Lanjut ke konten

Wusshhh….Jaga Kecepatan

1 September 2011

Sebuah spanduk warna putih membentang di sisi kiri jalan dari arah Bandung menuju ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Penampilannya menjadi berbeda dibandingkan puluhan spanduk aneka warna yang ditebarkan para produsen. Maklum suasana mudik Lebaran Idul Fitri 2011.
Spanduk bertulis huruf besar ‘Jaga Kecepatan.’ Di bawah kiri tertulis PT Jasa Raharja dan di bawah kanan terpampang logo kepolisian RI. Tampaknya sebuah imbauan bagi para pengguna jalan.
Tunggu dulu, tak jauh dari spanduk itu juga berdiri sebuah papan peringatan. ‘Kurangi Kecepatan Anda…!!!! Kecepatan Max 40 Kilometer/Jam.’ Di papan berwarna biru dan tulisan putih, di bagian bawahnty tertera kalimat, Satlantas Polres Bandung. Lagi, sebuah imbauan soal kecepatan.
Letak kedua peringatan tersebut berada di jalan menurun Nagrek, Bandung. Tentu saja, dari arah berlawanan kondisi jalan menanjak. Jika pengendara yang pernah lewat Nagrek tahu persis, turunan dan tanjakannya cukup panjang. Untuk yang menurun bisa terlena memacu kecepatan kendaraannya. Dalam kondisi arus mudik dan balik Lebaran, ruas jalan tersebut terkenal dengan kemacetan berjam-jam.
Nagrek menjadi favorit pengguna jalan jalur selatan, yakni rute dari Jawa Barat menuju Jawa Tengah dan seterusnya. Kepolisian dan instansi terkait selalu memberi porsi lebih perhatiannya saat suasana mudik. Lokasi ini termasuk rawan kecelakaan lalu lintas jalan.
Ya. Kecelakaan. Semua tahu tak bisa dihindarkan. Bisa kapan saja terjadi. Hal paling mungkin adalah mengurangi potensi dan fatalitasnya. Spanduk dan papan peringatan tadi mengajak pengguna jalan lebih waspada.
Kecepatan yang tak terkendali berpotensi besar memicu kecelakaan. Lantas, apa yang memicu kecepatan tak terkontrol?
Betul. Tergesa-gesa. Mengejar waktu agar tiba lebih awal di tempat tujuan. Atau, bisa tepat waktu akibat pergi lebih lambat dari jadwal semestinya.
Kedua hal tersebut amat mungkin terjadi. Apalagi ditambah konsentrasi pengemudi yang rendah akibat sakit, mengantuk, atau letih. Emosi tak stabil guna mencapai tempat tujuan lebih awal juga menjadi primadona pemicu kecelakaan.
Khusus saat mudik dan balik, patut diwaspadai adalah keinginan memacu kendaraan setelah melewati jebakan kemacetan panjang. Rasa jemu di tengah antrean seperti dahaga yang diobati seteguk air saat mendapat ruas jalan lengang. Nafsu memacu kecepatan sejadi-jadinya tentu amat menggoda.
Kalau sudah begini, apa pun jenis kendaraannya, bisa menjadi monster menyeramkan di jalan raya. Padahal, ada keluarga tercinta menanti di rumah. (edo rusyanto) https://edorusyanto.wordpress.com

5 Komentar leave one →
  1. Dismas permalink
    1 September 2011 09:26

    bisa jadi pada ngebut karena mau “melampiaskan” setelah bermacet – macet ria… :mrgreen:

  2. cah ndeso permalink
    1 September 2011 10:32

    Se7….. Kita harus kontrol emosi apalagi perjalanan jauh….

  3. Imortalorochimaru permalink
    1 September 2011 12:22

    Spidonya mati…. Mana tau lari barapa…. Spido mati kena tilang polkis gak om edo..?

  4. 2 September 2011 09:48

    brakkkkkkkkkkkk, bahaya,,..
    pake sabuk pengaman donk ( kalo aja motor ada )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: