Lanjut ke konten

Jurus Melepas Ketergantungan Pada ATPM

5 Juli 2011

DALAM kehidupan sehari-hari semua saling bergantung. Tengok saja rantai makanan. Tumbuhan mencari makanan dari udara dan air, hewan memakan tumbuhan, dan manusia memakan hewan. Manusia menempati rantai makanan teratas?
Kehidupan masyarakat kita menempatkan hubungan saling ketergantungan sebagai sebuah kebutuhan. Demikian juga keberadaan kelompok para pemotor. Setiap anggota kelompok saling berinteraksi dalam hubungan tersebut. Kesehatan kelompok ditentukan sejauhmana hubungan tersebut tidak saling bertumbukan.
Di Indonesia, saat ini, kelompok para pemotor juga berinteraksi dengan para produsen motor. Terlebih kelompok yang mengusung nama produk dari sang produsen. Sepintas, ada interaksi yang sulit dipisahkan. Maklum, para produsen juga memiliki kepentingan yang kuat kepada para konsumennya itu.

Para produsen motor atau agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor amat terbantu oleh keberadaan kelompok konsumen. Paling tidak, kelompok tersebut menjadi duta-duta merek sang ATPM. Loyalitas konsumen di Indonesia amat kuat. Sedikit sekali yang nekat menyebut tunggangannya jelek sekalipun memiliki kelemahan. Mayoritas bakal menyebut sisi positifnya, ketimbang kelemahan tadi.
Dalam konteks tersebut, para produsen memanfaatkan hubungan dengan kelompok konsumen sebagai input atas produk mereka. Hubungan interaksi seperti itu pada gilirannya dapat menjadi ajang riset dan pengembangan produk oleh produsen.
Hubungan timbal balik berlanjut dalam banyak aspek teknis. Saling menguntungkan.
Ada kelompok pemotor yang menempatkan produsen sebagai sumber finansial yang mendukung aktifitas mereka. Sokongan para produsen atau ATPM bisa mencakup seluruh kebutuhan, sebagian besar, separuh, atau hanya sebagian kecil. Tergantung kemampuan, sikap, dan kebutuhan tiap kelompok.

Tak bisa dipungkiri kemampuan finansial tiap kelompok berbeda-beda. Sudah menjadi rahasia umum, mayoritas kelompok pemotor memiliki daya tahan finansial yang seadanya. Ada yang mengandalkan iuran anggota. Ada yang punya usaha rutin. Ada yang memanfaatkan sisa dana kegiatan dari sponsor sebagai penyambung dana kegiatan. Tergantung kepiawaian para pengurus kelompok dalam mengelola keuangan. Memang tidak mudah. Tidak ada uang jadi masalah, ada uang bisa bikin masalah.

Melepaskan Diri
Melepaskan diri sepenuhnya dari ketergantungan pada ATPM terkesan sulit. Kalau untuk urusan sokongan dana rasanya bisa ditempuh beberapa langkah.
Pertama, perkuat kemampuan keuangan kelompok. Caranya bisa melalui iuran anggota dan usaha mandiri seperti menjual pin, kaos, atau aktifitas lain seperti bengkel sepeda motor.
Kedua, menjalin kemitraan dengan pihak lain yang berbasis saling menguntungkan. Konsep ini misalnya dengan menggelar kegiatan yang bersifat sosial maupun semi sosial.

Ketiga, memperkuat konsep dan arah keberadaan kelompok. Untuk apa kelompok didirikan? Kemana arah kelompok berjalan? Bila memiliki sikap kemandirian yang kuat dan meletakan dasar sebagai kelompok yang didirikan dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota, rasanya setiap kegiatan bisa berdasarkan swadaya anggota.
Hubungan yang sehat antara kelompok dengan pihak lain, termasuk ATPM, adalah menempatkan kesetaraan. Transparansi dan saling menguntungkan. Tidak ada yang mendikte, mengarahkan, apalagi memaksakan kehendak.
Di era keterbukaan saat ini, eksistensi suatu kelompok bisa tetap terwujud dengan kekuatan internal. Karena itu, penting sekali menetapkan arah dari pembentukan kelompok. Setiap interaksi dengan pihak di luar kelompok menjadi sebuah hubungan keseteraan yang sehat, dinamis, dan menghargai pendapat masing-masing. Setuju? (edo rusyanto)

7 Komentar leave one →
  1. softech_niQ permalink
    5 Juli 2011 09:49

    jurus pertamaxx

  2. 5 Juli 2011 12:38

    kedupax?

  3. 5 Juli 2011 14:01

    Dari sekian lama Eyang Edo ngeblog, baru kali ini tulisannya sungguh cerdas, bernas, dan cadas…. ūüôā
    *sungkem

    • 5 Juli 2011 14:12

      Jarang mampir sih. Ada ribuan artikel seperti ini (lebay) hehehe….makasih dah mampir mas. Ditunggu touring jakarta-semarang yah.

      • 5 Juli 2011 17:56

        Ya, benar. Dari ribuan artikel itu, satu ini yang membuat saya bergetar. Halaaaahh…. :mrgreen:
        *sungkemlagi

  4. 5 Juli 2011 17:18

    Lanjut mbah..

  5. 6 Juli 2011 12:17

    salam sukses.. lanjutkann..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: