Lanjut ke konten

Yuk Gencarkan Pengajaran Keselamatan Jalan

2 Mei 2011

foto:edo

SETIAP tanggal 2 Mei, bangsa kita menggelar Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Di sekolah-sekolah digelar upacara. Pemerintah Pusat dipimpin oleh Presiden dan Menteri Pendidikan, biasanya menggelar serangkaian upacara juga. Apa makna yang bisa diambil?

Mendidik sebuah generasi bukan persoalan mudah. Sekolah sebagai garda terdepan mencetak generasi yang andal, mungkin masih memiliki sejumlah pekerjaan berat. Di antaranya adalah soal mutu kurikulum dan tenaga pengajarnya. Sekalipun, tak bisa ditinggalkan peran penting kehidupan keluarga di rumah.

Terlepas dari berbagai aspek soal pendidikan, di tengah hiruk pikuk kehidupan masyarakat kita, ada sisi lain yang mungkin terlepas dari sorotan kita. Namanya, kecelakaan lalu lintas jalan. Mungkin dianggap masalah sepele oleh kalangan tertentu. Tapi, sekadar mengingatkan, sepanjang 1992 hingga 2011, sedikitnya 200-an ribu jiwa tewas sia-sia di jalan raya Indonesia. Mereka tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Belum lagi tak kurang dari setengah juta orang yang menderita luka ringan dan luka berat.

Ironisnya, penyebab kecelakaan yang utama adalah perilaku para pengguna jalan, khususnya para pengendara mobil dan sepeda motor. Sebagai contoh, di wilayah Polda Metro Jaya yang dihuni tak kurang dari 10 juta jiwa, faktor manusia berkontribusi sekitar 90% terhadap kecelakaan lalu lintas jalan. Dua hal teratas dari faktor manusia adalah lengah dan tidak tertib.

Di sinilah, menurut saya, pentingnya pengajaran atau pendidikan tentang perilaku berkendara yang santun. Berlalu lintas jalan yang mau peduli dengan berbagi ruas jalan. Tertib dan mentaati aturan lalu lintas jalan yang sudah ada. Kita semua tahu, pak polisi selalu menyuarakan bahwa pelanggaran aturan lalu lintas jalan bermuara pada kecelakaan. Atau simpelnya, kecelakaan kerapkali didahului oleh pelanggaran aturan.

Jika setiap pengendara memiliki pengetahuan dan mentalitas yang tertib berlalu lintas jalan, niscaya mampu mereduksi potensi kecelakaan. Di dalam benak saya, jika merujuk data di wilayah Polda Metor Jaya yang mencakup Jakarta dan sekitarnya, peningkatan pengajaran soal ketertiban berlalu lintas menjadi penting. Maklum, di Jakarta setiap hari tiga orang tewas sia-sia di jalan akibat kecelakaan.

Perilaku yang sudi berbagi ruas jalan dan tertib pada aturan memang tak mudah. Semua harus dimulai dari diri kita sendiri. Namun, tak ada salahnya jika dari sekolah formal soal-soal seperti ini disuburkan. Saya sadari, kurikulum soal keselamatan jalan memang baru seumur jagung. Itu pun, kabarnya, disisipkan dalam segala aspek mata pelajaran. Atau, ada juga yang menyisipkannya dalam kegiatan ekstra kurikuler.

Semoga saja, pengajaran soal pentingnya keselamatan jalan kian gencar. Di Hari Pendidika Nasional ini, saya nitip kepada para pengajar di sekolah-sekolah agar lebih gencar dan tepat sasaran soal keselamatan jalan. Terus semangat. (edo rusyanto)

5 Komentar leave one →
  1. 2 Mei 2011 09:00

    yup, budaya tertib dan disiplin memang perlu ditanamkan sejak dini, tapi kalopun tidak dimiliki oleh kita bukan berarti salah pengajar/pendidik kita, tapi ya salah kita sendiri, ya tho?

    http://kangmase.wordpress.com/2011/05/02/sejarah-permotoran-dari-rx-special-tornado-a100x-jincheng-city-hingga-vespa/

    • 2 Mei 2011 09:03

      Ya. Masalah keselamatan jalan tanggung jawab bersama. Pendidikan menjadi penting, termasuk melibatkan keluarga. Selamat Hardiknas. Salam

  2. 2 Mei 2011 13:20

    yuukk…

  3. 18 Mei 2011 15:16

    Thanks for the blog loaded with so many info. Stopping by your blog helped me to urge what i used to be probing for.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: