Lanjut ke konten

Kena Rp 100 Ribu di Ambassador

16 Maret 2011

Ilustrasi. (foto:edo)

 

JUDUL di atas bukan cerita ditodong pemalak. Uang Rp 100 ribu milik Erien harus pindah tempat dari kantongnya menuju kas negara. Nah, sudah tahukan arahnya?

Padatnya arus kendaraan di sekitar Jl Casablanca persis di depan pusat perbelanjaan Ambassador, Jakarta Selatan, menjadi pemandangan rutin. Termasuk, Selasa (15/3/2011) siang, saat Erien melintas dengan sepeda motornya. Tak ada yang istimewa. Semua rutin seperti biasa, kecuali ketika tiba-tiba dia diberhentikan oleh dua polisi lalu lintas (polantas).

”Minggir dulu mas, Anda melanggar peraturan lalu lintas,” ujar pak polantas, seperti dituturkan Erien kepada saya, di Jakarta, Selasa sore.

Dia bercerita, kesalahan yang dilakukannya adalah melintasi zebra cross ketika sudah ada nada bunyi isyarat bahwa pejalan kaki akan menyeberang. ”Alat itu berbunyi, tut tut tut…, saat itu banyak pemotor yang melintas, saya posisinya paling pinggir kiri, kena deh ditilang,” urai Erien dengan nada kecewa.

Bukan apa-apa, lanjutnya, saya terpaksa membayar Rp 100 ribu yang katanya adalah denda titipan. ”Saya diberitahu bahwa dana itu akan masuk ke kas negara. Pak polisi bilang, jangan khawatir, pasti sampai ke kas negara,” tegasnya.

Erien mengaku, dirinya terpaksa memilih menitipkan uang Rp 100 ribu karena bakal kena denda maksimal jika menerima slip biru. ”Pilihannya sulit, kalau ikut pengadilan repot soal waktu,” tukasnya.

Slip biru adalah surat tilang yang bermakna sang pelanggar mengaku bersalah dan bakal dikenai denda maksimal.  Misal, melanggar marka dan rambu jalan denda maksimal Rp 500 ribu, maka dengan slip biru, sang pelanggar membayar sejumlah itu ke bank yang ditunjuk. Sedangkan slip merah, sang pelanggar harus mengikuti persidangan di pengadilan negeri (PN) area lokasi kejadian. Misalnya, kejadian di Jakarta Selatan, praktis ikut sidang di PN Jakarta Selatan.

Nah, soal denda titipan, itu artinya, sang melanggar menitipkan sejumlah dana ke pihak polantas untuk diserahkan ke kas negara.

Erien mengaku dirinya panik. Walau, kata dia, dirinya sempat mengajak ’damai’ agar tidak ditilang. Namun, pak polisi dengan tegas mengatakan bahwa petugas tidak boleh berdamai dalam kasus pelanggaran aturan lalu lintas jalan. Wah, keren nih pak polantas. Salut pak. (edo rusyanto)

 

22 Komentar leave one →
  1. Tukang Ngibul permalink
    16 Maret 2011 12:38

    wah tanda baru lagi tuh mbah…dgn bunyi tuuut…tuuuuttt….kenapa bukan dgn lampu merah….pasti yg jarang lewat situ jadi korban….krn tanda nya yg kurang “lazim”…imho

    • 17 Maret 2011 15:01

      harusnya seperti pintu perlintasan kereta api di Karet tuh yah bro.. ada suara dari speaker agar pengendara berhenti.. bla bla bla… ckckckk… yakin sampe tuh “dana titipan”..???

  2. sekopati permalink
    16 Maret 2011 13:22

    memang ada denda titipan itu oom Edo ???? sekarang kasus yg sama sedang jadi bahasan diberbagai mailist.

  3. Ground zero permalink
    16 Maret 2011 13:26

    Pak pulisi nilang 1,kalo gitu sebelah kanan aman.

  4. 16 Maret 2011 13:44

    @tukang: hehehehe…itu dia bro, unik juga yah.
    @sekopati: ane juga agak heran soal titipan itu, kepada erien ane bilang, kenapa gak ambil slip merah aja? dia bilang, panik dan nggak ngerti soal tilang menilang.
    @zero: betul, kata erien, yg melanggar banyak, tapi dia yg kena karena posisinya di kiri jalan.

    • 17 Maret 2011 15:03

      duuh.. Dilema lagi tuh brader… perlu ditanyakan kepada yg berwenang ttg “dana titipan” tuh bro… dan yg terpenting.. berhenti dibelakang garis putih aja ah dan taati rambu2 biar aman.. hehee

  5. 16 Maret 2011 13:46

    tandanya jelas ga si Mbah, bunyinya itu lho… aku jarang lewat situ soale, ntar kalo lewat mesti waspada siaga 1 neh..

    • 16 Maret 2011 13:49

      setahuku, itu ada zebra cross dan lampu pengatur biasa, merah, kuning, dan hijau. hehehehe

  6. 16 Maret 2011 14:03

    berarti sama seperti di jalan raya cakung mbah
    disana kalo ada kendaraan keluar-masuk dari pabrik-pabrik ada bunyi isyarat seperti sirene perlintasan kereta api 🙂

    nitip curhat mbah 🙂
    http://bladeus.wordpress.com/2011/03/16/benci-dengan-mayoritas-biker-jakarta/

    • 16 Maret 2011 14:09

      berarti, kuncinya memang terletak pada kewaspadaan yg super tinggi ketika berkendara yah? melihat dan adaptasi terhadap lingkungan sekitar. trims infonya bro, salam.

  7. 16 Maret 2011 15:22

    wah ane titip salam sayang lewat pak polkis bisa ngk ya mbah?? :mrgreen:

  8. Abu Tanisha permalink
    16 Maret 2011 15:57

    ane baru posting fatwa ulama perihal pelanggaran lalu lintas chuy

    nih linknya

    http://ramboeistblast.wordpress.com/2011/03/16/fatwa-pelanggaran-lalu-lintas/

  9. 16 Maret 2011 21:14

    nitip??emang gak bisa bayar denda via rekening(transfer) Om??

  10. ground zero permalink
    16 Maret 2011 22:58

    saya paling benci kalo ada orang yang bilang cui,chui ,cuiee,ataou sejenisnya.nadanya gak enak bangets di dengar.seperti meremehkan .

  11. Vyzex permalink
    16 Maret 2011 23:16

    Setahun lalu saya juga melanggar tanda larangan belok kiri.
    Bayar di BRI, dendanya cuma 15 ribu.

    Sampai ngantri, iseng ngeliatin tarif denda yg lain.
    Nggak bawa STNK, 21500
    Nggak bawa SIM, 31500

    Kalo SIM a umumnya dua kali lipat SIM c
    Truk dan bus lebih mahal lagi

    Nggak tau sekrg ya..
    Yg jelas, mending kita cari tahu tarif denda utk tiap pasal..
    Lumayan ngirit, daripada diboongin sama polisi…

  12. smashrider permalink
    16 Maret 2011 23:24

    Pak Edo, memang benar…dilampu lalu lintas zebra cross didepan mall ambassador dilengkapi dengan speaker sirine peringatan. Kalo saya perhatikan,suara yg dihasilkan speaker itu lebih ditujukan kepengguna zebra cross,agar lebih waspada dgn waktu yg diberikan oleh lampu lalu lintas buat menyeberang jalan…jadi semakin cepat interval suaranya,pertanda lampu ijo pejalan kaki dah mau abis 🙂

  13. 17 Maret 2011 07:28

    gila mahal amat 100ribu!! 😯 dasar tuh polisi matre rese banget pake alesan masuk ke kas negara.. kenyataannya pasti duit masuk kantong perutnya si polisi b***s** 😆

    tabrak ajah tuh polisi biar modar 😆 😳

  14. 17 Maret 2011 07:46

    Loh ada bunyi yah ??? waktu ke MKT kemaren koq rasanya blom ada…

  15. Kakang ali permalink
    17 Maret 2011 08:33

    Baru pertama kali tahu nitip tilang Kang.

  16. yudibatang permalink
    17 Maret 2011 08:54

    Coba kalo yang mengalami kejadia pakdeEdo, pasti poto-poto dulu..trus ditulis diartikel.. pasti lebih heboh.. 😀

    http://yudibatang.wordpress.com/2011/03/15/riding-via-pantura-kenali-karakter-pengendara-bus-dijalur-tersebutwaspadalah/

    • 17 Maret 2011 08:58

      hehehehehe….bisa aja mas yudhi. apa kabar nih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: