Lanjut ke konten

UU Lalin Berpotensi Gagal?

11 Mei 2010

foto:edo

Implementasi Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) berpotensi gagal. Kegagalan akan berbuah ketidaknyamanan lalu lintas jalan yang bahkan berdampak luas. Mulai dari kerugian finansial akibat pemborosan energi bahan bakar minyak (BBM) hingga kecelakaan lalu lintas jalan.

“Faktor penyebab kegagalan di antaranya adalah ketidakkonsistenan petugas keamanan di jalan untuk menegakkan aturan,” tutur Rio Octaviano, ketua Road Safety Association (RSA), di Jakarta, Selasa (11/5).

Ia mencontohkan, tidak konsistennya penegak hukum atas peraturan kewajiban menyalakan lampu utama oleh para pengendara sepeda motor atau larangan untuk tidak boleh menggunakan bahu jalan untuk mendahului.

Faktor lain adalah masih rendahnya kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas di jalan. “Masih banyak mentalitas mencari jalan pintas sehingga lihat saja ada yang menerbas lampu merah atau sepeda motor melintas di trotoar, hanya demi mengejar waktu,” tegas Rio.

Rendahnya disiplin pengguna jalan hampir menyerang seluruh moda transportasi. Mulai dari pengendara sepeda motor, mobil pribadi, hingga pengemudi angkutan umum. “Sudah demikian rumit, karena itu butuh ketegasan aparat penegak hukum untuk membuat lalu lintas menjadi nyaman, aman, dan selamat,” harap dia.

Ketidaknyamanan lalu lintas jalan sudah meminta ratusan ribu korban jiwa. ”Hingga saat ini, setidaknya sudah lebih dari 218 ribu korban jiwa dan ratusan ribu lainnya korban luka ringan dan luka berat,” tambah Edo Rusyanto, ketua Divisi Litbang RSA.

Ia menuturkan, dampak kecelakaan terhadap para keluarga korban juga amat signifikan. Keluarga yang ditinggalkan bakal memikul beban ekonomi yang lebih berat, terlebih jika sang korban adalah tiang ekonomi keluarga. “Di sisi lain, biaya untuk pengobatan di rumah sakit tidaklah ringan,” kata Edo.

Aturan Pelaksana

Menurut Rio, ada aspek lain yang memungkinkan UU No 22/2009 berpotensi gagal di lapangan. “Perlu aturan pelaksana yang jelas dan sosialisasi yang massif agar masyarakat memahami aturan lalu lintas jalan,” tegas Rio.

Dia mencontohkan,  pentingnya aturan yang detail mengenai berapa decibel tingkat kebisingan yang dimaksud dalam UU No 22/2009. Lalu, kata dia, perlu dipertegas aturan mengenai konvoi kendaraan di jalan. ”Selain harus jelas, libatkan suara masyarakat pengguna jalan dalam penyusunan peraturan pelaksana UU tersebut,” harap Rio.

Tanpa melibatkan suara pengguna jalan, tegas dia, aturan yang dibuat pemerintah bakal tidak efektif. Potensi benturan bakal terbuka luas. Repotnya, kata Rio, benturan itu bisa antara pengguna jalan atau dengan aparat penegak hukum di jalan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Freddy Numberi menyatakan, pemerintah akan merampungkan peraturan pemerintah (PP) untuk UU No 22/2009 sebelum Juni 2010. Aturan pelaksana itu menjadi strategis untuk menopang implementasi UU tersebut agar berjalan mulus untuk mewujudkan lalu lintas yang aman, nyaman, dan selamat. (edorusyanto)

9 Komentar leave one →
  1. 12 Mei 2010 00:12

    semakin banyak aturan semakin banyak pungli, kecuali masyarakat dan pejabat sama2 berkomitmen utk disiplin….

  2. 12 Mei 2010 00:13

    pertamaxxx

  3. tomi permalink
    12 Mei 2010 09:03

    huhuhuhu,,, karena emang petugasny kurang melakukan sosialisasi mengenai peraturan di jalan dan juga karena mudah di suap… dan tidak pernah ada usaha preventif untuk pelanggaran peraturan… contoh kea jalur cepat mereka ada di tengah bukan di pintu masuk jalur cepat, mereka terlihat seperti emang nyari alasan

  4. 12 Mei 2010 09:39

    semua pihak harus ikut serta mensosialisasikan undang2 ini mumpung masih anget…

    apalagi pihak pihak selain pemerintah yang concern soal keselamatan berkendara.

    Dan kontrol masyarakat sangat perlu, agar petugas tidak serta merta menganggap bahwa semua sudah beres.

  5. fadhli permalink
    12 Mei 2010 13:41

    Mungkin lbh tepatny bkan gagal… Melainkan menon-exist kan peraturanny scara tdk lngsung… Panas diawal, lemah ditngah, pupus diakhir… Contohny kendaraan R2 lajur kiri, dlarang melintas dijalur busway… Skrng Back to Basic lg,gk ad pnerapanny lg.. Klo lg iseng y me-Nilang, klo lg males y dprsilahkan lewat…

    • 12 Mei 2010 16:13

      artinya, butuh konsistensi ya bro? hmmm…yuk kita suarakan agar konsistensi menjadi budaya di masyarakat kita. trims

  6. penerjemah a.k.a arif rakhman permalink
    12 Mei 2010 18:36

    Pak Edo, apa sudah cek link berikut ini:

    http://oto.detik.com/read/2010/05/12/113812/1355832/640/uu-lalu-lintas-terancam-gagal

Trackbacks

  1. Berkendara seperti alien (Info dari RSA) « Warung Jomblo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: