Lanjut ke konten

Sulitnya Sabar Sesaat

10 Mei 2011

Perempatan Kalibata, Jakarta Selatan, tertutup pemotor. (edo)

SETIAP pagi dan sore kita melihat kesemrawutan lalu lintas jalan di Jakarta. Penumpukan sepeda motor di mulut jalan. Pertigaan atau perempatan jalan dipadati pemotor. Plus, melibas garis putih dan zebra cross.

Nah, di salah satu sudut jalan Jakarta, persisnya di pertigaan Jl Kalibata, dekat Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, pertemuan dengan Jl Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ada pemandangan lain. Ketika pagi hari, saat arus lalu lintas padat, para pemotor memenuhi pertigaan hingga menduduki trotoar segitiga. Tak ada rasa gentar akan petugas yang berdiri tak jauh dari situ. Mereka menanti lampu pengatur lalu lintas berubah menjadi warna hijau untuk langsung tancap gas.

Tak ada rasa sabar. Mereka merangsek melibas segitiga yang sebenarnya didesain lebih tinggi sekitar 5 centimenter di atas permukaan aspal jalan. Kadang, menutup arus kendaraan yang hendak berbelok ke kiri ke arah Pasar Minggu. Para pengguna jalan yang hendak berbelok ke kiri dipaksa mengalah. Walau, sesekali mereka membunyikan klakson. Namun, saat kepadatan luar biasa yang menutup lajur kiri, mereka pun pasrah.

Begini suasana trotoar segitiga saat sepi pemotor. (edo)

Ya. Rasa sabar sesaat seakan lenyap untuk kepentingan individu. Mereka seakan kalap sehingga tak peduli pengguna jalan yang lain. Kenapa ketergesaan demikian menggila? Kenapa tak sudi sabar sesaat? Kenapa menutup akses pengguna jalan yang lain? Terakhir, kenapa tidak ditindak oleh petugas? Satu lagi potret buram lalu lintas jalan Jakarta.

Kita semua mahfum, kecelakaan lalu lintas jalan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Nah, jika sabar sesaat menjadi sulit, lalu memilih menerabas aturan, saya khawatir bisa berbuah kecelakaan. Rasaya keselamatan jalan (road safety) masih menjadi impian ketika kita disodori fakta, rata-rata tiap hari ada tiga orang tewas di jalan akibat kecelakaan di jalan-jalan Jakarta. (edo rusyanto)

30 Komentar leave one →
  1. 10 Mei 2011 11:27

    aku bener-bener miris dengan mayoritas biker di Jakarta mbah ๐Ÿ˜ฆ

  2. 10 Mei 2011 11:35

    di bandung juga tidak jauh berbeda kok pak ๐Ÿ™‚

  3. 10 Mei 2011 11:42

    ayo kita mulai kesadaran utk berdisplin dlm berkendara & berlalulintas. Mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. keep safety road…

  4. 10 Mei 2011 11:50

    @blade_us: sing sabar ya mas, hemmm…

    @rifslank: makasih infonya bro.

    @odenk’s: siipp bro, terus smangattt…

  5. 10 Mei 2011 12:03

    Surabaya jg gk jauh beda mbah, berhenti di lampu merah yang masih 3 detik sudah di klakson orang “gendeng” yang buru-buru minta lewat.

  6. nha permalink
    10 Mei 2011 12:28

    OOT Om Edo,

    Dulu saya bilang kalau paulus akan kena SP (warning ) dari YMAHA karena suka ngomong ngaco dan ngak pikir, ternyata malah sampai di pecat! kasian kasian kasian.

  7. Awakku_1927 permalink
    10 Mei 2011 13:18

    Saya kira jangan hanya disalahkan masyarakatnya..
    Perlu dicek, ketegasan aparat omm…

    Kalo petugas terkesan membiarkan, satu orang melanggar yang lain akan banyak yang ikutan… dst dst sehingga akan semakin banyak yang melanggar. dari satu orang jadi seribu orang, dari satu aturan ke seribu aturanpun dilanggar.
    Kalo aparat ngeluh karena kurang tenaga seperti postingan minggu kemarin, berarti memang perlu dites IQ dari aparat tersebut. Paling depan ditilang… belakang2nya pasti akan pada takut… Kalo konsisten dijaga, ke belakang gak akan ada lagi yang melanggar.
    Lagian tuh aparat dari pada jadi calo di samsat (postingan bro NAdhi) mending jagain jalan (asal gak korup juga) saya kira akan lebih bermanfaat hidupnya.

    gak perlu nengok ke eropah, yang dekat ke Bangkok, 5 – 10 tahun yang lalu minta ampun macetnya, ngalahin Jakarta, tapi dengan ketegasan aparat, akan semakin sedikit pelanggarnya. Dan para pengguna jalan, akhirnya dari takut akan berubah ke sadar, kalau melanggar malah malu sendiri… Kalo ngandalin masyarakat sadar dengan sendirinya, ditambah pasal2 bertumpuk tapi aparat melepas begitu saja… lima tahun ke depan gak akan berubah Jakarta ini.

    (Makanya korupsi berkembang pesat dengan subur di bumi kita, karena hukum gak ditegakkan).
    Maap… jadi panjang ya omm… ๐Ÿ˜€

    • 10 Mei 2011 14:29

      Setuju soal pentingnya ketegasan aparat penegak hukum. Namun, kita sbgai masyarakat juga perlu membudayakan tertib di jalan.
      Btw, trims atas sharing-nya. Salam
      https://edorusyanto.wordpress.com

      • 11 Mei 2011 05:07

        iya miris om edo di dubai gak berani di jalur satu arah menerobos lampu merah yang di buat manual di tekan switchnya oleh penyebrang jalan walaupun zebra cros kosong setelah di lewati penyebrang jalan sekitar 20 dtik tak satupun berani menerobos 20 detik berhenti di lampu merah sama aja kaya 2 menit menunggu kali ya xixixixi peraturan yang jadi no1

        artikel terbaru dari kami ๐Ÿ˜†

        http://moy17.wordpress.com/2011/05/10/inilah-new-satria-fu-2011/

    • Awakku_1927 permalink
      10 Mei 2011 14:46

      saya sepakat untuk paling tidak membudayakan pada diri saya agar taat lalu lintas.

      Tapi tanpa adanya sang penegak, saya rasa proses tertib di Jakarta (dan Indonesia) akan jauuuuuh lebih lama. Mungkin kebanyakan orang 2 dimarih baru akan sadar setelah umur di atas 30an, atau paling gak pernah nyium aspal atau nyium bemper.
      (makanya kalo ada orang tua masih pethakilan saya rasa kok aneh..)

      Contoh kasus, ada orang yang melewati garis putih di lampu merah, akan jadi “ramai” kalo kita buka helem sambil ngomong,” mas munduran, tuh ngelewatin garis..!” padahal disamping ada pak pol cuma ngelirik..
      Atau saat saya berhenti di belakang garis (yang lain dah pada maju), di depan Mayasari bakti yang dengan enteng pencet klakson keras2… kalo cuma dibilangin sok alim sih biasa, lha kalo “ditutul” bemper bis… ya lumayan

      • 10 Mei 2011 14:56

        Sabar mas, sabar…cuma itu cara efektif untuk melatih diri kita sendiri agar tertib. Soal penegak hukum, info yg saya peroleh, sekitar 40% yg di lapangan cenderung apatis terhadap pelanggaran aturan lalin. Nah, yg begini memang bukan persoalan penegaknya semata, boleh jadi membludaknya kondisi membuat kian keblinger. Setuju, mulai dari diri kita dan dari sekarang. Salam

      • Awakku_1927 permalink
        10 Mei 2011 15:04

        mana bisa sabar omm..
        kita harus segera merevolusi… halah… ๐Ÿ˜€

      • Awakku_1927 permalink
        10 Mei 2011 15:12

        Kalo memang volume kendaraan yang jadi jadi alasan…

        Di Thailand perbandingan jumlah penduduk dengan motor adalah 1 : 2 (antara 2 dan 3) dengan terkonsentrasi di ibukota
        Indonesia… baru 1 motor : 6 penduduk, kondisi sama, terkonsentrasi di ibukota. (CMIIW)

        Tapi dengan proses penindakan dan adanya MRT, sekarang bangkok jadi jauh lebih tertib dibanding Jakarta. Di sini saya melihat adanya kesungguhan hati dari pemerintah dan aparat… gak semata2 menyerahkan kepada masyarakat, duduk dan melihat dengan apatis.

        Ibarat dalam rumah tangga, warga adalah anak2nya sedangkan pemerintah adalah orang tua. Saya rasa kalo orang tua tidak “menekankan” anak untuk beribadah, anak2nya jangan diharap untuk datang ke Masjid, Gereja dll…
        Kalo orang tua senengnya melamun, makan, minum, duduk menerawang dengan apatis, terus anaknya jadi ustad… saya rasa itu anak adalah “oknum”.. ๐Ÿ˜€

        • 10 Mei 2011 20:32

          Hore, Awakku waras tenan saiki.
          Bener itu, butuh ketegasan dan kekerasan anu…
          *halah

    • 10 Mei 2011 20:30

      Weh, Awakku waras…. bahaya ini…. :mrgreen:

      • Awakku_1927 permalink
        11 Mei 2011 08:16

        Obat soko sampeyan mandhi cak… obat-abit

        :mrgreen:

  8. 10 Mei 2011 14:09

    budaya sabar, saling tepa slira, itu cuma mitos di negri ini pak ๐Ÿ™‚

  9. 10 Mei 2011 14:12

    Saya dari tahun 2009 sampe sekarang lewat situ ga ada perubahan yang signifikan. oh ya mbah, itu majlis pengajiannya g bisa dipindah ya?jujur tak perhatiin kok tambah lama, jadi tambah kblinger, ada smacam pasar malam kecil dadakan, dulu cuman seglintir tapi ko sekarang tambah banyak, peserta juga nambah, semakin rame. ya setidaknya dicarikan alternatif tempat yang bisa nampung jamaah+kendaraannya+orang cari rejekinya, efeknya kan di perempatan pancoran. dan sebagian jamaah juga ada yang g tertib dijalan (g make helm, sendal jepit, sarungan—>opo g berbahaya?-_-“). takutnya klo dah make gitu dah ada semacam “mesej” kepada orang yang melihat itu: saya mau pengajian, g apa2 kan pake gini doang, permisi kasih saya jalan buat lewat ya. Meskipun begitum, saya senang di hiruk pikuknya jakarta masih ada orang yang mau menyisihkan waktunya menimba ilmu agama.

  10. EXYBAND permalink
    10 Mei 2011 14:33

    hmmm…
    gak heran sih, kadang yg mendidik kita jd org gak sabar ya lingkungan kita sendiri.

    masih inget banget waktu jaman sekolah, klo ada anak yg disiplin malah dikatain gak gaul, culun, cemen, dsb.

    tp klo ada anak yg arogan, gak disiplin, semau gue malah dibilang anak gaul, keren, dsb.

    mungkin hal2 kecil spt itu jd menjadikan sikap kurang disiplin…

  11. 10 Mei 2011 19:01

    dijalan yang lagi panas, otak stress kalo gak segera nyampe tujuan

    http://kangmase.wordpress.com/2011/05/10/cbr-250r-konsumen-dan-kawasaki-harus-berterimakasih-pada-honda/

  12. 10 Mei 2011 19:34

    pernah nyoba, jalan yang sama dilalui dengan santai (gak lambat loh ya) ma sruntulan (he3…ngaku sruntulan juga)
    Hasil:
    sruntulan hemat waktu 15 menit, tapi capeknya dibanding santai…wah gak usah cerita lah…pasti dah pada tau

    ngobrol knalpot aftermarket dengan suara merdu:

    http://umarabuihsan.wordpress.com/2011/05/10/32-knalpot-aftermarket-dengan-suara-merdu/

  13. 10 Mei 2011 19:37

    nambah: keadaan di atas situasional ya

    nambah lagi: habis sruntulan butuh setengah jam buat istirahat, kalau yang nyantai…nyampai rumah langsung bisa beraktiitas lainnya

  14. elang permalink
    11 Mei 2011 11:27

    guys,

    Semua kesalahan yang ada saat ini karena peninggalan masa lampau.
    Maka untuk merubah sifa sifat jelek semua tadi perlu bantuan dari seluruh lapisan masyarakat.
    Dan yang paling penting masyarakat bisa mengontrol, efek jeranya bagus.
    Masuk kepada road safety, kontrol masyarakat digunakan, namun masyarakatnya belum siyap, berarti masyarakatnya di training dulu, diberi pengetahuan dulu, lah ini tugas siapa? tugas setiap individu yang melek safety. Bukan tugas police officer doang.

    Dijalan, di taman, lagi merokok, lagi bok*r tempat umum, lagi dugem, lagi berduaan lagi bertigaan, apalagi briefing. sampaikan tentang pentingnya selamat dan aman dijalan raya.

    Ga usah bosen, ga usah merasa ga punya ilmu, ga usah merasa ga pantes, pada prinsipnya manusia ingin selamat, ingin happy.

    Di jalan raya pengen selamat, di kantor pengen selamat, apalagi di rumah pengen selamat…

    kampanyekan road safety dengan hikmah, sabar.

    Suatu hari nanti tercapai dan tercipta jalan raya yang aman dan selamat. step by step. Mulai dari diri sendiri, orang terdekat, keluarga dll.

  15. nald permalink
    11 Mei 2011 12:06

    om edo..

    saya adalah juga org yg sering lewat pertiggan kalibata tersebut.
    kenapa para pengendara bisa sampe naik ke trotoar deket lampu merah itu juga karena kesembronoan pak polisi, mereka yang menyuruh para pengendara untuk maju ke depan bahkan sampai naik ke trotoar jadi para biker jadi kebiasaan dengan kondisi tsb.

    untuk budaya mengantri dengan kondisi jalan yg mulai sempit spt itu sys rasa gak mungkin biker disuruh bersabar intinya “kalau masih macet2 juga ngapain gw beli motor”, para biker menggunakan motor dengan tujuan untuk menghindari macet.

    kalau sistem lalu lintas dan transportasi bangsa kita masih semrawut spt itu cita2 om edo dan kawan2 lainnya yg mendambakan kelancaran, keamanan dan keselamatan belum bisa terwujud.

  16. 11 Mei 2011 15:49

    …seandainya semua orang ingat pada keluarga yang menanti di rumah, pergi dan pulang dengan selamat…sabar senantiasa mewarnai setiap perjalanan ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: