Lanjut ke konten

Riders Minerva ‘Gugat’ Aturan Knalpot Motor

16 Mei 2010

Sebagian anggota MRC. (foto:edo)

DINGINNYA pegunungan Puncak, Bogor seakan raib. Penghangat yang tiba-tiba hadir bukan sosok penari seksi atau penyanyi bagu rupa nan menggoda. Suasana menjadi hangat, justru ketika membahas knalpot. Kenapa para penunggang sepeda motor Minerva menggugat aturan soal knalpot?

Otomotifnet.com menyebutkan bahwa knalpot adalah alat yang berfungsi untuk membantu meredam hasil ledakan di ruang bakar yang berupa campuran bahan bakar dan udara. Gas buang disalurkan terlebih dahulu ke dalam peredam suara atau muffler di dalam knalpot. Tak heran jika knalpot bersuhu panas ketika mesin sepeda motor sedang bekerja.

Pembahasan yang menghangat di suasana dinginnya malam pada Sabtu (15/5/2010) bukan lantaran perbedaan cara kerja knalpot mesin dua tak atau mesin empat tak. Inilah yang membuat perbincangan menjadi hangat: soal aturan kebisingan knalpot!

Perbincangan yang mencuat di tengah-tengah sharing mengenai safety riding dan UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), bergulir bak bola salju. Sekitar 300 anggota Minerva Riders Community (MRC) yang hadir dalam rangka hari jadi kedua komunitas tersebut, menjadi larut dalam pembahasan soal knalpot. Maklum, mereka adalah mayoritas pengguna sepeda motor berkapasitas mesin 150 cc yang knalpotnya menimbulkan suara bising. Namun, bising menurut siapa?

”Dan berapa batas ambang kebisingan itu,” tukas Black, salah satu anggota MRC Region Jakarta.

Merujuk pada UU No 22/2009, dalam pasal 48 ayat (3) butir b disebutkan bahwa persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal kendaraan bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas sebelas unsur salah satunya adalah soal kebisingan suara. Sepuluh unsur lainnya adalah emisi gas buang, efisiensi sistem rem utama, efisiensi sistem rem parkir, kincup roda depan, suara klakson, daya pancar dan arah sinar lampu utama, radius putar, akurasi alat penunjuk kecepatan, kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban, dan kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat kendaraan.

Seorang anggota MRC sedang menyaksikan tayangan video kecelakaan sepeda motor. (foto:edo)

Sementara itu, dalam pasal 210 ayat (1) disebutkan bahwa setiap kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. Sedangkan pada ayat (2) ditegaskan ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, persyaratan, dan prosedur penanganan ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan yang diakibatkan oleh Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.

”Nah, kalau ada penindakan, itu karena ada perintah dari atasan,” ujar Susilo, anggota MRC Region Bogor, yang juga sehari-hari anggota satlantas Polresta Bogor.

Dia mengakui, di wilayah Kepolisian Bogor, ada penindakan atas penggunaan knalpot yang menimbulkan suara bising. ”Di kantor saya saat ini menumpuk knalpot bising hasil razia,” paparnya.

Kepedulian ATPM

Persoalan menjadi pelik. Menurut bro Yoga, anggota MRC Ciputat, temannya pernah ditilang dengan ancaman denda hingga Rp 1 juta lebih, walau akhirnya dikenai denda Rp 200 ribu.

Definisi knalpot yang membuat suara bising memang butuh kepastian segera agar para pengguna sepeda motor tidak kebingungan. Belum lagi soal penafsiran, knalpot modifikasi dan knalpot bawaan pabrikan. Padahal, bisa jadi, knalpot bukaan bawaan pabrikan atau produk agen tunggal pemegang merek (ATPM), suaranya jauh lebih tidak bising.

Menurut bro Nofan, salah satu anggota MRC lainnya, batasan desibel sebagai ukuran tingkat kebisingan juga terkait dengan hal lain. ”Meski desibel sama, bisa jadi suara yang menyakitkan telinga akan berbeda, karena ada lengkingan tertentu,” papar pria yang bekerja di produsen alarm kebakaran itu.

foto:edo

Bagi Tomtim, salah satu anggota MRC Region Jakarta, pada akhirnya para pengguna sepeda motor menjadi obyek hukum yang lemah. Hal itu mengingat para bikers hanya membeli sesuai dengan yang dibikin oleh ATPM. Ia mempertanyakan sejauhmana peran ATPM membantu konsumennya yang terancam sanksi.

Maklum, sanksi terhadap pelanggar aturan itu cukup berat, lihat saja pasal 285 (1) yang berbunyi setiap orang yang mengemudikan sepeda motor di jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto
Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Tomtim yang sehari-hari juga berbisnis aksesoris sepeda motor itu berharap, semestinya para ATPM terus melakukan inovasi memproduksi knalpot dengan suara yang tidak masuk kategori bising. ”Kalau perlu, ATPM membuat program tukar tambah bagi konsumennya yang sudah terlanjur memakai produk yang dinilai bising,” tukas dia. (edo rusyanto)

26 Komentar leave one →
  1. tomi permalink
    16 Mei 2010 22:25

    huhuhu
    blom ada aturan jelas mengenai hal ini…
    jadi wajar aja klo knalpot ATPM berisik,,,
    padahal knalpot megelli standarny suarany cempreng bikin ga enak hati

    • 17 Mei 2010 10:40

      smoga peraturan pemerintah (PP) mengenai kebisingan bisa adil dan menyerap aspirasi masyarakat. amiennn

  2. inor permalink
    16 Mei 2010 22:49

    Suara senalpot marley dapitson di tilang nggak yah?
    Suaranya yang paling kecil aja naudzubillah menggelegar-nya..

    Berani nindak gak tuh pak.polisi kalo ketemu ama yg begituan…?

    • anto permalink
      24 Mei 2010 04:30

      rata2 segan berentiinnya, paling denger suaranya aja pura2 melengos hahahahhahah

  3. Supra XX permalink
    16 Mei 2010 23:11

    megelli 250 swaranya…

  4. fajex MRCP permalink
    17 Mei 2010 14:07

    klo gw seh setuju aja bro,asal bisa dibuktiin klo knalpot yg dianggapnya bising tu emang bising,caranya dgn alat deteksi kebisingan suara,yg diukur dalam satuan desibel.klo cuma tu kuping pak pol aja yg dipake..gw gak setuju.nah klo gak ada alatnya gak usahla bikin aturan kek gini.matangin dlu,baru bikin aturan.

  5. chadel SRC permalink
    17 Mei 2010 17:39

    om..saya dengar mengenai kebisingan kenalpot ada ukuran’a kurang lebih 60 dk, tau tdk ya om dmn ada alat ukur kebisingan kenalpot tsb?

    • 17 Mei 2010 18:43

      aturan kebisingan knalpot masih belum dipastikan berapa desibel, janji pemerintah, aturan detailnya yakni peraturan pemerintah (PP) untuk UU No 22/2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ) baru akan rampung setidaknya pada agustus 2010.
      soal dimana membeli alat pengukur kebisingan knalpot, aku belum tahu persis, mungkin bro nofun bisa bantu?

      salam

      • wewed permalink
        1 Juni 2010 17:06

        Berarti gak boleh nilang dulu donk… lha juklak nya blom ada.???!

        Apa harus pilih2 nilangnya… moge2 semprul itu gak juga berisik??.. apakah hukum akan berpihak secara adil??

  6. 17 Mei 2010 17:45

    pak edo, minjem fotonya yah.. source tertulis dan ada link ke artikel ini..

    • 17 Mei 2010 17:47

      sama2 novan, aku dah banyak part 1 nya, keren euy. trims juga yah

    • 17 Mei 2010 18:29

      Wah, thank you pak..

      Part-2 sebentar lagi release pak..

  7. 17 Mei 2010 20:50

    bro..
    soal kebisingan knalpot, pakai common sense aja…. kuping kita terganggukah ketika motor itu digeber….
    para bikers pengguna knalpot bukan standar harus ikhlas dan legowo lah bahwa kita hidup bukan sendiri, ada orang lain yg memiliki hak untuk tidak terganggu…

  8. Guruh permalink
    18 Mei 2010 11:37

    knalpot Minerva… mmm.. memang dilemma…

    buat sound level meter bisa di beli di tempat peralatan laboratorium. alatnya portable kok. tapi jangan beli di tempat yang jual reagen (bahan2 kimia). di kantor ada nih. pernah ngukur juga emisi Minerva 150R pake alat kantor. dan memang parameternya masih berada di bawah NAB (Nilai Ambang Batas) / BML (Baku Mutu Lingkungan) yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. 551 tahun 2001 tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan di Propinsi DKI Jakarta serta Peraturan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. 2 tahun 2005, tentang Pengendalian Pencemaran Udara (dengan catatan rajin service dan ganti oli). hanya parameter Lambda yang hampir mendekati NAB (nilai NAB Lambda = 1). Lambda adalah nilai yang di hasilkan dari percampuran antara bahan bakar dengan udara sebagai catalist. jadi kalau nilai Lambdanya mendekati NAB, berarti bukaan klep udaranya kurang lebar.

    nah untuk NAB kebisingan di jalan raya (Fasilitas Umum) adalah 60 dB(A). yang jadi permasalahan adalah NAB untuk di lingkungan perumahan lebih kecil lagi (55 dB(A)). jadi misalnya kalau di jalan raya knalpot motor di anggap memenuhi NAB, masa kalau pas mau masuk lingkungan perumahan (jalan sekunder/tersier) atau rumah sakit, tempat ibadah dan sekolah harus ganti knalpot dulu..??? yang lebih parah kalau mau melintasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang NAB-nya hanya 50 dB(A). kebayang gak tuh repotnya bawa knalpot banyak. hehehehe…

    itu untuk yang di DKI Jakarta. tapi kalau di daerah gak punya peraturan (Perda, Pergub, SK Gub, Insgub), bisa merujuk ke Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. Kep-35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.

    jadi, kalau mau di sinkronkan antara peraturan satu dengan yang lainnya, sebenernya bisa merujuk kepada yang sudah ada. jadi tidak tumpang tindih. sudah jadi rahasia umum kalau pembuat kebijakan antar lembaga dan instansi di negeri Indonesia tercinta ini kurang (saya gak menyebut “tidak”) untuk masalah koordinasi. dan ini sudah sering saya alami secara langsung ketika berhadapan dengan berbagai macam instansi ketika Sidang Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) di Komisi AMDAL. baik itu dari tingkat Kabupaten / Kota, Provinsi sampai Nasional. dan mereka saling menyalahkan antara instansi satu dengan yang lainnya. lucu juga kalo ngeliat “dagelan” itu…

    lho kok saya jadi ngelantur dan kebanyakan comment-nya…?? haduhhh… maaf Pak Edo menuh2in thread-nya.

    Salam,
    Guruh Nurcahyono
    MRC#214

    • 18 Mei 2010 12:43

      justru ane terimakasih sudah diberi pencerahan. buat teman2 yg mampir ke tulisan ini pasti setuju informasi yg ente berikan amat bermanfaat. jangan bosan untuk sharing yah. salam

      • Guruh permalink
        19 Mei 2010 11:45

        saya yang mengucapkan terimakasih karena sudah di ajarkan banyak mengenai Safety Riding. saya juga mohon maaf karena terkadang mem-forward email/catatan serta pelajaran dari Pak Edo ke keluarga dan teman2 saya. karena saya berharap -minimal- jumlah kecelakaan di jalan berkurang. karena sering saya berfikir, mereka yang mengalami laka lantas pasti -entah itu- anak seseorang; ayah/ibu seseorang; kakek/nenek seseorang; pacar seseorang, yang mereka sayangi yang sedang menunggu di rumah.

        mengenai sharing masalah knalpot dan emisi buang kendaraan, sebenernya pengen sharing udah sejak lama. tapi mohon maaf pas mau sharing, kebetulan saya sedang hectic. dan kemarin pas di puncak ingin saya utarakan juga, tapi sibuk ngurusin kepanitiaan. mohon maaf…

        dan mau klarifikasi sedikit, motor saya Minerva 150R keluaran Agustus 2008. trus, saya gak jualan alat2 laboratorium. maksudnya ada adalah di kantor punya karena kantor saya bergerak di bidang jasa konsultan lingkungan hidup.

        makasih ya Pak Edo udah “make a better life”…

        salam,
        Guruh Nurcahyono
        MRC#214

        • 19 Mei 2010 12:02

          sama2 saling mencerahkan bro, itulah gunanya teman, hehehe…trims atensinya yah. salam

  9. 18 Mei 2010 16:09

    standby dan terus memantau perkembangan..

  10. 18 Mei 2010 17:19

    Penjelasan dari Bro Gucay sangat jelas.. thanks Bro..

    Pak Edo, boleh minta izin untuk ambil comment dari Bro gucay sebagai penguat artikel saya sebagai alternatif solusi untuk Masalah knalpot di artikel pak Edo ini..?

  11. 19 Mei 2010 11:01

    kalo silup (polisi) mo nilang, harus dibuktikan dong pake desibelmeter ato apaan…segala tindakan tilang kan harus ada bukti. kalo cuman berisik aja, wooo…kuping tiap orang beda man…kata ayas (aku) dah berisik banget, belum tentu kata orang lain.

  12. 28 Mei 2010 10:36

    Super awesome article! Honest!

  13. susilo permalink
    2 Juli 2010 14:58

    mas edo, saya rasa untuk lebih jelas mengenai UU no 22 th 2009 ttg LLAJ yang mengulas masalah knalpot bising (psl 48 ayat 3) akan lebih afdol apabila kita menyimak Peraturan Mentri Negara Lingkungan Hidup nomor 07 tahun 2009 tanggal 6 April 2009 lampiran II tentang Ambang batas kebisingan Kendaraan Bermotor tipe baru, disitu jelas dijelaskan tentang tingkat kebisingan suara knalpot kendaraan sesuai cc-nya

  14. marco permalink
    2 Juli 2010 16:31

    biasa motor massal kisaran harga di bawah 30 jt pasti ditilang beda dgn motor diatas 300jt seperti ducati , harley pasti dibiarin lewat polisi aja mo nilang kuping nya bisa sooooaaaaakkk

Trackbacks

  1. HUT ke-2 MRC, part 2 « NoFUN's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: