Lanjut ke konten

Kebangkitan Bikers Indonesia

20 Mei 2010

foto:istimewa

APA yang terjadi hari ini, sekitar 102 tahun lalu di bumi Hindia Belanda? Apa sudah marak kelompok para pengguna sepeda motor? Kenapa harus muncul tulisan ini?

Sejenak kita menengok ke belakang. Setiap 20 Mei, kita disodori peringatan hari Kebangkitan Nasional. Para siswa atau pegawai negeri sipil (PNS) berjajar rapih berupacara di halaman kantor masing-masing. Menyerukan semangat untuk berkarya. Pemilihan 20 Mei, merujuk kepada lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Esensi Kebangkitan Nasional adalah  memberi semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan, mengejar ketertinggalan dan membebaskan diri dari keterbelakangan.

Sekalipun sudah mengenyam kemerdekaan sejak 1945, kehidupan bangsa kita belum sepenuhnya bisa menikmati indahnya kemerdekaan. Masih terendus aroma penjajahan gaya baru. Tengok saja di bidang ekonomi. Negara kita masih berhutang ribuan triliun rupiah kepada lembaga donor internasional. Hutang tersebut bahkan tak akan lunas hingga anak cucu kita lahir nanti. Sumber daya alam kita dikuasai oleh korporasi multi nasional.

Tengok saja di bidang teknologi. Kita belum bisa terlepas sepenuhnya dari negara adidaya. Termasuk teknologi sepeda motor. Negara prinsipal tak pernah rela menyerahkan teknologi mereka begitu saja. Kecuali teknologi yang sudah usang.

Bagaimana di sektor budaya populer? Serbuan televisi dan film Barat demikian merasuk dalam sendi kehidupan masyarakat. Rasanya tidak moderen jika tidak mengerti perkembangan musik Barat atau film Barat. Bahkan, sampai ke urusan perut. Ada perasaan kurang keren jika tidak kongkow di restoran brand global. Malu di sebut generasi warteg. Apa iya, menu warteg kalah oleh restoran cepat saji milik Barat?

Esensi bikers

Nah…bagaimana esensi kebangkitan nasional bagi para anggota kelompok sepeda motor (bikers)?

Bikers tahun 2009. (foto:edo)

Kehidupan bikers dipenuhi oleh budaya impor. Yuk lihat dari yang paling mendasar. Teknologi sepeda motor memang bukan lahir di negeri kita. Sepeda motor masuk saat penjajahan bangsa Eropa di bumi Pertiwi. Selanjutnya kita tahu, prinsipal dari Jepang merangsek hingga mendominasi pasar domestik. Prinsipal asal Amerika Serikat dan Eropa hanya bermain di segmen eksklusif karena harga per unitnya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Belakangan dua prinsipal India ingin ikutan menikmati gurihnya bisnis sepeda motor. Sedangkan, motor produksi Cina sudah merangsek pasar dengan tawaran harga yang lebih rendah dibandingkan pemilik pangsa pasar.

Selain teknologi mesinnya, teknik berkendara, termasuk yang aman dan selamat (safety riding), juga diimpor dari Barat. Termasuk soal berkendara berkelompok (group riding). Kadang, untuk teknik tertentu harus cepat diadaptasi, contohnya, soal lajur kanan dan kiri. Negara Barat umumnya memakai lajur kanan, sedangkan kita memakai lajur kiri.

Kebiasaan bikers lainnya yang diimpor adalah soal touring. Kebiasaan dari kelompok sepeda motor di Barat berkendara secara berkelompok melintas antar wilayah atau negara, sambil menikmati keindahan alam. Kini, touring menjadi menu wajib bagi kelompok sepeda motor. Touring dijadwalkan secara berkala dan ada yang digabungkan dengan ritual mengangkat calon anggota menjadi anggota.

Lalu, mana esensi bikers yang murni milik leluhur negeri ini?

Usut punya usut, esensi Indonesia sejati adalah rasa kebersamaan bin gotong royong. Kita terkenal sebagai bangsa yang saling menghargai, gemar membantu sesama, dan tanpa pamrih.

Rasa kebersamaan dan saling menghargai menjadi kekuatan utama para bikers di Tanah Air. Apalagi, saat ini populasi sepeda motor lebih dari 50 juta unit. Jika satu orang rata-rata memiliki dua unit, artinya ada sekitar 25 juta bikers. Luarrr biasa.

Rasanya, di tengah semangat Kebangkitan Nasional saat ini, para bikers kembali diingatkan rasa kebersamaan lebih utama ketimbang kebanggaan individu dan kelompok. Rasa bangga terhadap produk tertentu yang dipakai, terlalu sempit dibandingkan bangga sebagai sesama bangsa Indonesia. Rasa bangga terhadap kelompok tertentu, masih terlalu sempit dibandingkan bangga sesama bangsa Indonesia.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan saat ini?

Sederhananya, mulai dari diri sendiri. Bersahabat dan santun di jalan-lah ketika berkendara. Tak ada yang bisa dibanggakan, kecuali pulang dan pergi tetap selamat, terhindar dari kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

6 Komentar leave one →
  1. 20 Mei 2010 10:19

    pertamaxxx

  2. 20 Mei 2010 10:23

    sluman-slumun-slamet………

  3. 20 Mei 2010 15:45

    Sayang kedisiplinan belum bangkit

  4. 20 Mei 2010 15:46

    Tp disiplin blum bangkit

    • 20 Mei 2010 22:01

      disiplin harus terus dibina, hehehe…trims bro

  5. chazzy13 permalink
    20 Mei 2010 22:39

    Salah satu contoh kebersamaan yang paling sering terlihat adalah rame2 nerobos lampu merah, atau klo ngga rame2 nongkrong di zebra cross sambil nungguin lampu merah berubah jadi hijau <- payah banget deh 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: