Lanjut ke konten

Haruskah Kita Melawan Arus?

3 Maret 2011

foto:edo

 

WAJAH Komisaris Besar (Kombes) Polisi Royke Lumowa tampak serius. Dia membeberkan bagaimana komposisi jumlah polisi lalu lintas di Jakarta dibandingkan populasi kendaraan.

“Jumlah kendaraan di Jakarta mendekati 12 juta unit, sedangkan jumlah polisi lalu lintas sekitar 5.000 orang,” sergah Royke di hadapan para blogger dan undangan, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bukan tanpa alasan pria kelahiran Manado itu, bercerita tentang komposisi tersebut. Secara awam, pernyataan itu bisa ditafsirkan sebagai masih minimnya jumlah polantas dibandingkan populasi kendaraan. Artinya, kata Royke, tidak seluruh wilayah bisa terjangkau oleh aparatnya. Karena itu, di sejumlah ruas jalan praktis bisa terjadi aneka perilaku pelanggaran aturan lalu lintas jalan. Padahal, masih kata dia, kecelakaan lalu lintas jalan kerap diawali oleh pelanggaran aturan.

Salah satu pelanggaran aturan lalu lintas jalan adalah melawan arus. Apa pun alasannya, melawan arus kendaraan berpotensi terjadinya kecelakaan. Apabila para pengguna jalan yang sesuai dengan jalurnya tidak waspada dan cekatan, terlebih kemudian tidak menyadari adanya pelawan arus, peluang kecelakaan kian lebar.

foto:edo

Kita semua tahu, melawan arus termasuk yang mendapat sanksi cukup besar dari UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yakni denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, sanksi pidana kurungan badan maksimal dua bulan.

Namun, kenapa kita harus melawan arus?

Jika jawabannya ingin cepat sampai ke tujuan, bagi saya, tergolong langkah cukup berisiko dan tidak sebanding. Jumlah waktu yang dihemat bisa tidak sebanding dengan risiko yang dipikul. Ada yang punya solusi? (edo rusyanto)

 

21 Komentar leave one →
  1. smashrider permalink
    3 Maret 2011 09:08

    Aku kok yah punya pemikiran, kalo angkutan umum massal nyaman, aman dan tersedia setiap saat…kejadian “melawan arus” nggak bakal ada… gituloh Pak Edo.. 🙂

  2. 3 Maret 2011 09:27

    keduaaaaxxxxx
    kalo dijaln melawan arus jlas jlek tapi di dunia ekonomi itu tantangan,,…
    https://dewataspeedblog.wordpress.com/2011/03/03/minerva-beroli-yamaha/

  3. 3 Maret 2011 10:49

    3…
    sumber kmacetan ia krna angkutan masal blm memadai

  4. 3 Maret 2011 12:39

    Oooooo… melawan arus kayak gini sama aja penyebabnya dengan motor lewat trotoar, ngak munafik om saya juga pernah ikut. Dari arah pulogadung menuju Bekasi menjelang Harapan Indah itu macetnya sampai 3~4 km (rush hour). Penyebabnya motor melewati median karena mobil menyesaki jalan yang seharusnya cukup dua mobil per lajur menjadi 3 bahkan banyak dengan sengaja menutup jalan motor (istilah saya hak pengendara motor dirampas pengguna mobil). Mereka berfikir motor juga harus antri sama sperti mobil.

    Saya kira tidak om, motor punya jalan sendiri yaitu di antara mobil. Kalau hak itu sudah dipenuhi ngak akan ada yang nyebrang median.

    Dalam kondisi normal sekalipun jangan pernah berada tepat dibelakang mobil karena tidak jarang sering terjadi kecelakaan karena bearada dibelakang mobil dan tiba-tiba injak lobang disebabkan pandangan pengendara yang terbatas.

    Sebagai pengendara saya pendukung “Safety Riding” tapi juga ngak mau pengendara motor yang selalu dijadikan sasaran hujatan darai keserakahan orang orang berduit.

    • 3 Maret 2011 12:54

      makasih banget bro atas sharingnya, amat bermanfaat nih, salam.

    • myxfikri permalink
      3 Maret 2011 15:24

      bener tuh. kenyataan di jalan sih emang seperti itu. yang nyebelin sih aturan pemerintah yg terkesan menekan pengguna R2. seperti kalau kita lewat jalur sudirman-thamrin. kan ada tuh aturan jalur motor di sebelah kiri, cuma anehnya kok jalur motor yg di sebelah kiri itu malah di campur sama bus (motor dan bus lewat jalur kiri), bukannya malah memperbesar peluang kecelakaan ya..??
      sampe sekarang masih bingung dengan kebijakan model gitu, apa supaya yg punya mobil itu enak melanggeng di kanan tanpa gangguan bus dan motor yg mereka anggap seruntulan. (padahal kalo tum mobil mau berenti pasti ke kiri). jalur kiri untuk motor-bus-dan mobil yang mau berhenti (1 lajur), jalur kanan untuk mobil aja (2 lajur)

    • 3 Maret 2011 16:34

      aku dulu ngalamin pas tinggal di Wisma Asri..

  5. 3 Maret 2011 13:00

    Kalo kepepet :p

  6. 3 Maret 2011 13:21

    kesadaran masyarakat masih rendah akan hal ini, tp alangkah lebih baik jika pihak terkait jg menyediakan sarana & pra sarana guna kenyamanan pengendara jalan. mulai dari rambu2 lalu lintas, serta tentunya jgn pernah bosan utk meng-kampanye-kan safety riding dlm berkendara. Serta harus ditanamkan “disiplin berlalulintas”.

    • 3 Maret 2011 13:55

      desakan kepada penanggungjawab jalan dan rambu serta marka, memang harus terus disuarakan. jangan memakan korban dulu, baru deh berbuat sesuatu. tipikal pemerintah yg kayak gitu harus terus dikikis. sebagai pelayan publik, semestinya menyiapkan infrastruktur yg memadai.
      di sisi lain, sbagai pengguna jalan, kita sudah selayaknya kian meningkatkan ketaatan pada aturan dan kepedulian dengan sesama pengguna jalan. amin

      • Piet-LAnang permalink
        4 Maret 2011 05:56

        setuju pakDe, jalur lambat harus ada atau mungkin jembatan penyabrangan khusus R2 (mungkin gak ya??)kl yg mau nyebrang soalnya kebanyakan yg ngelawan arus tu mtr yg mau ke arah kanan tpi ada pembatas jalan n puteranya relatif agak rada kuranlebih masih JAUH (alasan aja sih),
        eh ya pakDE gmn gear sinobe nye? revw dong mau ane pasang k vixi ane (info:marun/2008/46000km)

  7. si oom as varioputiih permalink
    3 Maret 2011 13:57

    Yang jelas penegakkna juga perlu oom. kalo yang salah tetep dibiarin, yang bener lama-lama pengen nyobain salah juga. 🙂

  8. extraordinaryperson permalink
    3 Maret 2011 17:48

    aduh jadi malu sendiri kalau ingat saya juga pernah

    http://extraordinaryperson.wordpress.com/

  9. NamaSamaran permalink
    3 Maret 2011 19:09

    @Jumlah waktu yang dihemat bisa tidak sebanding dengan risiko yang dipikul

    Sapa bilang pakdhe…ditepat kerja saya telat 6 kali dalam sebulan dapet surat sakti….lebih baik berangkat lebih pagi daripada lawan arah….tapi kalo kepepet sikatttt…sekali kali main ke jalan raya bekasi kalo pagi….semuaaaanya lawan arah…edane puolll

  10. Oom Soer permalink
    3 Maret 2011 21:35

    Masalahnya kompleks banget mas, pembangunan sarana dan prasarana tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan bermotor saat ini. Plus kurangnya kesadaran penggunanya akan disiplin. Perlu kerjasama antar instansi dan kesadaran pengguna jalan untuk membangun situasi berkendara yang aman dan nyaman

  11. Niko P. permalink
    4 Maret 2011 15:57

    Bro Edo, saya pribadi punya kebijakan: Kalo di jalan tersebut ada median, saya nggak akan melewati median tsb untuk sengaja melawan arus. Hanya saja kalo di jalan tsb tidak ada median yg explisit, kadang2 situasi memaksa saya untuk menyebrang ke jalur berlawanan untuk maju. Saya akui bahwa kelakuan ini tidaklah benar, namun kadang sulit untuk tidak melakukannya karena kendaraan (baca: motor) di belakang saya menuntut untuk dikasih jalan lebih dulu. Hal ini juga seringkali diperparah oleh mobil yang mengambil jalan tanpa menyisakan celah sedikitpun di kiri bagi motor untuk lewat. Alhamdulillah sampai saat ini insiden yang saya alami paling cuman mentok di spion mobil – tapi kalo hal seperti ini dibiarkan terus menerus, tentu kurang baik untuk penerapan disiplin lalu lintas di Indonesia (yg memang nyaris sudah nggak ada, nggak peduli itu angkot, mobil pribadi maupun motor).

  12. kalimalang rider permalink
    4 Maret 2011 16:34

    macet ya kudu sing sabar antri…

  13. 5 Maret 2011 11:58

    kalo liat di foto sih gapapa di jalan lawannya saja tidak macet, kalo lawan arus sementara jalan yang dilawan sudah macet ya itu ga boleh, malah pas lebaran kadang di beberapa jalan dianjurkan lawan arus, karena jalan lawannya lenggang

  14. 5 Maret 2011 13:53

    Sy cm heran kok g mikir keselamata dirinya dg ngelawan arus spt ini, gmn mau mikirin keselamatan org lain…….apa ndak sekolah ya? ato dapet sim nya nembak alias beli ama makelar? Apapun alasannya mau kepepet, nanggung, muter kejauhan deelel….ttp ga bisa ditolerir, penegak hukum juga ga tegas, masih ada pembiaran dg alasan personel ga cukup. kalo gini terus kapan negara ini akan tertib & santun dijalan menghargai sesama. Yg pake dokar (R4) jg byk yg mau menang sendiri g mau ngalah…komplitlah mawut….
    Mari tertibkan perilaku yg membahayakan di jalan raya, tindak tegas jgn pilih kasta/jabatan

Trackbacks

  1. Pembagian Jenis Pelanggaran Lalin Dan Jenis Yang Paling Dihindari « Boerhunt's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: