Lanjut ke konten

Saatnya Tak Perlu Berponsel Saat Berkendara

15 Maret 2011

foto:edo

 

MENELEPON saat mengendarai mobil atau sepeda motor berisiko. Konsentrasi saat berkendara bisa terganggu. Tanpa konsentrasi penuh, boleh jadi potensi kecelakaan lalu lintas jalan kian menganga.

Aktifitas menggunakan ponsel, baik menelepon, mengirim pesan tertulis via SMS atau black berry messenger (BBM), praktis mengalihkan perhatian ketika berkendara. Nah, perhatian yang terbagi antara mengemudi dengan mengetik atau berbicara via ponsel, praktis bakal mengurangi daya reflek atau kesigapan menghadapi gerakan mendadak. Misalnya saja, tiba-tiba ada pengguna jalan yang memotong laju kendaraan, atau ada obyek yang berhenti mendadak di depan kendaraan sang penelepon. Ujungnya? Ya, bisa-bisa insiden kecelakaan.

Pertanyaannya, kenapa kita harus memaksakan diri untuk menelepon, mengirim SMS, atau membaca pesan BBM? Lantas, jika aktifitas berkendara tak terganggu, apakah isi pesan tidak mengganggu konsentrasi?

foto:istimewa

 

Ingin Cepat

Buru-buru. Seperti itulah jawaban yang sering saya dengar ketika bertanya, kenapa harus menerima dan menjawab panggilan telepon saat bermotor. Maksudnya, buru-buru ingin tahu ada kabar apa dari sang penelepon.

Sebaliknya, soal SMS atau BBM, alasan buru-buru juga mencuat, yakni ingin buru-buru membalas pesan atau memberitahu penerima pesan soal kabar tertentu.

Kenapa mesti buru-buru jika masih ada waktu untuk ditunda beberapa saat. Atau, meminggirkan kendaraan ke tepi jalan beberapa saat untuk sekadar menjawab atau menerima telepon. Maklum, di sisi lain juga ada sanksi yang mengintai bagi pemotor atau pengendara mobil yang menelepon sambil berkendara. Sanksinya tinggal pilih, mau denda maksimal Rp 750 ribu atau kurungan badan maksimal tiga bulan.

Walau, kerap saya juga berdiskusi bahwa substansi pesanlah yang menjadi pemecah konsentrasi saat berkendara. Ekstrimnya, jika kabar atau pesan yang diterima substansinya buruk, praktis sang penerima pesan bakal terusik konsentrasinya.

Kalau sudah begitu, sekalipun sudah menepi atau menggunakan alat bantu, pesan yang isinya buruk tadi, bakal terbayang-bayang dalam pikiran. Pikiran yang terpecah itulah yang kadang mengurangi daya respons pengendara terhadap situasi sekitarnya.

Jadi, memang enaknya menelepon ketika tidak sedang berkendara yah? (edo rusyanto)

16 Komentar leave one →
  1. 15 Maret 2011 09:34

    mas lagi ngapain tuch ketawan jajan yach semalem 😆 tuch diomongin ma mbak2 yg didalem angkot 😆

    mbak di angkot : “ehh itu kan si mas pelanggan saya semalem” 😆

  2. AshleyzZzzz permalink
    15 Maret 2011 09:53

    hahahahahah…mang nyebelkan nich orang2 begini…jalannya pelan2..eh ditengah lagi kadang

  3. 15 Maret 2011 10:17

    kalau ini memang ngeri mbah, yakin aku sering liat orang mau nbarak gara2 nelpon

  4. 15 Maret 2011 10:38

    rasa malesnya ngalahin akal sehatnya mas.. dulu aku pernah bahas, 4 sifat dasar pelanggar aturan lalin.

    http://motorbiru.wordpress.com/2011/03/14/iklan-jualan-atau-hipnotis/

    http://motorbiru.wordpress.com/2011/03/14/kali-ini-alay-sudah-kelewatan/

  5. dany :) permalink
    15 Maret 2011 11:08

    Kebanyakan abg…hampir tiap saat ngliat yg seperti itu..diklakson jg tetep kekeh di layar hp qqq.. 👿

  6. 15 Maret 2011 11:08

    itu dia pak… sejauh saya ikut mengamati, yang ada tidak adanya ketegasan aparat di lapangan. dan rata-rata orang indonesia itu sensi dengan suara dering dan getar HP

    numpang foto :
    http://www.facebook.com/album.php?aid=96945&id=1559914291&l=4a789efec3

  7. 15 Maret 2011 11:14

    aku ngak lho mbah..

  8. Hadya_HKM permalink
    15 Maret 2011 12:41

    Dulu waktu kuliah sempet juga nerima telpon, tapi pinggirin motor dulu, kalo sekarang semua jenis hape masukin tas dulu, jadi pas berkendara ga was-was ada sms atau telpon masuk, begitu sampai di tujuan baru deh cek hape lagi, hehe

  9. satrio permalink
    15 Maret 2011 13:15

    alasan lainnya mungkiiiiiin pengen buru buru matiiiii x xixixixi

  10. 15 Maret 2011 20:27

    setuju dengan om Edo..
    klo orang ga pake helm yang kena getahnya kan paling juga si pengendara sendiri..
    klo orang riding/driving sambil smsan… orang ga tau apa2 bisa diseruduk juga

  11. 15 Maret 2011 21:38

    asli nyebelin.apalagi yg pake headset/earphone .orang bego yg denger musik sambil naik motor lewat ear phone.jalan pelan .ditengah.dibel gak denger.masak ditabrak dulu.

  12. Dani Ramadian permalink
    16 Maret 2011 06:38

    pak Edo…
    Mohon juga dijelaskan tdk sekedar
    penggunaan hp, melainkan juga
    para petugas (utamanya) kepolisian
    yg menggunakan HT pd motor dan
    rage pd mobil patroli.
    Juga anggota ORARI serta RAPI yg
    mobile, jg menggunakan peralatan
    di atas…
    Apakah ada prosedur khusus, ato
    “permakluman”???

  13. Kakang ali permalink
    17 Maret 2011 08:37

    Postingan Safety Driving yang bagus Kang.
    Kadang kala kita memang tidak menyadari aktifitas yang membahayakan atau sudah tahu tapi tidak mau tau. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: