Lanjut ke konten

Semua Punya Pilihan Masing-masing

19 Agustus 2011

JAGAT ini fana. Tak ada insan yang minta dilahirkan dalam kondisi tertentu. Proseslah yang kemudian membentuk kita menjadi sosok yang kini dilakoni. Tak ada kebenaran mutlak kecuali sang Maha Pencipta.
Pilihan ada di tangan kita. Tinggal bagaimana pertimbangan dan pengetahuan atas sesuatu yang dipilihnya. Sama ketika seseorang memutuskan untuk menulis. Tergantung minat dan pengetahuannya. Misal, saya suka menulis tentang suku bunga bank, sedangkan yang lainnya menulis tentang suku cadang otomotif.
Tak perlu memvonis pilihan orang lain lebih buruk dibandingkan kita. Tak perlu memaksa orang harus sama dengan kita. Bila memakai analogi kegemaran menulis di atas, anggap saja masing-masing saling melengkapi. Bisa saling berbagi pengetahuan. Paling tidak, masing-masing mendokumentasikan apa yang dilihat, dirasakan, dan diketahuinya. Titik.
Pada gilirannya, sebagai mahluk sosial, manusia memilih untuk berkelompok. Ada berbagai latar belakang. Mulai kesamaan hobi, pandangan hidup, kelas ekonomi, pendidikan, hingga mungkin selera musik.

Namun, di era interdependensi saat ini, mustahil satu kelompok dengan kelompok lainnya tak saling terkait. Independensi hanya sikap yang membedakan tiap kelompok tadi. Pilihannya tinggal dengan siapa akan beraliansi. Tak perlu munafik.
Singkirkan perilaku mau menang sendiri. Rasa paling benar sejagat, atau rasa paling steril di planet ini. Hal yang patut ditumbuh kembangkan, menurut saya loh, sejauh mana mampu berfaedah bagi kehidupan di sekitar kita. Coba singkirkan seonggok batu dari permukaan jalan, lebih berfaedah ketimbang memaki kenapa sih batu itu ada di permukaan jalan. Sudah buang energi, tidak menyelesaikan persoalan. Bisa-bisa batu tadi menimbulkan petaka. Orang terjerembab dan bisa-bisa luka di sekujur tubuhnya.

Dalam kehidupan ekonomi, ada sang produsen dan ada para konsumen. Bahkan, setiap produsen juga konsumen dari produk yang dibesut produsen lainnya. Masa sih produsen bumbu masakan tidak butuh produk shampo. Atau, produsen shampo tidak butuh produk penyedap rasa. Lagi-lagi membuktikan, tak ada manusia yang bisa hidup sendirian.
Roda berputar. Kadang diatas, di tengah, bahkan di bawah. Jangan lupa, semua ada hikmah di balik itu semua. Keberanian tanpa perhitungan, konyol. Pilihan berperilaku seperti apa ketika berkendara di jalan juga harus ada perhitungan. Apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang sekitar. Pemahaman akan risiko atas sebuah pilihan tentu bukan demi sebatas ego pribadi. Mementingkan diri sendiri atau egois, sudah barang usang. Apalagi mau menang sendiri, merasa paling pinter. Pertanyaan, sudah bermanfaatkah kita untuk orang di sekitar? (edo rusyanto)

18 Komentar leave one →
  1. 19 Agustus 2011 02:33

    mantebb.. Semua punya jalan sendiri sendiri

  2. 19 Agustus 2011 03:20

    SiP mbah

  3. ojek sport permalink
    19 Agustus 2011 04:28

    top markosip pak mbah

  4. binladeen permalink
    19 Agustus 2011 05:52

    Sebaik-baik kamu, yang lebih banyak memberi manfaat kepada sesama…. (Nabi Muhammad Saw)

  5. 19 Agustus 2011 06:11

    bentul bentul

  6. 19 Agustus 2011 06:16

    Ajip mantap ni artikelnya embah

  7. Independent permalink
    19 Agustus 2011 06:26

    Maap ya.. ini saya copas bagian yg paling saya suka dari tulisan diatas:

    1. Namun, di era interdependensi saat ini, mustahil satu kelompok dengan kelompok lainnya tak saling terkait. Independensi hanya sikap yang membedakan tiap kelompok tadi. Pilihannya tinggal dengan siapa akan beraliansi. Tak perlu munafik.

    2. Pemahaman akan risiko atas sebuah pilihan tentu bukan demi sebatas ego pribadi. Mementingkan diri sendiri atau egois, sudah barang usang. Apalagi mau menang sendiri, merasa paling pinter. Pertanyaan, sudah bermanfaatkah kita untuk orang di sekitar?

  8. 19 Agustus 2011 07:10

    artikelnya mantap mbah Edo di hari Jumat

    http://www.sejutaumat.com/2011/08/19/hikmah-ramadhan-bulan-penuh-latihan-ibadah/

  9. arsenal permalink
    19 Agustus 2011 08:02

    lakum d nunukum waliyadin.
    my way is my own.and your way is yours.

  10. 19 Agustus 2011 08:17

    Sejuk mbah ….

  11. lae togar anak medan permalink
    19 Agustus 2011 08:24

    hmmmmmmmm……

  12. 19 Agustus 2011 10:39

    Belajar dari Penggembala Kambing : “Lalu, di mana Alloh?”

    http://udiendkab.wordpress.com/2011/08/19/belajar-dari-penggembala-kambing-lalu-di-mana-alloh/

  13. mencoba mengatakan yg putih itu putih yg hitam itu hitam permalink
    19 Agustus 2011 12:54

    nyesssss

  14. 19 Agustus 2011 22:31

    Iki nulis opo?
    Ora mudeng.
    Sekian.

    :mrgreen:

  15. 19 Agustus 2011 22:56

    Cm nyimak kalimat terakhir..maknyuz
    hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: