Lanjut ke konten

Belajar Dari Mereka

3 Mei 2011

istimewa

SAAT bongkar-bongkar arsip, eh ketemu tulisan lama. Pernah diposting juga. Rasanya masih relevan, semoga bermanfaat. Maaf posting ulang.

HUJAN mengucur deras dari langit. Aspal menjadi licin. Angkutan umum terseok-seok, di bagian lain pengendara sepeda motor melamban. Jaga konsentrasi, daripada tergelincir mencium aspal? Tapi masih ada yang memacu bak melenggang di sirkuit. Konyol.

Siang ini, Jakarta hampir merata diguyur hujan. Sambil menanti hujan reda, vixy merah diparkirkan di depan warung kaki lima penjaja nasi uduk. Sebagian celana, jaket, helm, dan sepatu kuyup oleh air hujan saat melangkah masuk ke warung tenda di pinggir jalan itu.

Uppss…ternyata ada juga beberapa bikers berteduh. Mereka juga sudah kebasahan. Sebagian memilih menunggu sambil menyantap lele goreng, sebagian ayam goreng. Lumayan isi perut.
Pilihan saya jatuh pada segelas teh manis hangat. Sekadar mengurangi rasa dingin. Maklum siang itu sudah santap siang di rumah.

Hampir tak ada yang istimewa, hingga….”Bisa pinjam koreknya dik?” Suara lelaki setengah baya.

Kami pun sama-sama menikmati kepulan rokok kretek. Sebuah komoditas yang mampu menyumbang Rp 40 triliun untuk kas negara. Walau lebih dari 4.000 zat kimia beracun yang masuk ke tubuh perokok ketika mengisap sebatang kretek. Menimbulkan aneka penyakit.

“Nunggu ujan berhenti membosankan,” tiba-tiba lelaki yang menunggang motor bebek itu bicara lagi.

“Iya,” Jawabku sekenanya karena asyik mantau email dan pesan di face book dari nokia 9300.

“Pelindung kaki dan jaket septi-nya bagus dik,” celoteh bapak itu. Rupanya orang ini memperhatikan safety gear yang saya kenakan. Rasanya tidak sopan jika menimpali omongan sambil mengetik di ponsel. Saya pun berpaling menatap wajah sang bapak yang saya taksir berusia lima puluhan tahun. Banyak kerut di keningnya. Cerminan memikul kerasnya beban hidup di Jakarta.

“Minggu lalu anak saya kecelakaan motor,” seru lelaki itu lagi. Wah…menarik nih. Gumam dalam hati.

“Lalu,” jawabku.

“Tak ada yang menolong karena takut, kejadiannya malam hari, orang Jakarta mending ngurusin dirinya sendiri daripada orang lain,” kata dia. Tadinya ingin protes, tapi bapak itu keburu melanjutkan.

“Akhirnya ada yang menolong. Seorang pedagang asongan dan sopir angkot, mereka membawa anak saya ke rumah sakit,” tatapan sang bapak menerawang. Terbersit rasa iba.

“Lantas?”

“Penjaga di ruang darurat awalnya enggan menolong sebelum ada jaminan,” ujar lelaki itu sambil menyeruput kopi hitam dari gelas. Tangannya terlihat sedikit bergetar.

“Rumah sakit mahal. Tapi saya bersyukur pedagang asongan tadi dan sang sopir angkot berani bertanggung jawab,” ceritanya lagi dengan intonasi sedikit bergetar.

“Berapa rumah sakit minta jaminan?” Tanya saya.

“Itulah dik, sang pedagang asongan mengeluarkan seluruh uang recehan yang ia dapat hari itu, ada Rp 143 ribu, sopir angkot ada Rp 215 ribu,” paparnya.

Uang segitu mana cukup dan pasti pihak rumah sakit menolak. Namun, sela sang bapak, para penolong anaknya ngotot. Mereka minta rumah sakit menolong dulu sang korban, urusan biaya bisa dipikul belakangan. “Ini soal nyawa manusia!” Bentak mereka, ujar sang bapak menirukan dialog saat itu. Beruntung, lanjut si bapak, ada seorang ibu yang sedang menjenguk suaminya dirawat di situ mau membantu. Terkumpullah uang satu juta dua ratus ribu.

“Akhirnya anak saya yang berlumuran darah ditangani dik,” kisah bapak itu. Sorot mata sang bapak terlihat sayu.

“Bagaimana kondisi anak bapak sekarang?” tanya saya penasaran.

Sang bapak tidak langsung menjawab, ia mengisap dalam-dalam sisa rokok kretek di jarinya.”Meninggal. Karena terlambat ditangani petugas rumah sakit.”

Tak mudah saya mengajukan pertanyaan lagi. Suasana senyap beberapa saat, walau di luar sana suara mobil dan motor lalulalang. Rintik hujan masih memainkan irama alam yang dramatis.

“Makanya saya bilang pelindung lutut, jaket dengan pelindung sikut, dan helm punya adik ini amat bagus buat perlindungan,” tiba-tiba sang bapak angkat bicara lagi.

Ia pun bertutur, saat kecelakaan sang anak yang berusia 18 tahun, tidak memakai jaket, sepatu, dan helm. “Boro-boro pelindung lutut dan siku, kami gak mampu beli dik,” ujar lelaki itu.

Saya cuma terdiam. Hingga sang bapak itu beringsut meninggalkan warung karena hujan tinggal sisa rintik-rintik. Langit Jakarta masih terlihat gelap. Sayup-sayup lagu U Rise Me Up, Josh Groban bak menyayat dari Ipod. (edo rusyanto)

Cililitan, 10 Juni 2009

17 Komentar leave one →
  1. 3 Mei 2011 13:55

    hmmm….begitulah realitas berkendara di Indonesia…

    tapi masa helm juga gak pake sih?

  2. yahonsuwakanja permalink
    3 Mei 2011 14:07

    si Bapak menyesal karena dia lebih memilih rokok kreteknya drpd helm & safety-gear bwt anaknya…

  3. Joko permalink
    3 Mei 2011 14:31

    Anggaran merokok sebulan sudah cukup utk beli helm full face sni lho. Kalau soal rumah sakit, no komen dah, lha wong kita tinggal di negara sakit.

  4. 3 Mei 2011 14:49

    Sangat menginspirasi, walaupun saya sendiri gak tau, apa bisa berbuat lbh baik dari supir angkot itu

    http://www.umarabuihsan.wordpress.com/2011/05/03/kesederhanaan-jaket-dengan-siluet-m1/

  5. kompresi kempos permalink
    3 Mei 2011 14:54

    terenyuh…

  6. sekopati permalink
    3 Mei 2011 15:43

    di atas semua itu, hanyalah sebuah sebab dari yg bernama kematian.

  7. 3 Mei 2011 16:05

    ijin share dengan gaya yang berbeda om..

  8. Arsenal permalink
    3 Mei 2011 19:45

    Masih ada yang menolong,..subhanalloh.,,,
    menurut pendapat kalian semua,..meninggalnya anak itu…siapa yang membunuh?

    • sekopati permalink
      4 Mei 2011 12:02

      ya pemerintah…..karena ketidakmampuan meningkatkan taraf hidup, tidak bisa menyediakan transportasi masal yg murah dan aman, tidak adanya jaminan sosial bagi setiap warga negaranya dan hal lain-lainnya.

  9. 3 Mei 2011 19:52

    turut merenung mbah

  10. 3 Mei 2011 19:53

    numpang iklan

  11. ferry permalink
    4 Mei 2011 04:55

    – bisa beli motor gak bisa beli helm..? jadi bingung….

  12. Silvi Anggraini permalink
    4 Mei 2011 06:20

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

  13. 4 Mei 2011 21:03

    sisi lain kehidupan masyarakat Indonesia… realita sosial yang tak terbantahkan, ketika kita sibuk dengan urusan sendiri tanpamemperhatikan orang lain… layanan RS yang seperti itu, no comment lah… jangankan peserta JAMKESMAS peserta ASKES pun mendapatkan pelayanan yang kurang begitu baik… prinsip RS di Indonesia adalah uang yang pertama masalah nyawa nomer sekian….

    nitip lapak kang
    http://jheren.wordpress.com/2011/05/04/ada-byson-di-motorku/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: