Lanjut ke konten

Menanti Transportasi Umum Yang Nyaman

5 September 2011

Wajah Jakarta sesak dengan kendaraan. Hampir di seluruh sudut jalan terlihat kendaraan pribadi berlalu lalang. Kebutuhan mobilitas warga masih mengandalkan kendaraan pribadi. Kemana angkutan atau transportasi umum?
Pemerintah dan para pengusaha angkutan sudah menyediakan angkutan umum. Tapi dianggap belum memadai melayani kebutuhan warga yang mencapai sekitar 9,5 juta jiwa. Dinas Perhubungan DKI Jakarta pernah merilis bahwa angka perjalanan di Jakarta sebanyak 20 juta kali per hari. Idealnya tentu dilayani oleh angkutan yang terintegrasi. Apalagi, Jakarta juga diserbu warga di sekitarnya yang hendak mencari rezeki, menuntut ilmu, atau sekadar beranjang sosial.
Jakarta punya beragam angkutan umum. Ada yang bersifat massal, seperti bus besar dan sedang, hingga kereta api serta bus air. Ada pula yang berdaya angkut kecil seperti ojek sepeda motor, bajaj, hingga taksi. Angkutan bermuatan sedang lebih banyak lagi yakni angkutan kota (angkot).

Sejak tahun 2004, Jakarta punya moda transportasi massal umum yang cukup nyaman, yakni Trans Jakarta. Nyaman karena bus yang dipakai dilengkapi dengan pendingin udara dan memakai jalur khusus (busway) sehingga lebih lancar. Angkutan umum yang kini bertarif Rp 3.500 per orang itu, juga ditopang oleh manajemen pengoperasian yang lebih profesional. Salah satunya, memberikan sistem penggajian kepada para pengemudinya.
Sayangnya, hingga kini, angkutan tersebut baru memiliki trayek tak lebih dari 10 koridor. Di sisi lain, jumlah armada busnya pun kurang dari 1.000 unit. Praktis belum maksimal melayani warga Jakarta. Terlebih, angkutan pengumpannya juga belum maksimal dan sistem parkir untuk kendaraan calon penumpang di setiap terminal Trans Jakarta belum memadai. Tak heran jika mayoritas warga masih memilih kendaraan pribadi.

Lantas, transportasi seperti apa yang diidamkan masyarakat? Secara sederhana harapan konsumen adalah transportasi massal umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Soal keterjangkauan ini mencakup aspek finansial dan akses. Termasuk, jam pengoperasiannya yang lebih panjang, yakni hingga tengah malam. Jika perlu, 24 jam.
Saat ini, yang nyaris memenuhi hal di atas adalah Trans Jakarta. Tentu moda transportasi lain juga bisa dikembangkan, misalnya kereta api komuter. Bakal lebih afdol lagi jika moda yang ada bisa diintegrasikan. Semua moda saling berhubungan.
Semua harapan konsumen di bidang transportasi tergantung kepada kemauan dan implementasi dari kebijakan pemeritah daerah (Pemda) DKI Jakarta. Saat ini, pemangku kepentingan sekaligus pemegang kunci penciptaan transportasi jalan yang nyaman ada di tangan pemda. Pemerintah pusat lebih sebatas pembuat sistem transportasi nasional. Sekalipun terkait, pemerintah pusat hanya pada proyek-proyek khusus seperti MRT.
Sinergi di kalangan unsur-unsur pemda juga amat menentukan perwujudan sistem transportasi jalan. Selain tentunya dengan pemerintah pusat, aparat penegak hukum, dan kalangan dunia usaha. Semua mesti punya satu orientasi, yakni melayani kepentingan masyarakat. Semakin tepat waktu mobilitas masyarakat juga bakal menopang produktifitas dunia usaha dan pelayanan publik di instansi-instansi pemerintah. Produktifitas tadi tentu berekor pada mulusnya roda ekonomi nasional.

Sebaliknya, transportasi massal umum yang tak nyaman, memaksa masyarakat bertahan hidup dengan mencari alternatif sendiri. Kini, pilihan yang rasional jatuh pada sepeda motor. Selain harganya terjangkau, biaya pengoperasian dan efektifitasnya cenderung lebih efisien. Tak heran jika saat ini ada sekitar sembilan juta motor di Jakarta. Walau, disisi lain, potensi memicu kecelakaan juga masih menganga lebar. Sekadar mengingatkan, Jakarta harus kehilangan warga rata-rata tiga orang per hari akibat kecelakaan. (edo rusyanto)

14 Komentar leave one →
  1. 4201journey permalink
    5 September 2011 09:19

    dulu ane angkoter… Cuma karena banyak tukang ngamen n tukang palak,copet, ane beralih k motor n sepeda…

  2. 5 September 2011 09:31

    Seperti orang mau berbuat baik diperlukan contoh atau teladan para pemimpin atau panutannya. Para pemimpin tidak berani menjadi pioner bertransportasi massal. Mereka ingin orang melakukan apa yg tdk mrk lakukan.mindset tentang alat transportasi sbg gengsi yg mrk pertontonkan.

    • assassin permalink
      5 September 2011 09:56

      hahahahaha….wajah indonesia kita yah bung…..

  3. cah ndeso permalink
    5 September 2011 09:56

    Sayangnya naik angkutan umum sangat buang2 waktu… Dgn spd mtr waktu tempuh jauh lbh cpt walaupun sama2 kena macet….

    • assassin permalink
      5 September 2011 09:58

      tandanya belom bisa mengatasi problem……….

    • 5 September 2011 10:13

      PR buat penyelenggara angkutan massal umum agar bisa lebih aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau.

  4. 5 September 2011 11:09

    Rasanya agak susah utk mewujudkan transportasi yg nyaman. Semua lini dipemerintahan kita hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan dan tdk pernah memikirkan kepentingan masyarakat. Semestinya transportasi umum jg hrs jg dibarengi dgn sarana & pra sarana jalan yg memadai pula.

  5. 5 September 2011 11:12

    Menurut saya “Sampai kiamat pun Indonesia tidak akan bakal pernah punya transportasi yang nyaman” selama para ATPM masih campur tangan dan ikut bermain dalam kebijaksanaan moda angkutan massal.

    Dishub hanya menambal angkot2 yang notabene sangat menguntungkan ATPM Indomobil, Krama Yudha dan Astra Group.
    Bila ada angkutan massal yang nyaman macam : monorail, subway atau MRT ataupun Bus Kota seperti di luar negri sono, berapa omzet ATPM yang berkurang untuk penjualan mobil pick-up macam Suzuki Carry, Mitsubishi T-120SS, Daihatsu Grand Max, Colt L-300 dan lain2, Efeknya sangat terasa, yaitu menambah ruwet dan macetnya lalu lintas.

    Persoalan tenaga kerja dan mata pencaharian, harusnya pemerintah lebih memperluas lapangan kerja dengan tidak mempersulit pembangunan dan investasi dari dalam maupun luar negri. Masak negri jiran aja bisa kita kagak bisa.

  6. 5 September 2011 11:16

    @kiwil: mungkin susah, tapi kalau semua stakeholder berkemauan keras, rasanya susah bukan berarti gak bisa. bgm?

    @kakangali: sebuah sudut pandang yg menarik, trims sharingnya bro. salam.

    • 5 September 2011 11:53

      Tapi itu butuh keseriusan dari semua pihak terkait, masalahnya tdk ada indikasi keseriusan dari pihak terkait utk benar2 membantu mewujudkan hal tsb mbah.

      • 5 September 2011 11:59

        Yuk dorong terus pemerintah agar lebih serius dan sinergis dalam program transportasi.

    • 5 September 2011 12:58

      Coba aja Kang Edo telusurin dan survey di semua kota besar, pasti akan tahu peranan ATPM melalui Main Dealer masing2 untuk garap pasar angkot. 😀

  7. 8 September 2011 23:24

    saya asli Makassar dan pernah berada di Jakarta selama beberapa hari. Rasanya, keadaan disana tidak beda jauh dengan disini (Makassar). Macet merupakan pemandangan sehari-hari yang bukan lagi menjadi hal aneh. Entah apa yang salah, tapi hal ini harus segera diatasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: