Lanjut ke konten

Kebijakan Berlatar Kerugian Rp 220 Triliun

30 Juni 2011

Mengenal RUNK 2011-2035 (Bagian 1)


foto:edo

INDONESIA bergelut dengan problem kecelakaan lalu lintas jalan. Data tahun 2010, sebanyak 31.234 jiwa tewas sia-sia akibat kecelakaan, atau setara dengan 86 orang tewas setiap hari akibat kecelakaan. Ironisnya, sebanyak 67% korban kecelakaan berada pada usia produktif (22 – 50 tahun).
Sebuah angka yang tidak main-main. Kecelakaan lalu lintas jalan menjadi pemicu kematian non-penyakit yang mematikan. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperkirakan, pada 2030, jika tidak ada aksi yang signifikan, kecelakaan lalu lintas di jalan bakal menjadi penyebab kematian nomor lima di dunia setelah penyakit jantung, stroke, paru-paru, dan infeksi saluran pernapasan.


foto:istimewa

Di negara kita, merujuk data pada 2010, loss productivity dari korban dan kerugian material akibat kecelakaan diperkirakan mencapai 2,9 – 3,1% dari total produk domestik bruto (PDB), atau setara dengan Rp 205–220 triliun dengan total PDB mencapai Rp7.000 triliun. Bayangkan jika angka tersebut untuk program pembangunan di bidang transportasi massal umum, barangkali sudah bisa mendukung mobilitas yang lebih produktif dibandingkan kondisi tahun 2011.
Di tengah itu semua, pemerintah Indonesia pada 20 Juni 2011, bertempat di Kantor Wakil Presiden Boediono, mencanangkan apa yang disebut Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan. Saya mendapat data dari Rio Octaviano, ketua umum Road Safety Association (RSA) yang mengikuti pencanangan tersebut. Sayang, saat itu saya tidak bisa hadir karena info mengenai undangan tambahan baru saya peroleh siang hari, hanya tak kurang dari satu jam sebelum acara berlangsung.


foto:dok rsa

Dalam artikel yang akan saya susun dalam lima bagian kita akan melongok apa saja isi RUNK Jalan tersebut. Dalam artikel pertama ini saya coba mengintip latar belakang disusunnya rencana pemerintah itu.
Rencana tersebut disusun berdasarkan amanat Pasal 203 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, sebagai wujud tanggung jawab Pemerintah dalam menjamin keselamatan lalu lintas jalan.
RUNK Jalan memiliki periode 2011 hingga 2035. pemerintah mengklaim RUNK selaras dengan pencanangan Decade of Action (DoA) for Road Safety 2011 – 2020 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dicanangkan pada Maret 2010. Aksi tersebut bertujuan untuk mengendalikan dan mengurangi tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas jalan secara global dengan meningkatkan kegiatan yang dijalankan pada skala nasional, regional dan global. Maklum, secara global, PBB menyebutkan bahwa setiap tahun, terdapat sekitar 1,3 juta jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, atau lebih dari 3.000 jiwa per hari. Bila setiap negara anggota PBB tidak melakukan langkah-langkah penanganan yang segera dan efektif, diperkirakan korban kecelakaan akan meningkat dua kali lipat setiap tahunnya.

Apa Pendekatan RUNk?
Penyusunan RUNK Jalan menggunakan pendekatan lima pilar keselamatan jalan yang meliputi manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan dan penanganan korban pasca kecelakaan. Pencapaian target RUNK ini menggunakan strategi sistem lalu lintas jalan yang berkeselamatan, yaitu penyelenggaraan lalu lintas jalan yang mengakomodasi human error dan kerentanan tubuh manusia, yang diarahkan untuk memastikan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan tidak mengakibatkan kematian dan luka berat.
DoA for Road Safety versi PBB akan menjadi bagian dari materi RUNK Jalan. Sepuluh tahun pertama dari RUNK Jalan ini ditetapkan menjadi program Dekade Aksi Keselamatan Jalan Republik Indonesia 2011-2020.

Apa Falsafah dan Tujuan RUNK?
Falsafah dari RUNK Jalan ini adalah berlanjut, terkoordinasi, dan kebersamaan, berdasarkan pemahaman bahwa keselamatan jalan adalah tanggung jawab kita semua. Untuk memenuhi program DoA for Road Safety Perserikatan Bangsa-Bangsa maka sepuluh tahun pertama dari RUNK Jalan ini ditetapkan menjadi program Dekade Aksi Keselamatan Jalan Republik Indonesia 2011-2020.
Sedangkan tujuan dari penyusunan RUNK Jalan adalah untuk memberikan panduan/pedoman bagi pemangku kebijakan agar dapat merencanakan dan melaksanakan penanganan keselamatan jalan secara terkoordinir dan selaras. Selain itu, RUNK Jalan ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah (pemda) untuk menjabarkan langkah-langkah penanganan keselamatan jalan di wilayahnya. (edo rusyanto)

9 Komentar leave one →
  1. 30 Juni 2011 10:43

    ngebut ‘cuma’ < 4%, pas ngebut emang ngantuk jd ilang n konsentrasi, tp siapa tau kt berada di 4% itu, naudzubillah

    kgt jg lengah faktor terbesar

    http://www.umarabuihsan.wordpress.com/2011/06/30/59-marco-simoncelli…dari-tanda-tangannya-iseng-kita-kuak-siapa-dia/

  2. Toro permalink
    30 Juni 2011 11:31

    Lengah & ketertiban/ketidak disiplinan pengendara penyebab utama kecelakaan. Begitulah gambaran budaya berkendara di negara kita.

    Perlu dicermati juga pembunuh manusia dalam 5 besar, urutan 1,3,4 salah satunya di akibatkan karena Rokok, kampanye bahaya rokok & kesadaran tidak merokok di tempat umum sepertinya juga harus di tingkatkan.Kampanye bahaya rokok disandingkan dengan kampanye Safety Riding….hanya berandai-andai saja dr saya.
    Apa ada kecelakaan di jalan gara-gara berkendara sambil merokok??? Semoga tidak!

    Iklan kampanye anti/kurangi rokok dari saya…yd dalam proses terapi mengurangi ketagihan nikotin. Salam

    • 30 Juni 2011 11:41

      kampanye demi keselamatan umat manusia memang banyak cara, terpenting jangan pernah letih. terus smangat. trims atensinya bro, salam.

  3. w15nu permalink
    30 Juni 2011 19:20

    like this Bang Edo…..

    btw, ada si Asep YVCI JC sama si Malik YVCI Cikarang tuh….wkwkwkwk…..

    • Edo Rusyanto permalink*
      30 Juni 2011 19:34

      ya bro, itu dokumentasi saat aksi menolak pembatasan di Jakarta. salam

  4. 30 Juni 2011 21:03

    semoga infrastruktur juga dibenahi, biar berkendaranya lebih safe,,,…….

  5. Hidayat Tapran permalink
    9 Agustus 2011 07:04

    Tujuan “Dekade Aksi Keselamatan Jalan Indonesia 2011-2020”, sudah pasti menurunkan angka kecelakaan di Jalan, menurut saya lebih dari itu adalah bagaimana Indonesia mengerti Berlalu Lintas yang benar dan menerapkan tingkat keselamatan yang tinggi. Sekarang ini benar-benar segalanya sangat buruk, segalanya sangat tidak standard tidak ada yang bisa dinilai, tidak jelas ini tugas siapa, itu tugas siapa, dari yang terlibat PU, Bina Marga, Gephub dan Kepolisian, siapa yang paling menguasai pengetahuan Berlalu Lintas, disini saya melihat tidak ada yang benar benar berpengatahuan contoh :
    1. Setiap jalan Utama Arteri, selalu dibiarkan menjadi seperti Jalan Lokal jadi banyak hambatan, padahal di Jalan Utama Arteri berhentipun tidak boleh.
    2. Jalan yang dibina hanya sampai Jalan Lokal, tidak sampai pada Jalan-Jalan Lingkungan, negeri kita tidak mengenal Rambu Zona, itupun tidak semua Jalan Lokal terbina dan rekayasanya tidak tepat, banyak Rambu yang salah penggunannya. (kalau saya cerita banyak sekali)
    Sekegar saran untuk agenda ‘Dekade Aksi Keselamatan Jalan Indonesia” ada dua hal pokok yaitu :
     Traffic Management
     Tata Cara dan Aturan Berlalu Lintas yang benar. (semua orang penyelenggara dan pelaku berlalu lintas harus belajar, pengetahuannya sangat kurang)
     Infrastruktur yang aman dan rekayasa yang benar (penyelenggara harus banyak belajar, pengetahuannya sangat kurang).
     Optimalisasi Ruang Gerak Lalu Lintas (harus dibarengi dengan pengetahuan yang baik).
     Sertifikasi Sekolah Mengemudi (mutlak).
     Penerbitan Surat Izin Mengemudi melalui pendidikan (sebelum diterbitkan SIM sebaiknya didahului dengan Surat Izin Belajar Mengenud). Kalau mau tahu semua harus bertemu
     Penegakan Aturannya yang edukatif (Polisi difungsikan sebagai pengawas dan pelapor saja, jangan boleh menangkap dan mengadili tidak akan maju). percayalah
     Transportation Management
     Membangun Sistem Transportasi Terpadu :
     Angkutan Dalam dan Luar Kota.
     Angkutan dengan Jalur Jalan tersendiri.
     Jenis Angkutan Ekonomis & Efisien.
     Level, Under, Upper.
    Harus ada Political Will dari penguasa, pasti semua bisa beres percayalah !! saya siap bantu dengan pelatihannya.

  6. Hidayat Tapran permalink
    9 Agustus 2011 07:55

    Tujuan “Dekade Aksi Keselamatan Jalan Indonesia 2011-2020”, sudah pasti menurunkan angka kecelakaan di Jalan, menurut saya lebih dari itu adalah bagaimana Indonesia mengerti Berlalu Lintas yang benar dan menerapkan tingkat keselamatan yang tinggi. Sekarang ini benar-benar segalanya sangat buruk, segalanya sangat tidak standard tidak ada yang bisa dinilai, tidak jelas ini tugas siapa, itu tugas siapa, dari yang terlibat PU, Bina Marga, Dephub dan Kepolisian, siapa yang paling menguasai pengetahuan Berlalu Lintas, disini saya melihat tidak ada yang benar benar berpengatahuan contoh :
    1. Setiap jalan Utama Arteri, selalu dibiarkan menjadi seperti Jalan Lokal jadi banyak hambatan, padahal di Jalan Utama Arteri berhentipun tidak boleh.
    2. Jalan yang dibina hanya sampai Jalan Lokal, tidak sampai pada Jalan-Jalan Lingkungan, negeri kita tidak mengenal Rambu Zona, tidak heran bila di kampus bisa terjadi kecelakaan lalu lintas, Tidak semua Jalan Lokal terbina dan rekayasanya tidak tepat, di beberapa tempat banyak Rambu yang salah penggunannya. (kalau saya cerita banyak sekali)
    3. Pemerintah kita tidak mementingkan penyediaan lorong pejalan kaki, yang ada pun dibiarkan dipakai kegiatan lain, terminal liar, kaki lima dan pasar tumpah menjadi legal.
    4. Angkutan kota dibiarkan liar berhenti di mana saja tidak keruan.
    Sekedar saran untuk agenda ‘Dekade Aksi Keselamatan Jalan Indonesia” ada dua hal pokok yaitu :
     Traffic Management
     Tata Cara dan Aturan Berlalu Lintas yang benar. (semua orang penyelenggara dan pelaku berlalu lintas harus belajar banyak, pengetahuan berlalu lintasnya kurang)
     Infrastruktur yang aman dan rekayasa yang benar (penyelenggara harus banyak belajar, pengetahuan berlalu lintasnya kurang).
     Optimalisasi Ruang Gerak Lalu Lintas (harus dibarengi dengan pengetahuan yang baik).
     Sertifikasi Sekolah Mengemudi (mutlak).
     Penerbitan Surat Izin Mengemudi melalui pendidikan (sebelum diterbitkan SIM sebaiknya didahului dengan Surat Izin Belajar Mengenud). Kalau mau tahu semua harus bertemu
     Penegakan Aturannya yang edukatif (Polisi difungsikan sebagai pengawas dan pelapor saja, jangan boleh menangkap dan mengadili pelanggar). percayalah
     Transportation Management
     Membangun Sistem Transportasi Terpadu :
     Angkutan Dalam dan Luar Kota.
     Angkutan dengan Jalur Jalan tersendiri.
     Jenis Angkutan Ekonomis & Efisien.
     Level, Under, Upper.
    Kalau ada Political Will dari pemerintah semua bisa beres percayalah !! saya siap membantu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: