Lanjut ke konten

Geliat Sepeda Motor India

13 Juni 2010

foto:edo

Ada yang menyentuh hati saya saat berkunjung ke pabrik sepeda motor TVS Motor Company Indonesia (TVS), di Karawang, Jawa Barat, baru-baru ini. Terlihat wajah-wajah manajemen yang penuh optimistis.
“Pasar Indonesia cukup besar, tidak mustahil, ke depan kami mampu menjual 20 ribu unit per bulan,” tutur Darmady Tjuatja, chief operating officer (COO) TVS.
Boleh jadi, meski saat ini baru seribuan unit per bulan, TVS sudah memiliki pabrik berkapasitas 300 ribu per tahun.
“Pada 2011, kami menargetkan punya kapasitas satu juta unit per tahun,” tukas BLP Simha, presiden direktur TVS.
Pemain bisnis sepeda motor nomor tiga terbesar di India itu, mulai mengoperasikan pabrik di Karawang pada 16 Juli 2007. Produk andalan TVS masih bertumpu pada sepeda motor bebek TVS Neo 110 dan Rockz 125, sedangkan Apache 160 RTR masih mencari celah.
Secara teknologi, motor-motor tersebut tak kalah dengan besutan Jepang yang saat ini menguasai tak kurang dari 95% pangsa pasar Indonesia.

TVS mematok penjualan sekitar 30 ribu unit pada 2010, naik dari sekitar 15 ribu unit pada 2009. Sepanjang Januari-Mei 2010, TVS telah melego sekitar 6 ribu unit, dimana lebih dari 80% disumbang oleh penjualan tipe bebek.
Selain TVS, di Indonesia saat ini juga beroperasi PT Bajaj Auto Indonesia (BAI), perpanjangan tangan dari kelompok usaha Bajaj, India. Di Indonesia, BAI mengandalkan produk Bajaj Pulsar dengan varian Pulsar DTS-i 200 cc, Pulsar  DTS-i 180 cc, Bajaj XCD 1235 cc, dan Bajaj Pulsar 135 LS.

Bajaj Pulsar 180 DTS-i. (foto:istimewa)

BAI, anak usaha Bajaj Auto Limited, India, didirikan pada Juli 2006. BAI mulai beroperasi dengan meluncurkan Pulsar 180 pada Nopember 2006, diikuti dengan peluncuran Pulsar 200 cc pada Januari 2008, lalu XCD 125 pada Juli 2008, dan Pulsar 135 pada 2010. Pada 2009, perusahaan yang merakit produknya di Cikarang, Jawa Barat, berhasil menjual sekitar 11.954 unit sepeda motor dan menargetkan penjualan dua kali lipat pada 2010. Konsentrasi BAI pada segmen sepeda motor sport. Kapasitas perakitan yang disewa dari pabrik PT Proton Edar Indonesia di Cikarang, mencapai 100.000 unit per tahun.

Perluas jaringan

TVS sepanjang 2010 bakal menambah sekitar 100 jaringan dealer yang berfungsi sebagai pusat penjualan, servis, dan suku cadang. ”Saat ini, kami memiliki 100 jaringan di seluruh Indonesia,” kata General Manager Marketing PT TVS Motor Company Indonesia Benny Yuniardi Widyatmoko,  baru-baru ini.

Perusahaan yang telah menginvetasikan sekitar US$ 60 juta di Indonesia itu, menyasar konsumen di luar Jakarta, bahkan di beberapa pulau lain seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Sementara itu, Presiden Direktur PT BAI KS Grihapathy mengatakan, pihaknya akan menambah sekitar 30 jaringan, dari yang ada saat ini 92 jaringan.

Tanpa jaringan memadai, sulit bagi sepeda motor India untuk bersaing dengan incumbent, seperti Honda dan Yamaha. Kedua produsen asal Jepang itu, sudah memiliki ribuan jaringan se antero Pertiwi. Maklum, mereka sudah bercokol sejak 30 tahun lebih.

Dengan jaringan yang luas, diharapkan penetrasi pasar akan kian mudah. Muaranya, penjualan bakal lebih meningkat dan roda perusahaan kian bergulir dengan cepat. ”Pinginnya sih kita tidak harus menunggu 30 tahun untuk merambah pasar Indonesia,” ujar seorang eksekutif di TVS.

TVS Apache 160 RTR. (foto:stephen)

Penjualan TVS dan Bajaj masih di bawah 1% dari total volume sepeda motor di Tanah Air. Sepanjang Januari-Mei 2010, volume di pasar domestik mencapai sekitar 2,95 juta, dari perkiraan sekitar 6,4 juta unit penjualan sepanjang tahun. Tak aneh jika kedua perusahaan itu agresif menyasar pasar Indonesia.

Potensi pasar

Sepanjang empat tahun terakhir, 2005-2008, rata-rata pertumbuhan penjualan sepeda motor di Indonesia sebesar 14,25%, jauh lebih besar dibandingkan India yang hanya 7,85%.

Pada periode tahun itu, rata-rata penjualan sepeda motor di India per tahun sekitar 7,5 juta unit, sedangkan di Indonesia sebanyak 5,1 juta unit. Jika dibandingkan dengan populasi penduduk masing-masing negara, kepadatan sepeda motor di India mencapai 19 per penduduk, sedangkan di Indonesia baru 8 per penduduk.

Artinya, peluang pasar Indonesia yang berpenduduk sekitar 234 juta jiwa, masih cukup besar. Di bandingkan dengan India yang berpenduduk sekitar 1,1 miliar, peluang pasar Indonesia tergolong menjanjikan.

Artinya, tak aneh jika produsen sepeda motor asal India masuk ke pasar Indonesia. Tinggal kita lihat saja, kemana arah selera konsumen Indonesia. Masihkah ke produk-produk asal Jepang? Waktu yang bisa menentukan. (edo rusyanto)

10 Komentar leave one →
  1. 13 Juni 2010 02:44

    Sbuah tantangan besar pabrikan motor non jepang untuk bersaing dipasar motor indonesia..Pabrikan eropa pun yg telah terkenal merk ataupun durabilitasnya gk bisa menyaingi motor jepang..,imho dg harga yg kurang bersahabat dg kantong rakyat indonesia pabrikan macam aprilia,piagio sangat sulit untuk bersaing.. Back to motor india..Citra møtor non jepang memang telah “tercemar” oleh pabrikan motor cina yg jauh dr kata awet..Sehingga mindset konsumen menganggap motor2 diluar motor jepang&eropa diragukan durabilitasnya..Tvs &bajaj kudu meyakinkan konsumen kalo produknya lain dr produk cina ,dg menghadirkan produk2 yg benar2 tangguh secara performa power,torsi &durabilitasnya dan gk kalah penting adalah desain motornya kudu disesuin dg selera konsumen indonesi.Sisi pengecatan kudu diperhatikan benar…Ayo tvs & bajaj buktikan teknologi kalian melebihi motor jepang…

  2. rafiq permalink
    13 Juni 2010 06:02

    Motor sport india desainnya masih indihe bgt kanapa nggak produksi motor sport berdesain internasional and murah pasti laku kaya kacang goreng

  3. penerjemah a.k.a arif rakhman permalink
    13 Juni 2010 06:11

    pabrikan India punya masalah, yaitu mengubah pemikiran dan cara pandang kebanyakan penunggang motor Indonesia. selain itu, 3S memang harus betul-betul diperhatikan. terkadang di antara Honda dan Yamaha ada juga 3S yang masih mengecewakan, padahal kedua pemain itu sudah lama berada di Indonesia, apalagi pabrikan India yang masih “bau kencur” di Indonesia. pabrikan India harus banyak2 berpromosi. pulsar-nya PT BAI lumayan terkatrol naik popularitasnya dengan banyaknya klub penunggang pulsar. tapi, apache? koq gak kedengaran gemanya ya?

    • 13 Juni 2010 10:30

      mengubah mindshet memang bukan hal mudah. juga butuh waktu lama. kecuali, ada revolusi berpikir. pakailah motor yg irit dan ramah lingkungan. nah loh…sayangnya smua produsen belum bikin motor yg spt itu.
      seperti diutarakan bro rovi dan bro rafiq, desain motor sport india mesti menyesuaikan selera domestik yg sudah diracuni oleh event motogp, hehehe…ayo bersaing, agar konsumen lebih banyak pilihan.
      btw, trims all atas atensinya, salam

  4. lekdjie permalink
    13 Juni 2010 07:02

    indonesia itu luas.coba kalo basisnya ngambil di luar jawa,seperti makasar yg cukup pesat,kemungkinan pabrikan luar jepang bisa nyuri porsi yg lebih gede.

  5. engineblock82 permalink
    13 Juni 2010 07:57

    Knp ya motor india koq bs irit?pdhl menganut mesin overbore?trs power jg gak d korbankan dg keiritanx itu?

  6. 13 Juni 2010 10:58

    TVS dan BAJAJ sedang mengalami masalah di service.. banyak partner usahanya (Bengkel Resmi) yg berhenti beroperasi. Harus diganti atau Beres yang sudah ada di upgrade dan diperluas.. cheers..

  7. ndaru permalink
    13 Juni 2010 16:32

    secara teknologi, dasain dan durabilitas sebenernya motor jepang gak kalah sama merk jepang.
    masalah terbesar image dan jaringan 3s-nya.
    klo 2 hal itu dibenahi bukan gak mungkin klo pabrikan india akan ngalahin pabrikan jepang.

  8. arya permalink
    13 Juni 2010 18:33

    pabrik tvs di karawang om,, bukan cikarang.

    • 13 Juni 2010 18:47

      betul bro, saking asyiknya nulis, sampai2 leadnya cikarang. trims atensinya, salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: