Lanjut ke konten

Pahlawan Itu…

10 November 2010

foto:tino

SETIAP siang saat menuju kantor di kawasan Jakarta Pusat, saya berpapasan dengan sejumlah pria dewasa yang berdiri di pertigaan jalan. Mereka mengatur lalu lintas tak kenal letih. Pertigaan di kawasan Mega Kuningan tersebut bersumbu pada jalan tembus menuju Jl Gatot Subroto dan Jl Casablanca di sisi lain.
Para pria tersebut membantu mencairkan  penumpukan di pertigaan yang selalu padat di pagi dan petang hari. Kondisi kian semrawut ketika perilaku tak mau antre atau saling serobot.
Pada suatu ketika, di tengah terik sengatan matahari Jakarta, saya menyaksikan seorang polisi lalu lintas (polantas) membantu mendorong sebuah mobil pribadi yang mogok. Upaya meminggirkan mobil ke tepi jalan bermanfaat agar antrean kendaraan tidak menumpuk. Tak ada pamrih.
Tindakan para pria di pertigaan jalan, maupun sang polantas tadi terkesan remeh temeh. Tapi memiliki makna luas bagi para pengguna jalan. Para pria yang saya lihat tak pernah menadahkan tangan berharap uang recehan. Sesekali pernah saya melihat ada pengendara mobil yang memberi selembar uang ribuan. Memang mereka menerima. Tapi tak ada wajah kecut atau sumpah serapah manakala pengguna jalan mengacuhkannya.

***

10 November 1945, Kota Surabaya bermandikan mitraliur arteleri tentara Inggris dan para pendompleng, tentara kolonial Belanda. Tak sedikit nyawa putera bangsa yang meregang. Arek-arek Suroboyo dengan gigih melawan invasi dengan senjata ala kadarnya. Senjata maha dahsyat mereka adalah semangat mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang baru empat bulan diprokamirkan Bung Karno dan Bung Hatta di Jakarta, 17 Agustus 1945.
Bung Tomo yang mengobarkan semangat menghadapi tentara kolonial serta ribuan warga Surabaya pantang menyerah. Buahnya kita nikmati hingga kini, kedaulatan Ibu Pertiwi. Terbebas dari penjajahan fisik.
Semangat 10 November kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Bahkan, Presiden Amerika Serikat Barrack Husein Obama, saat memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Rabu (10/11/2010) pagi, mengaku senang datang ke Indonesia bertepatan dengan hari Pahlawan. Karena itu, dalam salah satu agenda di Indonesia, 9-10 November 2010, Obama akan meletakan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Walau, di sisi lain, kedatangan Obama mendatangkan kemacetan yang luar biasa di jalur-jalur yang dilewati, seperti di Jl Sudirman, Jakarta Pusat.

foto:mu2nz

 

Kita diajarkan sejak di bangku sekolah dasar untuk mengenang ratusan, bahkan ribuan pahlawan yang merebut kemerdakaan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Semua bermuara kepada tegaknya sebuah kedaulatan sebagai bangsa.
Republik kita tercinta kemudian bertumbuh dengan segala problemanya. Negara dengan penduduk tak kurang dari 235 juta jiwa, Indonesia menjadi incaran sebagai pasar global. Indonesia yang melimpah kekayaan alamnya ini, menjadi incaran tangan-tangan kapitalis berkedok mitra yang mensejahterakan.

***

Membangun bangsa yang besar butuh modal tak kecil. Modal paling vital adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) nya. Kualitas manusia yang cerdas, bermoral, sehat, dan berumur panjang. Tanpa hal itu, bisa-bisa menjadi kacung di negeri sendiri.
Ancaman terhadap kualitas SDM pun bermunculan dari segala penjuru. Soal moralitas, ancaman paling besar adalah mengguritanya mentalitas malas, doyan mencari jalan pintas tapi ogah kerja keras.
Soal kesehatan yang memperpendek usia hidup jumlahnya tak sedikit. Maklum, di tengah gaya hidup global pola makan dan pergaulan membuka celah penyakit menyeramkan. Termasuk meruyaknya ancaman pelemahan kekebalan daya tahan tubuh akibat sergapan HIV yang bermuara pada AIDS. Kita tahu penyebaran ancaman yang satu ini melalui jalur yang enak-enak seperti seks bebas dan narkoba.
Ribuan orang tewas dan ribuan lainnya menderita, secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah pun bertindak, bahkan membentuk komisi nasional untuk itu. Dana pun bergulir dari kantong pemerintah untuk mencegah para usia produktif agar tidak menjadi korban. Maklum, seseorang yang terpapar HIV bakal menderita sepanjang hidup, hingga meninggal dunia. Hingga kini, belum ditemukan obat untuk menyembuhkan orang dengan HIV/ AIDS (Odha).
Di tengah itu semua, kita disodorkan fakta aspek lain yang merenggut para usia produktif yakni kecelakaan lalu lintas jalan. Sejak 1992 hingga 2010, tidak kurang dari 300 ribu jiwa tewas sia-sia di jalan raya. Lebih dari setengah juta orang luka-luka atau cacat.

foto:edo

Ironisnya, mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku dari para pengendaranya. Di luar itu, faktor kendaraan dan infrastruktur jalan.

Bicara perilaku, kita semua tahu bahwa unsur utama adalah kemampuan meredam emosi untuk bisa sabar, saling menghargai, dan mau mematuhi aturan lalu lintas jalan. Semakin ugal-ugalan perilaku kita saat di jalan, semakin lebar potensi kecelakaan di jalan. Semakin tinggi pula potensi menimbulkan korban yang selama ini mayoritas adalah para usia muda dan produktif.

Perilaku yang mampu mereduksi itu semua terletak pada kemauan untuk saling menghargai dan berbagi ruas jalan. Sikap santun dan tanpa pamrih seperti teladan para pahlawan negeri ini, atau sikap para pemuda di ujung jalan untuk mengatur lalu lintas dan polantas yang ikhlas mendorong mobil mogok, mampu menyejukkan lalu lintas jalan. Kita semua ingin lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. FB.Alay mode permalink
    10 November 2010 17:10

    Selamat Hari Pahlawan

    Bangsa besar adalah sebuah Bangsa yang dapat menghargai jasa para Pahlawannya..

  2. husni permalink
    11 November 2010 01:59

    Ulasan yg sangat menarik secara keseluruhan… Sy seneng Om Edo mengulas perlunya SDM yg berumur panjang dan produktif…. kehilangan generasi usia produktif berarti lost of wealth dari negara tsb..

    Trims…

    -husni-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: