Lanjut ke konten

Mengerikan, Anak Jadi ‘Tameng’ di Jalan

22 Juli 2010

Berboncengan lima orang berpotensi memicu kecelakaan. (foto:edo)

DI Jakarta, setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kerap dijumpai pengendara sepeda motor yang berboncengan tiga hingga lima orang. Ironisnya, selain orang dewasa, di motor juga terlihat para anak-anak. Komposisinya, dua orang dewasa dan tiga anak-anak, termasuk balita. Hemmm….

Alasan utama orang tua yang membawa anak kecil tersebut karena tingginya biaya transportasi umum. Misal, untuk menempuh perjalanan yang menggunakan tiga kali berganti angkutan umum, seseorang harus merogoh kocek minimal Rp 12 ribu untuk pulang pergi, jika berlima tinggal kalikan saja, hasilnya Rp 60 ribu. Dari sisi efisiensi, waktu tempuh menggunakan angkutan umum bisa dua kali lebih lama dibandingkan menggunakan sepeda motor.Ok, persoalan ekonomi dan efisiensi waktu sepeda motor bisa menjadi solusi. Namun, dari sisi risiko kecelakaan lalu lintas jalan, tentu saja ada perhitungan sendiri. Sang pengendara akan terganggu konsentrasinya jika si anak tertidur atau melakukan gerakan tiba-tiba. Ruang untuk mengemudikan stang motor juga terganggu manuvernya. Belum lagi bicara keseimbangan, termasuk ketika hendak berbelok atau berputar arah.

Di sisi lain, regulasi Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), mengancam sanksi denda atau pidana bagi pengendara sepeda motor yang membawa pembonceng lebih dari satu. Artinya, sepeda motor hanya diizinkan untuk dikendarai maksimal dua orang. Sanksinya bisa denda maksimal Rp 250 ribu atau kurungan badan maksimal dua bulan.

Anak Korban Kecelakaan

Seorang anak bisa menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan manakala ia ikut dalam sepeda motor yang dikemudikan orang tuanya. Anak juga bisa menjadi korban tidak langsung, jika sang orang tua terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Orang tua sebagai tiang ekonomi keluarga, saat menjadi korban kecelakaan akan berpengaruh secara finansial terhadap keluarga. Terlebih jika meninggal dunia, praktis sumber nafkah raib. Buntutnya, kebutuhan ekonomi keluarga terganggu total. Dalam kasus khusus, boleh jadi ada alternatif sumber ekonomi keluarga, namun secara kebanyakan, imbas ekonomi tak bisa dihindari.

Data Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri menyebutkan, usia anak dan remaja yang terlibat kecelakaan lalu lintas jalan berkisar 4,6-9% dari total korban kecelakaan. Pada 2007, dari total 67.081 korban kecelakaan, anak-anak yang menjadi korban sebanyak 3.572 orang atau setara 5,32%. Angka itu sempat menurun pada 2008, namun kemudian melesat lagi pada 2009 menjadi 9,5% dari total korban. (lihat grafik kecelakaan berdasarkan usia)

Secara global, kecelakaan lalu lintas jalan bisa menjadi pemicu kematian nomor wahid pada 2015, jika tidak ada aksi yang konkret dari tiap-tiap pemerintah di dunia. Pada 2005, kecelakaan jalan menempati posisi kedua, sedangkan HIV/AIDS di posisi keempat.

Korban kecelakaan di dunia pada tahun lalu, ditaksir 1,3 juta jiwa dan bakal menjadi sekitar 1,9 juta jiwa pada 2020. Dari segi materi, dana yang dikeluarkan terkait korban kecelakaan diperkirakan sekitar Rp 650 triliun per tahun. Artinya, setiap jam ada dua orang yang menjadi korban kecelakaan di jalan. Hal yang membuat miris juga adalah kecelakaan lalu lintas jalan menjadi penyebab utama kematian bagi anak-anak dan orang muda berusia 5-29 tahun. (lihat grafik)

Menyongsong Hari Anak Nasional (HAN), 23 Juli, tak ada salahnya jika para orang tua lebih meningkatkan kesadaran pentingnya keselamatan di jalan. Isu ini masih selaras dengan tema sentral yang diusung pemerintah dalam Peringatan HAN 2010 yakni “Anak Indonesia Belajar Untuk Masa Depan”. Dengan Sub Tema: “Kami Anak Indonesia, Jujur, Berakhlak Mulia, Sehat, Cerdas Dan Berprestasi.”

Melalui tema tersebut diharapkan seluruh komponen bangsa terinspirasi untuk terus meningkatkan perhatian terhadap pentingnya mempersiapkan anak-anak Indonesia menjadi generasi unggul yang memiliki karakter jujur, berakhlak mulia, sekaligus sehat, cerdas dan berprestasi.

HAN yang diperingati sejak 1986, menurut Pemerintah, pada 2010 memiliki tujuan umum untuk meningkatkan komitmen semua pihak dan menyebarluaskan informasi tentang pentingnya hak-hak anak, utamanya hak untuk memperoleh pendidikan, pengasuhan, perlindungan, perawatan kesehatan dan gizi bagi anak kepada para pengambil kebijakan, orang tua dan masyarakat umum.

Selamat memperingati Hari Anak, tanpa kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

19 Komentar leave one →
  1. 22 Juli 2010 12:52

    dan kasus seperti difoto itu akan semakin banyak berderet dipantura karena musim mudik lebaran 😦 .

    aturan pemerintah dengan sanksi para pengendara yg membonceng keluarga lebih dari satu juga bukan solusi karena jika mass transportasi berjalan dengan baik, kejadian seperti difoto itu dijamin akan berkurang atau bisa tidak ada sama sekali.

    sering kali aturan dan UU dinegeri ini tumpang tindih dan saling menjegal satu sama lain, tidak ada singkronisasi antara satu UU dengan UU yg lain.

    entah apa kerjaan orang2 di Legislatif dan Eksekutif ituh.

    • 22 Juli 2010 12:57

      problemnya memang kompleks, salah satu jurus jitu, menurut aku sih, wujudkan transportasi massal umum yg aman, nyaman, dan selamat. serta, tentu saja terjangkau oleh kocek masyarakat dan akses untuk menjangkau sarana transportasinya.
      soal regulasi dan penegakkan hukum, yuk kita kontrol rame2 agar berjalan sesuai koridor. btw, trims atensinya bro, salam.

  2. Supra XX permalink
    22 Juli 2010 12:54

    duh… no komen dah- sodara juga kayak gini- nekad aja dibilangin_

  3. 22 Juli 2010 14:02

    Hadir gan…
    Wih nekad amat tuh bapak, pa ga bahaya tuh,
    Kira-kira pak pol liat ga ya, trus tindakannya apa kalo liat yg kaya gitu….

    http://shuenk.wordpress.com/2010/07/22/on-screen-keyboard-solusi-jitu-saat-keyboard-asli-macet/

  4. MAZMAN permalink
    22 Juli 2010 14:24

    wah ..kl yg gtuan di tempat aq langsung di semprit pak polsi , biasaa di suruh mbayar donasi shabis di marahi 😀

    • 22 Juli 2010 14:38

      waduhhhh…berarti mesti ditularkan kepada sesama petugas yg lain tuh agar semua tegas, hehehe…trims ya bro, salam.

  5. KillBill1 permalink
    22 Juli 2010 15:21

    Orangtua yang tidak sayang keluwarga mengajak anak dan istri menghadapi kemungkinan bahaya lalulintas yang siap mencabut nyawa.

    • 22 Juli 2010 19:36

      Kalo menurut ane sih bukan tidak sayang bang, tapi lebih ke arah ekonomi dan cara menyayangi yang salah….

      • KillBill1 permalink
        24 Juli 2010 06:19

        betul sekaleee,tapi itu orang gak bisa jadi contoh,Eng…mau selamat sendiri aja,anak bini dibiarkan jadi potensi/calon mayat.

  6. 23 Juli 2010 03:13

    anak anak tumpuan masa depan bangsa…. berikan hak hak mereka untuk bermain bersenang senan dan belajar…. lindungi mereka dari bahaya SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 2010

    MAJULAH ANAK ANAK INDONESIA MASA DEPAN INDONESIA ADA DI PUNDAKMU….:idea:

  7. 23 Juli 2010 10:42

    nah bentar lagi lebaran dan akan terlihat umum tuh di jalan2… :mrgreen:

  8. dnugros permalink
    23 Juli 2010 12:28

    bener om edo…pemerintah harus memberikan moda sarana transportasi dengan mudah, murah, aman dan nyaman jika tidak mau terus-terusan melihat angka kecelakaan dan kemacetan dijalan naik. By the way…isi artikelnya hampir sama dengan yang saya tulis tapi beda tentang cara penyampeannya om…coba cekidot ga ada salahnya koq 😀
    http://dwinugros.wordpress.com/2010/07/23/terus-siapa-yang-bertanggung-jawab-dengan-masalah-kemacetan-ini/

  9. jonas permalink
    23 Juli 2010 13:21

    naik motor sekeluarga biasanya sabtu/minggu untuk jalan2 atau mudik. dg motor jelas lebih murah dari naik angkot (mungkin kalau berkunjung ke kerabat dekat bisa gonta-ganti angkot sampai 3x, total 3 x 5000 x 2 = 30.000 plus ongkos ojek bila jalan masuknya jauh dari angkot : 2 ojek 10.000 x 2 = 20.000) kalau naik motor 2 ltr = 9000. belum dari segi waktu, dg angkot bisa 2,5 jam dijalan, bolak balik 5 jam, pakai motor 1 jam, bolak balik 2 jam. bagi sebagian besar biker yg hidup pas-pasan, keselamatan jadi nomor 3, biaya nomor 1, praktis nomor 2.
    susah memang. motor memang sebaiknya sebagai feeder/pengumpan saja (https://edorusyanto.wordpress.com/2010/07/09/sepeda-motor-sebagai-pengumpan/), seperti transportasi KRL, dari rumah naik motor, parkir di stasiun lanjut dg KRL. kalau naik angkot kan susah gak ada stasiun buat parkir motornya. Busway aja gak punya tempat parkir buat motor sebagai feeder. kalau semua bisa seperti KRL ada stasiun dg parkir yg nyaman bisa 24 jam dan murah (motor 1 hari cuman 3000) konsep motor sebagai feeder bisa jalan, tidak tertutup kemungkinan bakal rame2 naik sepeda (sebagai feeder) kalau ada tempat parkir murah nyaman dan aman.

  10. jeng rondho permalink
    23 Juli 2010 14:10

    kok cuman difoto, bro tegur jg ga tuch bpk nya??

  11. 23 Juli 2010 17:52

    kenapa musti ditegur?
    mustinya (baca:adilnya) dirunut dulu siapa yg salah?

    OKe lah secara hukum bapak itu salah, tapi itu adalah akibat dari ketidakbecusan pemerintah dalam menangani masalah sosial di masyarakat (termasuk peningkatan kesejahteraan).

    Kalau dilihat dari sisi bahaya yg mengintai, bisa dibilang ini faktor yg sangat relatif.
    dan selalu saja hal ini yg menjadi ‘tameng’ para pembuat UU.
    toh, dilihat dari ‘bukti’ secara persentasi ‘setoran’nya masih terbilang kecil (walau meningkat :D)

    intinya, benahi sektor transportasi, tingkatkan kesejahteraan masyarakat, bantai (dalam arti sebenarnya) para tikus di pemerintahan.
    saya yakin dengan sendirinya budaya pada foto diatas akan sirna dengan sendirinya.

    so, blame the government, i must say….

    “Gak boleh boncengan lebih dari 1 orang…!”
    “Kenapa pak?”
    “Bikin motor (pabrikan), bensin (pemerintah), angkutan (si kaya) gak laku aja!”
    “Oooo…”

    wkwkwkwkw….. sorry just mistype. ^_^

    • 23 Juli 2010 19:41

      mantabsss bro, pemerintah harus terus didorong agar mewujudkan transportasi darat yg aman, nyaman, selamat, dan terjangkau. terjangkau secara akses dan finansial.
      trims dah mampir dan mau sharing. salam

  12. 23 Juli 2010 20:29

    Gambar pertama, banyak terlihat ketika mudik lebaran. Ketika mereka ditanya mengapa mudik naik motor hampir semuanya akan menjawab biayanya murah. Disini terlihat Pemerintah tak sanggup menyediakan transportasi masal yang terjangkau untuk lapisan bawah.

  13. AD! permalink
    28 Juli 2010 14:46

    Bapak yg di photo itu kan pasti sangat terpaksa hrs bawa keluarganya pakai motor krn pastinya punya alasan yg sdh dipikirkan matang2x tentang plus minus bawa keluarga pakai motor… klu bapak itu mampu beli mobil pasti dia bawa keluarganya pakai mobil… masa naik motor bawa keluarga seperti itu dijadikan hobby…
    Coba pikirkan kenapa bapak itu sampai bawa keluarganya memakai motor? salah satu faktor Ekonomi, coba pikirkan akarnya yaitu Pemerintah… jgn seenakanya saja bilang “contoh yg tdk baik, anak bini dijadikan calon mayat”… artikel ini melihat dari sudut pandang Duniawi… coba lihat dari sudut pandang Islami… Allah SWT lah sang penguasa nyawa… klu kata Allah SWT hrs mati ya mati… mau pakai alat transportasi apapun danjuga meskipun kita mengikuti aturan lalulintas.
    D sini saya yg mendukung bapak itu bawa keluarganya memakai motor, yg penting jgn sering klu ada keadaan mendesak saja. No Offense for all.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: