Lanjut ke konten

PR Jakarta di 484 Tahun

22 Juni 2011

PEKERJAAN rumah (PR) terbesar Jakarta di usia ke-484 tahun sudah menanti. Namanya, keselamatan jalan. Jangan lupa, beberapa tahun terakhir, tiga orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta.
Saat memimpin apel Deklarasi Aksi Keselamatan Jalan 2011-2020, di lapangan Monas, Jakarta, Sabtu (18/6/2011), Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo menyerukan agar seluruh jajarannya menyusun program keselamatan jalan. Wah, baru mau nyusun nih?
Tapi, lumayanlah, sudah ada kemauan politik dari sang Gubernur untuk membangun budaya keselamatan jalan di Jakarta. Walau, jutaan warga Jakarta pasti berharap agar kiprah pemerintah lebih mengakar. Sudah sepatutnya pemerintah mengayomi warganya.
Kota berpenduduk sekitar 9,5 juta jiwa itu, memang sudah sesak oleh kendaraan. Tak kurang dari 11 juta kendaraan tercatat di wilayah Polda Metro Jaya, sekitar delapan juta unit adalah kendaraan roda dua.
Praktis, lalu lintas jalan kota Jakarta senantiasa padat, terlebih di pagi hari saat jam berangkat ke kantor dan di sore hari saat pulang dari kantor. Antrean ribuan kendaraan menyesaki jalan arteri dan jalan tol. Seakan berebut menuju tempat tujuan.

Melihat kondisi tersebut, di usia ke-484 tahun, rasanya Jakarta harus mampu terus membenahi sistem transportasi massal umum. Tujuan utamanya tentu agar mampu mengakomodasi tingkat mobilitas warga yang terus bertambah setiap tahunnya. Pada 2010, sedikitnya tercatat 20 juta pergerakan atau mobilitas warga Jakarta. Hanya sebagian kecil yang terfasilitasi oleh angkutan umum. Selebihnya, warga mencari transportasi alternatif berupa kendaraan pribadi. Ironisnya, mayoritas memilih sepeda motor karena dianggap efisien dan efektif.
Di tengah itu semua, problem kecelakaan lalu lintas jalan membayangi wajah Jakarta. Sekalipun fatalitas menurun, yakni korban jiwa yang kian mengecil pada 2010 dibandingkan 2009, kasus kecelakaannya masih meningkat. Gubernur mengaku, jumlah korban tewas akibat kecelakaan pada 2010 sekitar 900-an jiwa, sedangkan tahun 2009 mencapai sekitar 1.000-an jiwa.

Merujuk pada data yang ada, faktor manusia masih menjadi pemicu utama terjadinya kecelakaan di Jakarta. Perilaku berkendara yang tidak fokus atau lengah dan tidak tertib masih menjadi faktor utama yang disebabkan oleh manusia. Artinya, tingkat konsentrasi berkendara warga Jakarta masih harus terus ditingkatkan. Disamping tentunya tingkat ketertiban dan kedisiplinan terhadap aturan lalu lintas jalan juga terus diperkuat.
Harapan kita, memasuki usia ke-484 tahun pada 22 Juni 2011, Jakarta kian berbenah, kian manusiawi, termasuk pada lalu lintas jalannya. Semua pasti ingin sampai tujuan dengan aman, nyaman, dan selamat. Selamat hari jadi Jakarta. (edo rusyanto)

foto-foto:edo

2 Komentar leave one →
  1. Gundala permalink
    22 Juni 2011 09:51

    prnya:
    -macet
    -peraturan lalu lintas yang tegas
    -angkutan umum yang memadai
    -kondisi jalan yang baik

    motor bukan pr melainkan akibat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: