Lanjut ke konten

Satu Malam Dua Tema

26 April 2010

Suasana kopdar Bikersmagz, Sabtu (24/4). (foto:edo)

MALAM minggu (24/4/2010) langit cerah. Bulan bersinar penuh walau terhalang awan tipis. Jalan Jakarta masih ramai oleh kendaraan, meski malam terus merangkak.

Panggung di depan kantor majalah Bikersmagz dijejali oleh puluhan bikers, maklum areal parkir majalah berumur tiga tahun itu tak lebih dari 6 kali 4 meter. Tak pelak, bikers yang lain berdiri di sisi jalan.

Saya yang malam itu berduet dengan bro Jusri Pulubuhu, petinggi Jakarta Devensif Drive Conculting (JDDC) memilih berinteraksi dengan para bikers yang hadir dalam kopdar Bikersmagz dan Kudabesi.com seri dua.

“Saya pernah terprovokasi oleh pengendara sepeda motor lain karena dia ugal-ugalan saat berkendara,” papar bro Jaka, dari King Club Djakarta (KCDj) membuka interaksi mengenai keselamatan bersepeda motor (safety riding) malam itu.

Terusik oleh pernyataan Jaka, saya coba mengajak bikers yang hadir agar meredam emosi saat berkendara. Ruas jalan adalah milik bersama, sedikit emosi bakal membuka peluang kecelakaan di jalan. Bro Jusri yang sehari-hari bergelut di bidang pelatihan keselamatan di jalan menekankan pentingnya mengelola sikap saat berkendara.

Masih soal emosi dan konsentrasi berkendara, bro Apri dari Jakarta Jupiter Club (JJC) menyodorkan pengalamannya. “Saya pernah menolong teman yaitu mendorong motornya yang mogok dengan kaki (stut), tapi belum satu kilometer saya ditilang polisi, kenapa saya ditilang,” tanya bro Apri.

Bro Jusri menilai, polisi wajar menilang karena setiap kegiatan di jalan yang membuka peluang kecelakaan, salah satunya seperti mendorong dengan kaki, bakal mengganggu konsentrasi bikers yang mendorong. “Lebih baik ditarik atau membawa ke bengkel terdekat untuk diperbaiki,” tegas Jusri.

Soal konsentrasi berkendara memang diatur dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pasal 106 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Dalam penjelasan pasal itu diuraikan bahwa yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan.

Ganjaran bagi pengendara yang tidak berkonsentrasi dibeberkan dalam pasal 283 yakni setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).

Malam pun terus bergulir, namun bikers yang ingin sharing masih bertambah. Bro Riko dari TVS minta advice ke bro Jusri mengenai pengereman yang baik saat melaju dalam kecepatan 100 kilometer per jam (kpj).

Bro Jusri yang memang sudah banyak makan asam garam balap sepeda motor membeberkan pentingnya berkonsentrasi untuk mengerem. “Untuk kecepatan tinggi, usahakan 70% rem depan dulu, setelah itu rem belakang. Walau, intinya pengereman dilakukan nyaris bersamaan, depan dan belakang,” papar bro Jusri yang gemar naik motor gede (moge).

Kenapa naik motor

Usai berduet dengan bro Jusri di kopdar Bikersmagz, saya memilih meluncur ke Bulungan Community (Bulcomm) , bersama bro Temmy, sist Myra, dan sist Joan. Ketiganya baru saya temui malam itu, khususnya Joan yang sehari-hari tergabung dalam Honda Riders on Internet (Hornet).

Dari kiri ke kanan, bro Temmy, bro Amir Bikersmagz, saya, Myra, dan bro Didit ketua Yamaha Riders Club. (foto:dok edo)

Sedangkan dengan bro Temmy yang sehari-hari di Redzone dan sist Myra yang sehari-hari di Yamaha Matic Mailing List (YMML), kerap berinteraksi via dunia maya.

Kami berempat sepakat untuk mencari kudapan di Bulungan, sebuah kawasan di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kawasan itu terkenal sebagai salah satu lokasi kopdar kelompok sepeda motor.

”Bullcom itu semacam ’rumah’ bagi kelompok sepeda motor yang biasa kopdar di Bulungan, saat ini ada empat klub yang bergabung,” ujar bro Kopral, mantan ketua umum Hornet yang saya temui di lokasi kopdar Bulcomm.

Selain kami, sudah ada sejumlah bikers yang asyik ngobrol sambil menikmati hidangan dan minuman di tenda Bulcomm yang berada persis di depan GOR Bulungan. Saya memilih memesan pisang bakar dan minuman coklat hangat. Myra dan Joan memesan mie rebus dan minuman coklat dingin, sedangkan Temmy memesan minuman coklat dingin.

Obrolan soal safety riding pun bergulir diselingi suara knalpot motor dan mobil yang lalu lalang di jalan itu. Sesekali terdengar klakson sapaan dari kelompok sepeda motor yang melintas, kami pun menjawab dengan lambaian tangan serta sesekali berteriak sebagai isyarat menjawab sapaan mereka.

”Menurut saya, saat ini masyarakat lebih memilih sepeda motor sebagai alat transportasi karena kepraktisannya,” ujar bro Temmy yang pernah menjadi Kapten Insert.

Hal itu ditimpali Myra yang mengaku harus mengeluarkan Rp 20 ribu untuk transportasi untuk menuju kantor. ”Itu untuk sehari, belum lagi waktu yang diperlukan cukup lama dibandingkan naik motor,” papar Myra yang kini parttime di JDDC.

Saya termasuk kelompok yang berpikir, permasalahan kecelakaan dan sepeda motor bisa direduksi secara alamiah jika moda transportasi massal yang aman, nyaman, dan selamat bisa disediakan secara massif oleh pemerintah.

”Tapi ada unsur lain, kemudahan dalam membayar uang muka untuk kredit motor amat murah, ini membuat masyarakat memilih membeli motor,” tukas bro Temmy.

Sepeda motor kini menjadi alternatif karena sistem transportasi massal yang belum nyaman dan terjangkau secara akses maupun secara ekonomi. Tak heran jika populasi sepeda motor di Tanah Air mencapai sekitar 60 juta unit lebih, bandingkan dengan mobil yang berkisar 10 juta unit.

Di sisi lain, kecelakaan lalu lintas sepanjang 17 tahun terakhir sedikitnya 218 ribu jiwa tewas sia-sia, dan ratusan ribu lainnya luka parah dan luka ringan. Ironisnya, mayoritas kendaraan yang terlibat kecelakaan mayoritas adalah sepeda motor. Tragis.

Obrolan yang agak berat di tengah malam terus mengalir. Jelang tengah malam, kami pun harus memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing, maklum jarum jam menunjukkan pukul 00.30 WIB. Sudah masuk ke hari Minggu (25/4). Langit cerah dengan cahaya bulan yang bersinar penuh. Saya pun melaju dengan Vixy merah membelah dinginnya malam. (edo rusyanto)

6 Komentar leave one →
  1. amyra permalink
    26 April 2010 08:16

    makasih om edo:)

    kapan2 kita ngobrol2 lagi ya…..

  2. 26 April 2010 16:30

    Halo om .. artikelnya TOBh … salam kenal om, kita baru ketemu pertama kali ya om? .. hehehe Selain murah .. motor juga kendaraan paling berbahaya kan ya om?

    • 26 April 2010 20:14

      trims sistjoe…makasih dah diajak mampir ke hornet. sepeda motor berbahaya krn secara alamiah mudah tergelincir dibandingkan mobil yg beroda empat, lebih berbahaya lagi jika perilaku pengendaranya ugal2an. hmmm…pengen minum coklat hangat lagi nih di bulungan.

  3. amyra permalink
    27 April 2010 09:22

    ok ok….. next main2 k kopdar d panahan senayan yah om:))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: