Lanjut ke konten

Busway, bukan My Way

27 Desember 2009


foto:edo

PEKAN lalu kita disodorkan fakta, jumlah kecelakaan di jalur khusus bus (busway) Transjakarta melesat sekitar 60% dibandingkan tahun 2008. Meski baru data Januari-Oktober 2009, korban jiwa sudah mencapai 12 orang, sedangkan luka-luka membludak yakni 268 orang. Setahun sebelumnya, korban luka sebanyak 167 orang, sedangkan yang tewas 13 orang. Memilukan.

“Kecelakaan di jalur busway terjadi lebih didominasi akibat ketidakdisiplinan pengemudi kendaraan bermotor roda dua dan roda empat di jalur khusus busway yang memang tidak boleh dilewati mereka,” jelas Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta Daryati Asrining Rini, seperti dilansir Investor Daily, Sabtu (26/12).

Lagi-lagi, masalah disiplin menjadi biang kerok kecelakaan di jalan.

Menengok ke belakang, jalur busway dibuat demi mengurai kemacetan di jalan kota Jakarta. Proyek yang mulai diterapkan pada 2004 yakni ruas Blok M-Kota, dinilai cukup membantu masyarakat. Pada 2009, seperti dikutip dari situs http://transjakartabusway.com, Transjakarta telah mengoperasikan 426 unit bus di 8 jalur (koridor) yang menjangkau hampir seluruh penjuru ibukota Jakarta. Per 21 Februari 2009, koridor tersebut meliputi;
1. Koridor I Blok M – Kota
2. Koridor II Pulogadung – Harmoni
3. Koridor III Harmoni – Kalideres
4. Koridor IV Pulogadung – Dukuh Atas
5. Koridor V Kampung Melayu – Ancol
6. Koridor VI Ragunan – Kuningan
7. Koridor VII Kampung Rambutan – Kampung Melayu
8. Koridor VIII Lebak Bulus – Harmoni
Sepanjang 2004-2008, Transjakarta telah mengangkut 200 juta perjalanan.
Pengoperasian Transjakarta ditangani badan khusus yang sesuai SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 110/2003 tentang Pembentukan Badan Pengelola (BP) Transjakarta. Pada 2006 melalui Peraturan Gubernur Nomor 48 Tahun 2006 BP Transjakarta – Busway diubah menjadi BLU Transjakarta – Busway yang bernaung di bawah Dinas Perhubungan, Provinsi DKI Jakarta.
Transjakarta sebagai sistem angkutan umum bus rapid transit, memang belum berkutik di tengah cengkeraman kemacetan jalan Jakarta. Menurut catatan Bambang Susantono, ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), tahun 1995, kendaraan di Jakarta melaju pada kecepatan sekitar 20-30 km/jam. Kondisi itu menyusut, pada 2007, menjadi hanya 15-20 km/jam.

Problem transportasi Jakarta yang saat ini dihuni sekitar 8,5 juta jiwa itu, tak pernah ada habis-habisnya. Persoalan utama bukan lagi soal jarak tempuh, melain waktu tempuh. Kadang, untuk menempuh jarak tiga kilometer saja butuh waktu hingga 30 menit. Mayor Jenderal Marinir Ali Sadikin yang menjadi Gubernur Jakarta pada 1966-1977, tentu tidak sepusing Fauzi Bowo, gubernur DKI Jakarta saat ini. Maklum, populasi kendaraan kita meningkat drastis. Kini, setidaknya terdapat 7,3 juta sepeda motor dan sekitar tiga juta unit kendaraan roda empat dan lebih. Di sisi lain, laju pertumbuhan panjang jalan tidak lebih dari 0,01% per tahun. Ironis.

Kehadiran busway yang diharapkan menjadi angkutan umum bus rapid transit (BRT) banyak dinantikan orang untuk mampu menyodorkan alat transportasi jalan yang aman, nyaman, dan terjangkau. Bambang Susantono yang kini Wakil Menteri Perhubungan dalam bukunya 1001 Wajah Transportasi Kita sempat menyebutkan, dari tiga kunci sukses busway salah satunya adalah jalur khusus BRT jangan terganggu oleh lalu lintas lainnya. Nah ini yang repot. Kita tiap hari menatap lalu lalangnya kendaraan pribadi, angkutan umum non-Transjakarta, dan apalagi sepeda motor di jalur busway. Buntutnya? Seperti di pembuka tulisan ini. Terjadi peningkatan kecelakaan.

Penting terjadi peningkatan kesadaran para pengguna jalan agar melintas di ruas yang sesuai peruntukkannya. Sepeda motor kini dibuatkan lajur khusus di sekitar Jl Sudirman dan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Lalu lajur non-busway juga tersedia seperti awal dibangunnya jalan tersebut. Memang, busway dibangun di atas jalan umum yang semula diperutukkan bagi seluruh angkutan. Lajurku ya lajurku alias my way, sedangkan lajurnya busway ya khusus BRT tersebut.

“Intinya kurangnya kesadaran berlalu lintas bukan soal jalurnya. Program busway sudah bagus, hanya pelaksanaannya kudu dibenahi,” ujar Rahmat Dito Faisal, seorang pengguna jalan yang aktif di busmania.

Menurut dia, kalau program busway jelek kenapa di Bogota, Kolumbia berhasil? “Padahal sama-sama memakai jalanan umum,” katanya.

So…busway bukan my way? (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Anonymous permalink
    28 Desember 2009 00:59

    biasa om, orang indonesia etika, displin dan kesadarannya masih dibawh garis rata-rata, bisa dimaklumi karena yang bisa jadi faktor pendidikan, bisa karena tingkat pendidikan dan kualitas pendidikan kita yang masih berkualitas 'nunduk', dan satu lagi faktor mentalitas. makanya di bogota sukses karena kualitas, mentalitas masyarakatnya. coba deh lihat, masuk jalur busway aja kayaknya jadi keharusan, ga yang pake motor, ga yang pake mobil (kadang banyakan mobil mewah). so kualitas, mentalitas dan budaya mempengaruhi. lha yang naik trans jakarta pu juga gitu, pake dorong2an, ga sabaran, bejubel di depan pintu halte yang diperutukan untuk penumpang yang akan turun sampai kadang ga dikasih liwat, padahal armadanya cukup banyak,dan ga perlu dorong2an (saya pernah pakai armada ini saat mongtor sayah ilang, jd cukup jadi konsern juga soal kedisiplinan dan 'kenorakan' penumpang transjakarta). untuk provider trans sendiri, juga masih ada kekurangan yaitu kurang banyak armadanya, mask klo pagi orang bejubel didalm bus (malah mirip kopaja sama metromini), suck! juga.ya balik lagi jadinya beginilah potret 'Indonesia' ku.plus-minus dah!-redbugs-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: