Lanjut ke konten

Produsen dan Pengguna Jalan Berkepentingan UU Lalin?

19 Mei 2010

foto:edo

PERATURAN menjadi penting manakala ditaati oleh para pengguna jalan. Pameo lama bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, sudah usang. Kehidupan warga negara yang kian cerdas, menempatkan aturan sebagai panduan untuk keselamatan saat berlalu lintas di jalan.

Tidak ada kata situasional untuk mentaati aturan. Jika tiap pengguna jalan menterjemahkan sendiri peraturan yang ada, boleh jadi bakal memicu kesimpangsiuran kondisi lalu lintas jalan kita.

Indonesia memiliki Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) sebagai panduan aturan lalu lintas. UU yang disahkan DPR RI pada 26 Mei 2009 dan diteken oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 23 Juni 2009 itu, menggantikan UU No 14/1992 tentang LLAJ.

Selama sekitar 17 tahun, kita tahu kondisi lalu lintas jalan kita terkesan ’semaunya aja’. Ada yang berkendara tanpa surat izin mengemudi (SIM), ada angkutan umum yang berhenti sembarangan, ada kendaraan pribadi yang melaju sekencang-kencangnya, atau ada yang mengemudi sesudah meminum-minuman keras. Bahkan, ada pengendara sepeda motor yang melenggang tanpa memakai helm, berkendara lebih dari dua orang, dan seabreg perilaku lainnya yang jauh dari kondisi aman, nyaman, dan selamat. Buktinya? Sejak 1992-2009, sedikitnya 218 ribu jiwa melayang dan ratusan ribu lainnya luka parah atau luka ringan. Mengerikan!

Peraturan pemerintah

UU No 22/2009 tentang LLAJ butuh peraturan pelaksanaan berupa peraturan pemerintah (PP) untuk implementasinya. Kini, informasi yang penulis peroleh, pemerintah yang mencakup kementerian perhubungan (kemenhub), kementerian pekerjaan umum (kemen pu), kementerian perindustrian (kemenperi), kementerian riset dan teknologi (kemenristek), dan kepolisian RI, sedang sibuk menggodok PP UU tersebut. PP bakal lahir paling cepat tiga bulan dari Mei 2010. Artinya, sudah melewati batas yang disebutkan dalam UU itu sendiri yang menyatakan bahwa peraturan pelaksanaan UU harus ditetapkan paling lama satu tahun sejak UU ini mulai berlaku.

Operasi simpatik polisi wanita di Jakarta. (foto:tino)

Ok lah kita lupakan sejenak soal batas waktu tersebut. Justeru terpenting adalah bagaimana kelak PP bisa mendorong implementasi UU secara lancar dan bisa mengakomodasi kepentingan para pengguna jalan. Baik itu pengendara sepeda motor, pengendara mobil pribadi, pengemudi angkutan umum, pengguna angkutan umum, pemilik perusahaan angkutan, hingga mungkin, para produsen otomotif.

Ketika para pengguna jalan merasa tidak dilibatkan dalam penyusunan UU, saatnya lah dalam penyusunan PP menyuarakan masukan yang bisa mewujudkan aturan yang aspiratif. Seluruh elemen pengguna jalan, tentu pihak yang paling mengetahui kondisi riil di lapangan. Masukan yang komprehensif untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat, rasanya bisa dipertimbangkan oleh pemerintah selaku pihak pembuat regulasi.

Di sisi lain, para produsen otomotif memiliki kepentingan untuk mendukung lalu lintas yang diimpikan banyak pengguna jalan. Misalnya saja, produsen bisa berancang-ancang memproduksi kendaraan yang emisi gas buangnya tidak melampaui nilai ambang batas (NAB) dan memproduksi kendaraan yang tingkat kebisingan knalpotnya tidak melampaui NAB.

Atau, untuk kendaraan roda empat, bisa mempertimbangkan aspek hiburannya. Maklum, dalam UU No 22/2009 disebutkan bahwa pengendara dilarang menonton televisi. Pada produk otomotif tertentu, pada bagian depan tersedia fasilitas televisi atau audio video.

Pada sisi yang paling ekstrim, jika UU mampu mendorong perwujudan sistem transportasi umum massal yang aman, nyaman, dan terjangkau secara akses dan finansial, tidak menutup kemungkinan terjadi migrasi besar-besaran dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Praktis, produksi para agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor dan mobil pun bakal turun drastis. Setidaknya, penjualan di perkotaan bakal menyusut. Wong sudah ada transportasi umum massal yang bagus.

Sudah siap menyuarakan aspirasi Anda? (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. Marwoto oto permalink
    19 Mei 2010 11:41

    Pertamax..

  2. 19 Mei 2010 12:32

    keduaxx

Tinggalkan Balasan ke PB Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: