Lanjut ke konten

Konvoi Bikers Mesti Dikawal Polisi?

28 April 2010

foto:dok mrc

SEJARAH mencatat, ratusan ribu jiwa tewas sia-sia di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Ratusan ribu anak bangsa menderita luka ringan dana luka berat.

Adakah kita prihatin atas itu semua? Apa bentuk keprihatinan kita?

Dua pertanyaan itu yang terus menggelayuti pikiran ini. Hingga suatu ketika terlintas di benak; ”Aku ingin berbuat, sekalipun kecil, terpenting bermanfaat.”

Satu hal kecil yang bisa dilakukan adalah berupaya untuk tetap santun dan bersahabat saat di jalan.

Lantas, kenapa kadang kita arogan saat berkendara iring-iringan alias berkonvoi? Selalu minta prioritas untuk diberi jalan dari pengguna jalan yang lain? Hmmmm….

Hak Utama

Konvoi yang paling sering dilakukan bikers adalah saat touring ke luar kota. Iring-iringan sepeda motor memanjang membelah jalan. Semakin banyak peserta touring, semakin panjang konvoinya.

Ironisnya, rangkaian kendaraan tersebut kerap meminta perhatian pengguna jalana lain. Ada saja ulahnya. Mulai dari mengacungkan light stick berwarna merah, hingga membunyikan klakson maupun sirene yang dipadu dengan lampu isyarat berwarna merah dan biru.

Namun, belakangan kita mengenal istilah kelompok touring (klotur) yakni pembagian kelompok agar iring-iringan tidak terlalu panjang. Anggota klotur maksimal 10 sepeda motor.

Klotur memudahkan koordinasi dan menghindari rangkaian yang terlalu panjang sehingga berpotensi mengganggu pengguna jalan yang lain.

Maklum, pengguna jalan yang harus didahulukan alias mempunyai hak utama di jalan sudah diatur dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Yuk kita lihat pasal 134 yang menyebutkan pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut:

a. kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;

b. ambulans yang mengangkut orang sakit;

c. kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas;

d. kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;

e. kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;

f. iring-iringan pengantar jenazah; dan

g. konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dalam pasal lanjutannya yakni pasal 135 ditegaskan bahwa (1) kendaraan yang mendapat hak utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 harus dikawal oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau menggunakan isyarat lampu merah atau biru dan bunyi sirene. Lalu pada ayat (2) diuraikan bahwa petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan pengamanan jika mengetahui adanya pengguna jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Alat pemberi isyarat lalu lintas dan rambu lalu lintas tidak berlaku bagi kendaraan yang mendapatkan hak utama sebagaimana dimaksud dalam pasal 134.

Lantas, jika ada aturannya, tentu saja ada sanksi yang mengikuti. Lihat saja pada pasal 287 ayat (4) setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi kendaraan bermotor yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, pasal 106 ayat (4) huruf f, atau pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Kalau begitu, konvoi bikers yang hendak berangkat atau pulang touring mesti dapat kawalan polisi? (edo rusyanto)

12 Komentar leave one →
  1. bocah ilang permalink
    28 April 2010 02:29

    tul betul betul….. ati ati neng ndalan…. ojo koyo balapan……. golek sing pertamaxxxxxx

  2. remcakram permalink
    28 April 2010 07:21

    mas edo, kan sering ditulis tuh sering memberi pengarahan safety riding, dengan menampilkan video ttg kecelakan seped motor…kira kira bisa dibagi gak sih minimal link-nya gt klo mau lihat jg, di youtube ato dimana gt? soalnya kan sy tinggal jauh didaerah .. thanks

  3. 28 April 2010 07:58

    Setuju dgn konvoi dgn pembagian kelompok (klotur).Konvoi mobil ato motor saat ini masih banyak dicibir masyarakat umum. Pandangan negatif akan mereka berikan kepada klub mobil maupun motor. Untuk itu sih sebaiknya kalo gak penting2 amat gak perlu konvoi lah. Gmn menurut bro Edo ?

  4. fesoy permalink
    28 April 2010 09:12

    hmm.. emang sudah seharusnya ada pembagian kelompok dalam touring dalam usaha mengurangi panjangnya iring-iringan touring. Dan dalam setiap kelompok diharuskan ada petugas (road captain, safety officer dan sweeper) yang tentunya sudah lebih terlatih dalam “riding in group”. Dan klo seandainya sudah begini, kayanya udah ga perlu lagi pengawalan Pak Polisi.
    Ada gambaran riding in group yang biasa kita jalankan yang bisa dilihat di http://yvcbogor.wordpress.com/2009/12/30/group-riding-ala-yvc-f/
    mohon masukannya juga..

  5. agus permalink
    28 April 2010 09:33

    Konvoi memang menyenangkan, tapi sebaiknya dilakukan diluar jam sibuk atau di saat jalanan mulai lengang sehingga tidak mengganggu pengguna jalan lain dimana saat ini sudah banyak dipadati roda dua yang mana tidak semua mahir dalam mengendalikan tunggangannya serta belum paham soal “safety riding” (misalnya yang baru punya motor atau baru turun ke jalan).
    Memang gak usah konvoi lah kalau gak penting2 amat, mending janjian atau tentukan tempat2 pemberhentian untuk saling kontrol……………..gimana pendapat bro Edo? saya gak ada maksud menggurui lho……

  6. kontela permalink
    28 April 2010 09:48

    kalau tentang penggunaan light stick itu gimana om, apa penggunaannya diatur juga dalam UU..?

    • 28 April 2010 10:09

      @Kontela, light stick itu apa? Sejenis pedang sinarnya Obi Wan Kenobi itu ya? Ngeri pisan. :mrgreen:

      • kontela permalink
        28 April 2010 10:41

        ya sejenis itu, tapi dibikinnya dari tape om..wkwkwkwk

  7. 28 April 2010 10:14

    @remcakram; trims dah mampir ke blog aku. soal video2 kecelakaan, bisa disearching di youtube dengan kata kunci bikecrash atau tabrakan motor. ngomong2 tinggal di kota mana bro, kalau nanti kita ketemuan aku bawain deh, siapin aja flashdisk minimal 4 giga, hehehe…salam

    @blognyamitra, fesoy & agus; trims dah mampir ya bro. untuk touring, misalnya 35 motor, ada baiknya membentuk klotur yg masing-masing maksimal 10 motor lalu membuat semacam titik kumpul (tikum), tidak usah beriringan. selain lebih efisien, tidak membentuk barisan yg bisa mengganggu pengguna jalan lain, kecuali jika mau meminta bantuan petugas kepolisian untuk mengawal.

    @kontela; light stick tidak diatur secara khusus dalam UU no 22/2009 ttg LLAJ, namun, pemanfaatan light stick ada baiknya hanya saat mengatur barisan untuk parkir atau tanda isyarat ada bahaya, misalnya saat terjadi kecelakaan atau ada jalan berlubang seperti dipakai para pekerja galian di jalan. kalau untuk diacung-acungkan saat berjalan, terkesan arogan. smoga bermanfaat. salam

  8. kontela permalink
    28 April 2010 10:44

    ^Om Edo, oke thx penjelasannya.
    Memang saya sendiri tidak menganjurkan penggunaannya saat acara group riding, karena ditakutkan menimbulkan kesan arogan.
    Karena sering saya liat kalau group2 riding yg “arogan”kebanyakan pake light stick untuk menonjolkan ke”arogansian”nya.

  9. 28 April 2010 11:27

    Yang jelas jangan merasa penting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: