Lanjut ke konten

Kisah Pagi Hari

19 Maret 2011

Pemuda itu naik pitam. Didekatinya mobil sedan biru metalik keluaran tahun 2010 yang parkir di depannya.
“Kalau nyopir pakai mata dong. Turun lu, tanggung jawab,” sergah sang anak muda.
Pagi itu dia tergesa-gesa menuju kantor. Bangun kesiangan karena tidur dinihari setelah menonton pertandingan sepakbola Eropa. Kesebelasan pujaannya melawan rival bebuyutan untuk meraih juara liga.
“Maaf dik, bisa kita bicarakan baik-baik,” terdengar suara tenang dari balik pintu sedan yang mulai terbuka.
Suara dari pria yang ditaksir berusia 50 tahunan. Kemudian berlanjut.
“Tidak ada luka yang serius?”
Anak muda yang ditanya demikian langsung nyerocos.
“Bapak gak lihat? Nih tangan saya memar dan terkilir. Kaki saya keseleo. Makanya kalau nyopir yang benar dong,” bombardirnya dengan nafas memburu.
Dia berharap sang pria yang kini berdiri di hadapannya, sudi memahami kondisinya. Luka akibat terjatuh dari sepeda motor yang disenggol mobil biru metalik itu, sekalipun hanya memar menimbulkan rasa ngilu di tangan.
Tiba-tiba. “Bagaimana pak? Maunya apa si anak motor ini?” Suara lantang dari seorang wanita dari balik kaca di bagian belakang sang sopir.
Belum sempat si anak muda berujar, wanita yang tampaknya bos dari pria tadi, kembali berujar.
“Begini aja, saya buru-buru, ini saya kasih uang untuk berobat dan memperbaiki motor kamu. Satu juta cukup yah,” kata wanita yang ditaksir berusia jelang 30 tahun.
“Lagian kan kamu salah, memotong jalur kami tanpa memberi lampu isyarat. Jelas dong sopir saya jadi kaget,” berondong wanita itu lagi sambil menyodorkan lipatan uang pecahan seratus ribuan.
Sang wanita berparas ayu dengan rambut sebahu kemudian meminta sang sopir kembali ke belakang kemudi. Para pengguna jalan yang melintas memperlambat kendaraan untuk sekadar melihat insiden di tepi jalan itu. Satu dua orang pejalan kaki bahkan berdiri cukup dekat.
Sebelum sang sopir sempat menyerahkan lipatan uang milik sang bos, si anak muda berujar. “Saya tak suka dengan cara Anda.”
Anak muda itu mendekat ke kaca belakang sambil tertatih-tatih mendekati sang wanita. “Bukannya minta maaf, malah menilai orang dari materi. Sopan sedikit dong, jangan mentang-mentang orang kaya,” sergah dia emosi.
Tak ada jawaban dari sang wanita. Justeru sang sopir yang meredakan suasana.
“Saya mengerti dik. Kami minta maaf, terlebih saya. Uang ini bukan merendahkan kamu,” suara sang sopir menyejukan.

Sang bapak itu malah bercerita.

”Semestinya saya punya anak seusia Anda. Sayangnya dia dipanggil lebih dulu oleh sang Khalik. Dia kecelakaan sepeda motor. Bedanya, dia tidak memakai perlengkapan seperti Anda. Dia tak berhelm, tak pula memakai pelindung tangan dan kaki seperti Anda,” cerita sang bapak.

Mereka bertiga terdiam. Hanya suara mesin motor dan mobil yang terdengar silih berganti.

”Oh ya, soal Anda tersenggol mobil yang saya sopiri, memang bukan salah Anda seratus persen.  Saya punya andil. Tadi, ketika Anda tersenggol, saya baru saja melepas charger ponsel majikan saya, sehingga konsentrasi saya sesaat terbagi untuk mencabut charger itu, sampai akhirnya tiba-tiba Anda melintas di depan mobil,” tambah sang bapak dengan nada pelan.

Si anak muda itu sudah mulai tenang. Dia juga mulai menyadari kekeliruannya saat memotong mobil secara tiba-tiba.

”Saya juga minta maaf pak. Ya sudah, bilang sama majikan bapak, gak perlu repot-repot ngeluarin duit, saya masih mampu. Lain kali, tak perlu mencabut charger itu pak, biarkan hingga mobil berhenti di tujuan atau di tempat aman dari kendaraan. Saya pamit dulu,” sergahnya.

Usai bersalaman, sedikit tertatih-tatih si anak muda itu beringsut meninggalkan lokasi kejadian. Matahari kian tinggi. Pikirannya melayang ke satu tujuan. Pulang. (edo rusyanto)

16 Komentar leave one →
  1. 19 Maret 2011 11:52

    ambil hikmahnya saja..

  2. 19 Maret 2011 12:03

    selalu jaga konsentrasi saat berkendara..

  3. extraordinaryperson permalink
    19 Maret 2011 12:11

    masalah yang pelik….dua duanya salah

  4. dani permalink
    19 Maret 2011 12:43

    never know until it’s gone

  5. Hadya_HKM permalink
    19 Maret 2011 12:48

    Bisa dijadikan sebagai pelajaran kalo pas terjadi sesuatu yang tidak di inginkan di jalan…

  6. Piet-LAnang permalink
    19 Maret 2011 13:31

    salud buat broo biker tadi n supirnya jaga , yg sma2 mengakui kesalahan n introspeksi diri, kecelakan di jn adalah musibah gak ada yg salah n yg benar semua pasti ingin slamat sampai tujuan,POKOKE KEEP SAFETY RIDING AJA , suatu cerita buat pembelajaran qta ssama pengguna jalan

  7. 19 Maret 2011 14:18

    cerita menarik Mbah… Salam

    • 19 Maret 2011 16:12

      itu kisah fiksi bro. salam

      • 20 Maret 2011 00:29

        fiksi tow… klo nyata, mana ada tu supir sempet2nya cerita2… n, masa sih ga mau nerima duit, hari gini gede gengsi?

  8. 19 Maret 2011 16:09

    lebih nyaman lebih aman

  9. 20 Maret 2011 05:40

    Urusan fiksi yang begini mbah Edo seng ada lawan …
    tapi bagaimana kalau duo CBR justru saling berlawanan?
    http://motoradul.wordpress.com/2011/03/20/adu-popularitas-cbr-250r-vs-cbr-150r/

  10. 20 Maret 2011 08:31

    kenyataannya mna ada orang nolak duit

  11. karismalovers permalink
    22 Maret 2011 07:46

    yang ada mah di jalan berlaku hukum rimba
    lu senggol gue bacok xixixi
    ga ada dialog dialogan

  12. MasHen permalink
    23 Maret 2011 09:52

    syukur deh pada selamat… gak ada pertumbahan darah, gak ada bakar2an… hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: