Lanjut ke konten

Nyalain Dong Lampu Utamanya….

25 Mei 2010

Sepeda motor wajib menyalakan lampu utama di siang hari. (foto:edo)

JARAK pandang kita saat berkendara di malam hari amat terbatas. Terlebih jika dalam kondisi hujan atau berkabut. Karena itu, kemampuan indera mata kita harus dibantu oleh cahaya. Maklum, kesulitan mata mengidentifikasi situasi di depan kita berpotensi memicu kecelakaan. Gak percaya?

Bagi pengendara sepeda motor, jauh lebih berisiko saat berkendara di malam hari tanpa bantuan cahaya yang memadai. Namun, kenapa kerap kita jumpai pengendara sepeda motor yang enggan menyalakan lampu utama mereka pada malam hari?

Untuk urusan penegakkan hukum sesungguhnya ada instrumennya. Tengok saja Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Pada bagian soal Penggunaan Lampu Utama di pasal 107 dengan tegas disebutkan bahwa (1) pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama kendaraan bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisi tertentu.

Yang dimaksud dengan “kondisi tertentu” adalah kondisi jarak pandang terbatas karena gelap, hujan lebat, terowongan, dan kabut. Aturan tersebut berlaku untuk kendaraan roda dua maupun roda empat alias sepeda motor dan aneka mobil.

Bedanya, khusus bagi sepeda motor ditambah dengan (2) pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari. Nah loh.

Saking seriusnya soal lampu utama, para pembuat undang-undang menyiapkan sanksinya. Ini dia, ada di pasal 293 ayat (1) setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari dan kondisi tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Sedangkan di ayat (2) setiap orang yang mengemudikan sepeda motor di jalan tanpa menyalakan lampu utama pada siang hari sebagaimana dimaksud dalam pasal 107 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 15 (lima belas) hari atau denda paling banyak Rp 100 ribu.

Substansi aturan di atas didasari oleh pentingnya indera kita bekerja mengamati, menganalisis medan, sebelum akhirnya kita mengambil keputusan. Apakah akan berbelok, mengerem, menambah kecepatan,  mendahului kendaraan lain di depan, atau berhenti tiba-tiba. Kalau gelap gulita, bisa-bisa nabrak belakang. (edo rusyanto)



3 Komentar leave one →
  1. ond0l permalink
    25 Mei 2010 12:38

    tapi bukan juga berarti harus nyalain lampu jauh khan (high beam)…
    yang ada sekarang kebanyakan malam2 nyalain lampu high beam yg ada bikin silau orang yg dari lawan arah…

    • w15nu permalink
      26 Mei 2010 13:46

      hihihihi….LIKE THIS brader….!!
      emg cuma orang2 tolol tuh yg kayak gitu…..kalo ditegor, ngelesnya jwb, “emang udah dari sananya ( dari pabrikannya maksudnya ) koq lampunya kayak gini….”, jwbnya dgn nada yg lebih nyolot dia….
      dia pikir gw anak baru blajar bawa kendaraan kali yah, gak bisa ngebedain,ini beneran lampu jauh apa lampu deket yg nyetelnya ketinggian……lah, dr titik fokus pantulan cahaya di reflektornya aja sekilas udh bisa lsg ketauan…..
      kadang2 klo udh terlanjur kesel, org2 kya gitu mah gw geprak aja kpalanya yg kosong itu….biar ngerti….hihihihihi….

      • 29 Mei 2010 14:30

        dan biasanya yang bertindak begitu adalah mobil besar/truk.
        sungguh cermin sikap sak karepe udel e dewe :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: