Lanjut ke konten

Motor-motor Penjaga Makam

31 Juli 2011

MEREKA seakan tak pernah letih. Terik matahari menjadi teman. Walau, sesekali berlindung di balik rerimbunan daun pohon menghindar dari teriknya. Mereka menunggangi kuda besi berkeliling areal tempat pemakaman umum (TPU).

Sepeda motor menjadi alat untuk mengambil air dari sungai. Walau ada alat pemompa air untuk menyedot dari sungai, tetap saja, air-air itu harus diangkut dengan alat lain. Pilihannya adalah ember atau tong plastik. Ember-ember itu diikat di sepeda motor, dibawa ke makam yang dirawat. Air untuk menyiram rerumputan makam agar tetap subur, hijau, dan teduh dipandang mata.

”Airnya diambil dari sungai, dari sana kita angkut pakai motor,” ujar Warian, seorang penjaga makam di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, saat berbincang dengan saya, Sabtu (30/7/2011).
Warian dan ratusan pria lainnya adalah penjaga atau perawat makam. Mereka bukan karyawan pemerintah daerah (pemda). Mereka adalah warga sekitar yang mencari sesuap nasi dengan menawarkan jasa perawatan makam. ”Kadang saya juga diminta menggali makam,” kata dia.
Soal urusan tarif merawat makam, tergantung negosiasi keluarga yang makamnya hendak dijaga. ”Ada yang ngasih Rp 50 ribu per bulan saya terima,” kata pria beranak satu yang tinggal di dekat kawasan TPU.

Setiap orang penjaga makam tersebut memiliki jumlah ’klien’ yang berbeda-beda. Satu orang bisa menjaga belasan, puluhan, bahkan ada yang seratusan. ”Kalau saya menjaga 30 makam,” ujar pria yang sudah enam tahun menekuni pekerjaannya itu.

Ya. Para penjaga makam tersebut turut andil membuat areal TPU menjadi lebih sedap dipandang mata. Rumput-rumput menghijau dan makam menjadi bersih. Berbekal sepeda motor untuk mengangkut air yang dipakai untuk merawat makam. Ada yang memakai sepeda motor bebek, motor sport, bahkan ada yang memakai sepeda. (edo rusyanto)

18 Komentar leave one →
  1. kirun permalink
    31 Juli 2011 08:32

    Podium….

  2. Azhar Ramiz permalink
    31 Juli 2011 11:41

    wah, deket rumah saya tuh mas 😀

    • 31 Juli 2011 11:52

      tinggal di Pd Ranggon juga? saya hari sabtu nyekar kesana.

      • Azhar Ramiz permalink
        31 Juli 2011 12:08

        iya mas, tapi bukan di pd ranggonnya. saya di Kranggan (habis sungai, tanjakan belok kanan)
        deket kan? hehe

  3. 31 Juli 2011 17:07

    yg penting halal……………………………..

  4. rend permalink
    31 Juli 2011 21:54

    prihatin klo liat orang yg kaya gini,…… (merasa tdk dapat memberi)
    semoga saja dilancarkan semua urusannya,……..

  5. 5800_EM permalink
    1 Agustus 2011 03:55

    ^
    Amin Ya Alloh.
    Betul sekali,
    Sing penting halal 100%.

  6. 1 Agustus 2011 08:37

    Pantes, Sabtu siang TPU Pondok Ranggon macet total.
    Ternyata ada Jenderal Edo nyekar….
    Nyekar siapa mas?
    Ambil air pakai helm full face praktis lhooo…. :mrgreen:

    • 1 Agustus 2011 08:42

      Nyekar Ibu.
      Kemarin belum sempat mampir ke sebelah TPU, supaya full face beranak dulu. Hehehehehe…

  7. 1 Agustus 2011 17:07

    haiyaah..ini penghuni sekitar kuburan mampirrr…

  8. 1 Agustus 2011 21:17

    wih saya seneng baca2 tulisan eyang edo, kaya di koran koran. dicoba ah 😀

  9. ari permalink
    23 Februari 2014 08:17

    bs minta nomer hp pnjaga makam nya mas edo?

  10. ari permalink
    23 Februari 2014 08:20

    karena di telpon k kantor tpu nya tdk pernah d angkat.. trima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: