Lanjut ke konten

Sang Anak di Tengah Hujan

28 Oktober 2011
tags:

HUJAN deras mengguyur bumi. Saya beruntung sudah menepi di halte bus. Puluhan bahkan ratusan pemotor terpaksa menikmati guyuran air dari langit. Sebagian mencari tempat berteduh, agak langka di jalan Kuningan, Jakarta Selatan.
Di halte tempat saya berteduh pun kian bertambah pemotor yang singgah. Satu, dua, tiga, dan seterusnya. Kami berdiri berhimpitan. Percikan air menerpa wajah. Maklum derasnya hujan siang itu sedang puncak-puncaknya. Wah, janjian bertemu di Grand Hyatt, Jakarta Pusat pun terpaksa diundur satu jam.
Pemotor yang berteduh beragam. Pria, wanita, tua, muda, dan…anak-anak. Mereka mengisi waktu berteduh dengan beragam cara. Ada yang bersenda gurau. Ada yang sibuk menelepon. Ada yang melamun. Saya pilih mengamati sekeliling.
Perhatian saya jatuh kepada dua wanita dan satu anak-anak yang saya taksir berusia 5-7 tahun. Wanita yang pertama kemungkinan ibu dari sang anak, sedangkan wanita kedua tampaknya kerabat sang ibu. Ketiganya basah kuyup. Tidak memakai jas hujan. ”Saya gak nyangka bakal hujan deras, tadi kehujanan dari Mampang,” kata sang ibu.
Sang anak tampak kedinginan. Sang ibu memberinya air minum.
Tak berapa lama, tiba lagi pemotor lainnya. Hujan masih deras. Pemotor kali ini terdiri atas empat orang. Dua anak-anak dan dua pria dan wanita dewasa. Tampaknya mereka satu keluarga. Sang bapak memakai jas hujan, sedangkan sang ibu memakai jaket biasa. Bagaimana dengan anak-anak itu? Anak wanita yang saya taksir usia 9-11 tahun memakai jaket biasa. Tapi sikecil yang saya taksir berusia 3-5 tahun, kuyup tanpa memakai jaket atau jas hujan. Dia tampak sangat kedinginan.
Saya bergeser memberi tempat sikecil tadi duduk dibangku halte. Lumayan untuk menghangatkan diri di antara para pria dewasa yang berdiri disekelilingnya. Saya membuka pembicaraan dengan sang bapak.

”Mau kemana pak?” Tanya saya.
”Ke Pasar Baru,” jawabnya singkat.
”Kehujanan di mana?”
”Tadi dekat kedubes Malaysia.”
”Anaknya gak dikasih jaket atau jas hujan?”
”Jas hujan Cuma satu, jaketnya gak dibawa, nanti dipakein jaket kakaknya,” kata sang bapak sambil menyalakan rokok kretek. Asapnya mengepul kemana-mana.

Terbayang dibenak saya, sang bocah kecil bakal menggigil jika naik motor tanpa jaket. Kaosnya yang basah bakal membuatnya tersiksa oleh dingin terpaan angin. Dan, saya tak habis pikir, kenapa harus berempat memaksakan diri naik sepeda motor di tengah hujan deras.
Pertanyaan-pertanyaan di benak saya itu coba dijawab oleh hati dan pikiran saya sendiri. Mungkin mereka terpaksa karena naik angkutan umum biayanya lebih mahal. Mungkin mereka terpaksa berhujan-hujanan karena belum ketemu tempat berteduh yang layak. Mungkin mereka belum sempat membeli jas hujan. Mungkin….sang bapak belum memahami risiko tinggi jika mengendarai motor membawa dua anak plus satu penumpang dewasa, apalagi di tengah hujan deras. Atau, sang bapak terpaksa memikul risiko karena kondisi yang tidak ada pilihan.
Hujan mulai agak reda. Lamunan saya buyar. Sang bapak tadi pun beringsut. Sikecil dikasih jaket milik kakanya. Sikecil duduk di depan, lalu sang bapak, anak wanitanya, dan wanita dewasa. Gerimis menerpa wajah sikecil. Mereka menerobos Jakarta setelah diguyur hujan dengan tubuh basah.
Peristiwa itu amat membekas di benak saya walau sudah terjadi beberapa waktu lalu. Saya teringat kembali karena dua hari belakangan Jakarta kembali diguyur hujan lebat. Bahkan, sebagian wilayah dibarengi dengan tiupan angin kencang yang membuat pohon tumbang. (edo rusyanto)

16 Komentar leave one →
  1. DNA permalink
    28 Oktober 2011 01:22

    1(satu)

  2. DNA permalink
    28 Oktober 2011 01:26

    kasian bnget tu siank kecilny yg diajk hujn2,air hujn kn gk baek bwt tubuh pd anak usia 3-5 thun,mzh rwan kna pnykit…

  3. 28 Oktober 2011 06:14

    pertamax…………………..

  4. 28 Oktober 2011 06:22

    Satu yg saya paling gak suka,kelakuan biker dikala hujan berteduh dibawah fly over…….
    Terus berhenti sampai memakan badan jalan dan hanya menyisakan satu jalur,hingga menimbulkan kemacetan.
    Kadang saya yg profesi sebagai driver jadi terganggu,makanya buat bikers selalu srdia jas hujanlah……………….INGA’ INGA’ musim hujan telah tiba……………………..

  5. ken167 permalink
    28 Oktober 2011 08:30

    nais artikel…

  6. Tukang Ngibul permalink
    28 Oktober 2011 10:55

    saya juga ga suka sama driver bodoh…yg msh memaksakan mobilnya nyelip2 ga karuan, shg menutupi jalan motor…

  7. TDF permalink
    28 Oktober 2011 14:12

    kasian si anaknya…..mbok ya di belikan jaket+mantel kan harga lebih murah dari motor si bapak.

    • 28 Oktober 2011 14:16

      betul banget bro, mesti diberi perlindungan yg maksimal. trims

  8. golput4ever permalink
    28 Oktober 2011 18:05

    Yach begitulah menjadi orang kecil. Tetapi nerwka tangguh menghadapi segala badai

    • edo permalink*
      29 Oktober 2011 15:05

      mereka tangguh karena terlatih, smoga kita juga melatih kesadaran pentingnya keselamatan jalan. amin

  9. tyonugra permalink
    29 Oktober 2011 17:20

    motor memang msih menjadi andalan masyarakat indo dlm menjalan aktivitasny sehari-hari, entah itu ketempat kerja, jalan2, bhkan mudik……msih menunggu kebijakan atau regulasi pemerintah mengenai tranportasi yg murah aman dan nyaman…..atau mungkin mobil nasional yg murah ????

  10. 5 November 2011 10:36

    Daripada diajak hujan2an mending diajak milih model baju muslim anak bareng 🙂

Trackbacks

  1. Jaket Sweater untuk Pria dan Wanita | Toko Online Terbesar & Terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: