Lanjut ke konten

Hati-hati di Jalan Nak

22 Desember 2009


foto:dok ibc

IBU tak pernah lupa mengatakan, “hati-hati di jalan nak.”

Kalimat yang dilontarkan sepenuh hati tersebut terus mengiang. Saat kelas satu SD, kalimat itu sulit dimaknai lebih dalam. Hanya bak ritual agar aku tetap waspada menuju ke sekolah dan kembali ke rumah. Saat itu, aku ke sekolah berjalan kaki. Maklum, alat transportasi yang ada hanya dipakai ayah untuk bekerja. Tidak ada angkutan umum melintasi rute tersebut.

Memasuki masa kuliah, kalimat ”hati-hati di jalan nak,” masih terus diucapkan ibu yang usianya terus menua karena usia. Tatap matanya yang sendu dengan kekerasan hati untuk terus mendorong sang anak meraih pendidikan tertinggi seakan menyulut semangat ku. Saat kuliah, lalu lintas jalan yang ku temui kian bervariasi. Kesemrawutan lalu lintas (lalin) mewarnai kesibukan menuju dan pulang dari tempat kuliah. Tak jarang menjumpai korban kecelakaan. Entah mereka yang menabrak kendaraan lain, maupun kecelakaan tunggal.

Kalimat ”Hati-hati di jalan nak” kian merasuk. Kalimat itu memiliki makna yang amat luas. Terus membuka mata dan hati ketika memasuki masa awal pernikahanku. Kalimat yang dilontarkan dari seorang ibu yang jujur, polos, dan hanya membantu suami merawat anak dan keluarga. Wanita yang tak pernah neko-neko. Jauh dari hingar bingar metropolis yang membius diri.

Kini Ibu telah kembali ke Sang Khalik. Kalimat-kalimat yang ia ucapkan masih terus membekas dan menyejukkan hati. Terlebih, kalimat pentingnya kehati-hatian di jalan. Kalimat yang dulu hanya dianggap basa-basi, ternyata bermakna dalam. Kalimat itu memiliki dua substansi penting yakni soal perlunya kewaspadaan saat berlalu lintas di jalan dan pentingnya saling menghargai di jalan. Kedua substansi itu tulang punggung utama terwujudnya lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat.

Keluarga memiliki peran penting membentuk perilaku yang tidak ugal-ugalan di jalan. Kehangatan kasih sayang keluarga serta sentuhan kasih seorang ibu, memberi fondasi kesadaran saling menghargai, termasuk ketika berlalu lintas di jalan. Maklum, perilaku menjadi pemicu kecelakaan yang dominan. Kebiasaan mencari jalan pintas dan mengabaikan hak orang lain merupakan akar melanggar marka jalan, melibas trotoar, hingga saling serobot di jalan. Tidakkah membuat jera dengan hilangnya 50 nyawa setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas di jalan?

Figur ibu menjadi vital membentengi watak anak-anaknya. Ibu yang berhati lembut dan penuh kasih sayang mencetak perilaku generasi yang memahami arti pentingnya saling menghargai ketika di jalan.

Kini, di tengah arus budaya popular yang dihembuskan lewat media massa, film, internet, dan siaran televisi. Figur perempuan yang ditampilkan demikian seronok. Mudah emosional, gemar mencari jalan pintas, bahkan meradang dengan meminum alkohol hingga merokok. Padahal, zat-zat yang terkandung di barang-barang tersebut bakal membuat perilaku yang hiperaktif, agresif, dan mudah tersinggung. Semua perilaku itu bisa memicu berkendara yang ugal-ugalan.

Di sisi lain, infotainment membesar-besarkan kabar perceraian di antara keluarga selebritas. Padahal, sosok selebritas kadang menjadi panutan pemirsa. Perceraian dianggap menjadi hal lumrah. Sosok ibu menjadi karut marut.

Dengan kondisi demikian, bagaimana ia bisa membesarkan anak dan menghangatkan keluarga dengan pesan-pesan substansial tadi?

Jangan-jangan, sosok ibu yang seperti itu lupa untuk berkata, “hati-hati di jalan nak.” (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Heru permalink
    23 Desember 2009 06:31

    Hmmmm…. jadi inget ibu-ku, hiks.. hiks.. hiks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: