Lanjut ke konten

Kramatjati Lima Tahun Lalu

10 Oktober 2011

BANYAK sudut Jakarta yang belum saya kenal dengan baik. Dari sedikit yang saya tahu, Kramatjati merupakan wilayah yang cukup mengesankan. Paling nggak, sudah lebih dari 10 tahun saya wara-wiri di kawasan tersebut.
Ya. Persisnya di sekitar Pasar Kramatjati hingga Cililitan, Jakarta Timur. Ruas jalan tersebut menjadi urat nadi masuknya para urban dari satelit Jakarta. Tak ayal, pada jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari, lalu lintas jalannya super padat. Maklum, di ruas tersebut juga bertengger pasar tradisional dan pasar modern. Penumpukan kendaraan tak terhindarkan.
Kramatjati menjadi urat nadi perdagangan hasil bumi, khususnya buah-buahan dan sayur mayur di seluruh negeri. Pasar Induk Kramat Jati terletak persis dirute Trans Jakarta. Praktis, moda transportasi yang aman, nyaman, selamat, dan terjangkau itu, mampu mendorong roda ekonomi. Khususnya, para petani sayur dan buah serta para pedagang lainnya yang membeli dari Pasar Induk.

Seingat saya, mulai tahun 2006, pemerintah daerah DKI Jakarta membangun jalur Trans Jakarta atau busway. Proyek moda transportasi massal umum modern itu pun memakan ruas jalan yang hanya dua lajur. Bahkan, di masa awalnya, sempat dibuat separator antara Pasar Induk Kramatjati hingga Pasar Hek. Walau, kini separator tersebut tinggal kenangan. Maklum, jalur umumnya tinggal satu, sedangkan kita tahu, kendaraan non-Trans Jakarta dilarang melintas di busway.
Kini, pada 2011, Trans Jakarta sudah wara-wiri di Kramatjati. Berbaur dengan kendaraan lainnya. Sekalipun ada garis putih dan kuning menyambung di dekat halte Trans Jakarta, fungsinya tidak mampu seperti separator. Walau, kita juga sering lihat separator takluk oleh perilaku ugal-ugalan. Separator dilibas oleh pengguna jalan yang tidak sabaran. Tak sedikit yang jadi korban akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Kramatjati punya cerita lain. Separator terpaksa dibongkar karena ruas jalan hanya tinggal satu lajur ketika harus dimakan oleh busway. Kini, di wilayah Kramatjati yang dibelah Jl Raya Bogor hingga ke Cililitan, Trans Jakarta pun berbaur dengan kendaraan lain. Berbagi ruas jalan. (edo rusyanto)

12 Komentar leave one →
  1. nick69 permalink
    10 Oktober 2011 00:40

    Terlihat sumpek sekarang

  2. 10 Oktober 2011 00:45

    tambah sumpek sekarang..

  3. 10 Oktober 2011 00:50

    @nick69 dan #99 bro: benar banget, kian banyak populasi manusia dan kendaraan nya. trims yah

  4. agus jati permalink
    10 Oktober 2011 01:05

    Mantabsss…. Om Edo sampai membahas kramat jati juga…
    Coba dibahas sisi malam yg ada di jalur tersebut. Dari pedagang sayurnya, tukang cucurnya dan tukang ikan yg suka buat macet jalanan ketika bongkar muat barang dipinggir jalan….

    • 10 Oktober 2011 01:11

      belum sempat motret di malam hari bro, memang lebih dinamis yah. trims masukannya. salam

  5. agus jati permalink
    10 Oktober 2011 01:31

    Kramat jati dimalam hari diatas jam 23.00 terlihat seperti bukan jalan raya. Banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm, melawan arus, parkir sepeda motornya seenaknya di pinggir jalan dan angkot yg seenaknya berhenti sehingga membuat arus lalu lintas jd macet…

    Pokoknya Sesuatu Banget deh… Hehhehe….

  6. anggiwirza permalink
    10 Oktober 2011 02:31

    sebelum ada halte dan busway, semuanya kelihatan lega..

    begitu udah kebangun jadi sumpek..

    begitu nambah populasi jadi gak nyaman lagi. tambah lagi kalo siang hari di depan kramat jati indah bau amis gara-gara penjual ikan dan ayam ataupun seafood jadi bener2 gak nyaman 😦

  7. redbullrider permalink
    10 Oktober 2011 08:31

    banyak hak yg di”rampok” di kramat jati,
    1. pedagang yg makan trotoar plus bahu jalan, bikin pejalan kaki & pengendara musti geser agak ke tengah, belum lagi bau dagangannya..
    2. angkot yg ngetem sak udele dewe, seolah-olah tuli thd klakson..
    3. ‘pak ogah’ yg selalu mendahulukan kendaraan yg mau masuk carefour kramat jati..
    4. dan pak polisi pun cuma terdiam melihat itu semua, ga mampu menertibkan…

    tapi hampir di semua pasar kondisinya spt itu….cuma di kramat jati lebih parah krn pasarnya lebih panjang…

  8. Tukang Ngibul permalink
    10 Oktober 2011 10:13

    punya pengalaman kurang enak disitu…ketika jln di pinggir trotoar terpleset dan jatuh duduk di genangan air…pas di cium…ampuuun…bau bangaaat…ternyata bekas air ikan, kerang dsb yg udah lama ngga kering2…pokoknya bau baaangat dahh…

  9. Yamaniac permalink
    10 Oktober 2011 10:17

    saya lebih memilih jalur dalem Pak..cililitan-Intirub-kp Makasar-tamini square…jalurnya lebih motorsiawi..hehehe

    • 10 Oktober 2011 10:27

      jalur itu sesekali juga saya lewati, cukup padat yah di pagi hari? trims sharingnya mas bro. salam

  10. 10 Oktober 2011 12:42

    Dari tahun 90-an akhir, Pasar Kramat Jati sudah macet.
    Dulu saya sering lewat sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: