Lanjut ke konten

Waspada Jembatan Kalibata

21 Mei 2011


Suasana sebelum jembatan layang dibangun, Agustus 2010. (edo)

SAYA sempat dibuat kaget oleh aksi seorang pemotor. Saat itu, siang terik di awal Mei 2011, saya melintas di atas jembatan layang yang membentang di atas sungai Ciliwung, menuju arah Kalibata, Jakarta Selatan. Manuver pemotor dari sisi kiri motor saya demikian cepat. Suara knalpot memekakan telinga. Tak insiden.
Sebelum dibangun jembatan layang di kawasan tersebut, lalu lintas jalan memang kerap tersendat, persis sebelum sungai. Terutama dari arah pertigaan Jl Dewi Sartika menuju Kalibata. Maklum, itu kawasan padat penduduk.

Suasana saat pembangunan jembatan layang. (edo)

Sudah lebih dari lima tahun saya rutin melintas di kawasan tersebut. Kini, sejak dioperasikannya jembatan layang, perilaku pengguna jalan, khususnya pemotor, terpancing untuk memacu kecepatan tinggi. Terutama ketika situasi jalan sedang tidak ramai oleh kendaraan.
Padahal, di mulut jembatan layang sudah terpampang rambu agar hati-hati dan rambu batas kecepatan maksimal yakni 30 kilometer per jam (kpj). Entah rambu tersebut tidak terlihat, tidak mengerti membaca rambu, atau menganggap rambu tersebut sebagai pajangan jalan, para pemotor asyik menggeber ketika melintas di jembatan tersebut.

Rambu peringatan dipasang di mulut jembatan layang. (edo)

Nah, ironisnya, lebar jembatan tersebut tidaklah terlalu lebar, sehingga membuka peluang terjadi senggolan yang bisa berbuah insiden kecelakaan. Sekalipun begitu, saya rasa jika semua pengguna berupaya mematuhi rambu yang ada, situasi bakal lebih nyaman. Pernah suatu ketika, dari arah berlawanan muncul pemotor yang memotong median jalan. Tampaknya dia tergesa, entah mau kemana. Saya lihat, seorang pemotor di lajur yang benar sempat terperanjat dan sedikit oleng. Memang, tak sempat ada insiden serius.

Jembatan yang mulai dioperasikan pada awal Januari 2011 itu, dibangun dengan biaya sekitar Rp 65 miliar. Jembatan tersebut dibangun melengkapi jembatan lama yang sudah berpuluh-puluh tahun menghubungkan Jakarta Timur dengan Jakarta Selatan. (edo rusyanto)

16 Komentar leave one →
  1. 21 Mei 2011 13:39

    Pertamax………

  2. 21 Mei 2011 13:40

    tapi emang makin lancar kan pak?

    • 21 Mei 2011 13:48

      lancar sih bro, cuma jadi ada dorongan menjadi sembrono yaitu tarik gas poll, hehehe…trims.

  3. smashrider permalink
    21 Mei 2011 14:06

    Absen… 🙂
    kalo diliat difoto, lebar jalan layangnya dari ujung ke ujung gak sama yah, Pak Edo?

  4. Sukasir blogger sejati permalink
    21 Mei 2011 14:35

    Kunjung balik yah, ada sekitar 107 puisi. Ratusan kata-kata bijak.
    Puluhan cerpen.
    Puluhan cerita.
    Dan lainnya.
    Terupdate loh. . . . . .
    http://sukasir.wordpress.com

  5. vanz21fashion permalink
    21 Mei 2011 16:53

    jalan layangnya sempit amat.. selaras seperti yg om edo katakan rawan terjadi senggolan.. amit2nya kalo lagi kenceng terus senggolan bukan ga mungkin terpental keluar jembatan.. amit2 moga2 ga ada kejadian kayak gitu…

  6. dicky permalink
    21 Mei 2011 20:27

    maaf om edo, itu dana pembangunan sebesar 65 milliar? benar ga tuh ya.

  7. jabul2 permalink
    21 Mei 2011 23:07

    kurang serius di garapnya om.. saban hari seringnya ane lewat sono kalo berangkat kerja, dah mulai ada lobang pas turunan ke arah kalibatanya.. mestinya ada rambu di larang mendahului… hahaha jalannya semfit

  8. Sendal bolong permalink
    21 Mei 2011 23:50

    @van2x.. : pernah kejadian di depan mata bro, daerah bandung melibatkan 3 buah motor, kondisi jembatan kurang lebih sama seperti digambar, 2 orang terjun bebas dari atas jembatan ketika motornya adu kambing dengan motor dari lawan arah.

  9. aki permalink
    22 Mei 2011 00:52

    yg bener bang edo dana abis 65 m..perasaan jembatannye pendek…

  10. 23 Mei 2011 08:25

    bang edo… itu bikin utk melengkapi jembatan lama… tapi utk peninggian jembatan lama.. jembatan lama akan dirobohkan. yang jadi masalah warga di bawah jembatan dan di sekitar jembatan pada nggak setuju.

    bisa dilihat dari jembatan yang baru, di bagian tengahnya melebar, sepertinya (sepertinya, lho… perkiraan saya saja), jika jembatan lama sudah dirubuh maka jembatan baru akan diperlebar, bro!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: