaatkan ponsel di tengah antrean kemacetan lalu lintas jalan. Hingga suatu ketika saya menyaksikan adegan itu.
Seorang pemotor terperosok saking asyiknya berbincang dengan lawan bicara lewat ponsel. Dia tak memperhatikan ada gundukan tanah. Ponsel yang diselipkan di helm open face-nya merusak konsentrasi. Kabar baiknya, dia tak cedera parah, hanya lecet-lecet. Ada raut trauma di wajahnya. Jangan dia, saya saja yang menyaksikan hal itu cukup terkaget-kaget.
Belakangan, banyak lagi kisah yang saya baca di berbagai berita. Kecelakaan dipicu oleh sang pengendara yang asyik berponsel.

Bahkan, data kepolisian daerah (Polda) Metro Jaya menyebutkan, tren ponsel sebagai pemicu kecelakaan melejit pada 2010. Angkanya tidak tanggung-tanggung naik 1.200% lebih. Walau, kontribusinya baru sekitar 1,67%. (lihat tabel)

Data-data itu membuat saya mulai bisa memahami kenapa Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) melarang penggunaan ponsel saat berkendara. Ada sanksi pidana maksimal penjara tiga bulan, atau sanksi denda maksimal Rp 750 ribu.
Saya meyakini, aktifitas berponsel saat berkendara bisa merusak konsentrasi. Terlebih bila substansi pesan bisa mengecoh perasaan dan mengaduk-ngaduk emosi. Praktis ujungnya bisa mengganggu konsentrasi dan membuka celah kecelakaan lebih lebar lagi. Itu pendapat saya. (edo rusyanto)

10 Komentar leave one →
  1. ian egx permalink
    31 Oktober 2011 02:28

    Saya prihatin sekali bro Edo dengan keadaan masyarakat sekarang ini, menyepelekan hal kecil untuk menciptakan resiko yang besar untuk dirinya dan orang lain.

    Berkendara sambil menelepon sama halnya dengan berkendara dalam keadaan mabuk, karena menurunkan beberapa persen tingkat konsentrasi saat mengemudi motor/mobil.

    Penggunaan handsfree / audio system phone receiver di mobil sama sekali tidak mengurangi resiko kecelakaan, karena kembali lagi … konsentrasi yang berkurang.

    Tidak ada alasan yang dapat diterima ketika kita berkendara menggunakan telepon walau dalam keadaan genting sekalipun karena kecelakaan menanti kapan saja.

    Salam safety riding bro ūüėČ

    • 31 Oktober 2011 08:53

      fasilitas spt itu mungkin lebih afdol dimanfaatkan ketika sedang tidak berkendara yah bro. btw, trims sharing-nya yah. salam

  2. uungferi permalink
    31 Oktober 2011 07:39

    ane turut prihatin mbah edo,….

    • 31 Oktober 2011 10:52

      gak bantuin ngambil hp-nya mas bro? sekalian kenalan, hehehehe

  3. dany :) permalink
    31 Oktober 2011 10:46

    Wah…hampir tiap hari saya melihat yg begituan pak edo…rata2 abg…anak msh sekolah..

    • 31 Oktober 2011 10:49

      smoga lain kali mereka tidak seperti itu lagi, amin.

  4. Datuk permalink
    31 Oktober 2011 22:19

    pemandangan yang sangat mengganggu dan bisa berdampak buruk, tidak hanya bagi diri mereka sendiri tapi juga bagi pengguna jalan yang lain.
    berkendara sambil komunikasi, by phone atau by sms, sangatlah beresiko.
    ketika merasa sms atau panggilan telepon perlu dilakukan saat sedang mengendara maka lebih bijak untuk menepi untuk berhenti sejenak jika keadaan memungkinkan, jika tidak maka lebih baik abaikan saja dulu. sebuah kepentingan mungkin bisa ditolerir, tapi keselamatan dan nyawa bukanlah sesuatu yang layak untuk dipertaruhkan dengan sebuah tindakan beresiko seperti telpon2 atau sms sambil berkendara.
    saya juga ketergantungan benda bernama ponsel, benda itu saya jadikan bagian dari upaya untuk menjalani hidup ini secara lebih mudah dan nyaman, tapi bukan untuk menjadikan masalah dikemudian hari.
    naas mungkin merupakan sebuah takdir, dan takdir bisa dirubah dengan sebuah upaya, upaya atau usaha wajib hukumnya bagi kita yang menginginkan sesuatu.

    semoga komentar saya ini bisa dibaca oleh mereka yang sering saya lihat mengetik sms dan telpon2 sambil berkendara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: