Lanjut ke konten

Gak Pakai Helm? Denda Rp 860 Ribu

14 Juli 2011

COBA aja nekat naik sepeda motor tidak memakai helm, bakal disemprit 300 ringgit Malaysia. Itulah sanksi bagi pemotor di Johor Bahru, Malaysia. Tentu saja jika bersepeda motor di jalan raya dan ketangkap basah pak polisi.
Oh ya, jika dikonversi ke mata uang rupiah, denda itu setara dengan sekitar Rp 868.500 dengan kurs saat ini sebesar Rp 2.895. Bisa tekorkan? Coba bandingkan dengan di Indonesia yang sanksi maksimal tidak memakai helm sebesar Rp 250 ribu.
Apalagi buat Toni, kita sebut saja begitu, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur yang sudah sekitar lima tahun bekerja di Johor Bahru. Kabarnya, ada juga polisi yang bisa diajak damai. “Denda gak pakai helm 300 ringgit, kalau tidak pakai spion 150 ringgit,” kata dia, Senin (11/7/2011) malam, di Gelang Patah, Johor Bahru, Malaysia.
Pria yang mengaku membeli motor bebek bekas Honda Wave 110cc seharga 2.000 ringgit itu juga bercerita bahwa sepeda motor membantunya bermobilitas sehari-hari. Soal spion, katanya, untuk motor di bawah 150cc masih boleh memakai satu spion.
Siapapun, termasuk para TKI yang berseliweran naik motor harus mempunyai surat izin mengemudi (SIM) setempat. “Biayanya sekitar 600 ringgit. Harus belajar berkendara sedikitnya 38 jam. Total waktu sekitar dua minggu barulah keluar liasion-nya,” ujar Harry, warga Senai, Johor, saat berbincang dengan saya di Leisure Farm Resort, Rabu (13/7/2011) siang.
Ketatnya pemberian SIM mencerminkan keseriusan pemerintah melindungi warganya dari kecelakaan lalu lintas jalan. Kerap kali persoalan penerbitan SIM menjadi sorotan sebagai salah satu yang punya andil terjadinya kecelakaan.
Menurut Harry, motor menjadi alternatif sebagai alat transportasi warga Johor. Terlebih mereka yang bekerja di Singapura. “Pagi-pagi sekitar pukul 07.00 akan terlihat antrean motor di jembatan penyeberangan menuju Singapura, kebalikannya saat sore hari,” kata dia.
Maklum, untuk naik taksi tarifnya cukup lumayan. Sekali buka pintu, kena dua ringgit. Belum lagi argo per kilometernya.
Para pemotor yang melintas di jalan tol Johor tidak dipungut biaya. Sebaliknya di Singapura. “Motornya dipasangi alat sensor,” tukas dia.
Alat sensor elektronik memudahkan pemotor atau pemobil untuk membayar jasa jalan tol. Pemotor di Johor cukup tertib, walau sesekali ada yang berhenti melewati garis setop. Kalau soal kecepatan, ketika melintas di jalan tol, ada yang melewati 100 kpj. Namun, di jalan arteri masih normal dibawah angka tersebut. Tak heran jika di kota berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa tersebut, jarang terdengar kecelakaan lalu lintas jalan. Mungkin karena pemotornya tertib dan mentaati aturan yang ada. Jangan-jangan mereka tahu, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

https://edorusyanto.wordpress.com

7 Komentar leave one →
  1. 14 Juli 2011 03:10

    Pondium

  2. Dani Ramadian permalink
    14 Juli 2011 05:50

    Brarti denda di Indonesia sudah murah
    dan memperhatikan aspek kemanusiaan…

    xixixixi

  3. 14 Juli 2011 08:34

    malaysia aja bisa tertib dlm berlalu lintas, knp di indonesia tdk bisa…??? tanya kenapa…

  4. softech_niQ permalink
    14 Juli 2011 09:32

    @kiwil.
    krn d indonesia dendax udh dpt diskon gede,aplg kl byr cash dtempat,jd dobel diskon,,,,cb ga pke diskon,klenger jg tuh,,,,hehehe.

  5. ash permalink
    14 Juli 2011 11:18

    cukup gocap ajah….

  6. 14 Juli 2011 14:55

    sepertinya kita harus belajar soal ini dari malaysia….ambil yang baiknya, mari kita tertib dalam berlalu lintas……….demi keselamatan diri kita sendiri juga gan

  7. 14 Juli 2011 15:11

    Wow..Mahal Banget..ck.ck.ck..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: