Lanjut ke konten

ERP Buat Sepeda Motor

15 Juli 2011


Alat sensor ERP di motor Singapura. (edo)

PEMOTOR dipungut sejumlah biaya saat melintas di ruas jalan tertentu. Perlakuan tersebut sama dengan para pengguna mobil. Tapi, jangan geram dulu, hal itu yang saya lihat di Singapura.
Pungutan tersebut dengan sistem electronic road pricing (ERP). Pemotor dan pemobil dipungut biaya secara otomatis saat melintas di ruas jalan tertentu. Caranya, sepeda motor dilengkapi dengan alat sensor elektronik yang bisa terbaca oleh alat yang dipasang dipintu masuk jalan yang dikenai tarif elektronik. “Selain itu, alat tersebut juga berguna untuk membayar tarif ketika melintas di jalan tol,” ujar Harry, seorang pemotor yang tinggal di Johor, Malaysia, saat berbincang dengan saya beberapa waktu lalu.


foto:edo

Bagaimana jika diterapkan di Indonesia atau di Jakarta? Tentu bakal banyak respons miring. Tapi, ngomong-ngomong soal payung hukumnya, untuk ERP bagi pemotor rasanya hingga kini saya belum menemukan. Dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), maupun dalam peraturan pemerintah (PP) Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL), kepastian aturan mengenai ERP hanya untuk kendaraan roda empat atau lebih. Belum ada yang secara tersirat membidik sepeda motor.
Dalam PP No 32/2011, khususnya pasal 60 ayat (3) memang ditegaskan bahwa pembatasan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b dapat dilakukan dengan pengenaan retribusi pengendalian lalu lintas yang diperuntukkan bagi peningkatan kinerja lalu lintas dan peningkatan pelayanan angkutan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


foto:edo

Namun, khusus bagi pesepeda motor ditegaskan dalam pasal 71 bahwa pembatasan lalu lintas sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1) dilakukan dengan cara melarang sepeda motor untuk melalui lajur atau jalur pada jalan tertentu.
Nah, saya menafsirkan, rasanya tak ada ERP untuk pesepeda motor. Benar gak sih? (edo rusyanto)

9 Komentar leave one →
  1. Dismas permalink
    15 Juli 2011 06:04

    wih, gedhe amat ya alatnya ??? 🙄

  2. 15 Juli 2011 06:35

    canggih sepertinya pakai teknologi RFID yg pak..
    Indonesia.. Sepertinya kudu rajin sosialisasi.. 🙂

  3. arsenal permalink
    15 Juli 2011 07:32

    bisa di amuk orang bekasi dan tangerang kalo motor di ERP in,
    tagihannya bagaimana pak edo?apa di potong dari saldo rekening orang itu,atawa saat pembayaran pajak motor.

  4. dara permalink
    15 Juli 2011 08:49

    Buat berhemat. Jadi orang lebih mikir bakar2 BBM.. yg efisien tuh kan i ltr BBM buat ngagkut orang sebanyak2nya… Lucunya KRD malah kena bbm industri.. kacian kacian…

  5. dudung59 permalink
    15 Juli 2011 10:34

    jgn disamain sama malaysia atw singapur lah…
    disana bayar lebih tapi hasilnya keliatan jelas…
    lha disini… tol aja banyak lobang n tambelan…

  6. wong ndeso permalink
    15 Juli 2011 16:59

    salam mbah Edo…
    di singapura kok masih ada motor RX King nya Indonesia, apa masih bisa lolos uji emisi di sono? (gambar kedua)

  7. 15 Juli 2011 22:54

    kang edo. ksh data penjualan bebek donk

    • 15 Juli 2011 23:39

      Sudah seminggu kerjaan super padat, belum sempat mengolah bebek. Smoga sgera agak longgar nih. Trims atensinya bro. Salam

  8. Dani Pendosa permalink
    18 Juli 2011 10:40

    Gak cocok diterapin di Indonesia yang orang2nya kelewat kreatif…sedikit otak-atik alat ERP tsb udah bisa dijebol para “Hacker” system Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: