Lanjut ke konten

Penyegaran di IBC

21 Desember 2009

SUDAH lama ndak melahap tikungan dan tanjakan kawasan Puncak, Bogor. Sabtu (19/12) dinihari, dinginnya udara Puncak menusuk hingga ke tulang. Gelap malam menemani vixy merah meliuk-liuk dengan kecepatan 80-90 kpj. Sesekali berpapasan dengan mobil pribadi, bus, dan rombongan sepeda motor. Lumayan.

Vixy merah gak sendiri. Kami bertiga, ada sist Fatiyah dengan Honda Bladenya dan bro Ade Jun dengan Pulsar 180 DTS-nya. Ini adalah rombongan terakhir dari rangkaian konvoy 12 sepeda motor anggota Independent Bikers Club (IBC).

IBC yang lahir 30 Desember 2006 itu, menjadwalkan penyegaran di internal. Mulai soal keselamatan berkendara (safety riding), kepengurusan, atribut organisasi, hingga struktur pengurus. Semuanya dibalut dalam touring Jakarta-Cibodas, 18-20 Desember 2009.

Malam minggu biasanya dipakai anak muda berkencan. Jalan-jalan ke mall atau asyik mahsyuk sambil nonton film di bioskop. Ada juga yang berseronok dengan gempita musik di sudut cafe atau diskotik. Malam minggu IBC di Cibodas justru diisi sesuatu yang berbeda. Belasan anak muda anggota dan simpatisan IBC asyik merancang sepak terjang memasuki fajar 2010. Menyongsong tahun yang lebih bergairah.

Klub pengguna sepeda motor yang digagas oleh sejumlah jurnalis Investor Daily itu, terus melenggang di dengan beragam aktifitas. Mulai dari seminar, safety riding goes to school, touring, hingga bakti sosial.

Selaku Ketua, saya kerap mengajak agar para anggota muda IBC tak pernah lelah untuk berbagi. Dalam rapat di Cibodas malam itu, mencuat soal pentingnya komitmen. “Komitmen harus terus dibangun,” seloroh Nury Sibli, sang simpatisan yang gemar fotografi.

Ya. Komitmen menjadi isu penting bagi para anggota kelompok sepeda motor. Tak jarang hal itu malah bikin runyam. Istilah anak muda saat ini, maaf, anget-anget tai ayam. Sewaktu-waktu penuh antusias, selebihnya lenyap ditelan bumi. Komitmen yang kerap mencuat adalah mentaati aturan soal iuran. Berapa pun jumlahnya, kadang dirasakan memberatkan. Padahal, jumlah itu sudah disepakati bersama. IBC menerapkan iuran Rp 20 ribu per bulan. ”Pemanfaatan uang iuran harus disosialisasikan terus agar iuran lancar,” tukas bro Acoy, anggota IBC yang baru saja tukar guling Vixy dengan Kawa RR 150.

Setelah berembuk cukup alot, besaran iuran diubah menjadi Rp 5.000 per bulan. ”Tapi kalau ada yang mau ngasih lebih ya silakan,” papar Nury.

Penyegaran seputar pengurus juga bergulir. Struktur IBC semula terdiri atas, ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan sejumlah divisi yakni pemberdayaan organisasi, pemberdayaan anggota, humas, usaha. Masing-masing divisi diisi oleh satu penanggung jawab yakni Tata, Alam, Euis, dan Hadi. Sejak malam itu, muncul nama-nama pelapis divisi yakni Irfan, Acoy, Sontry, dan Fatiyah.

Tekankan Safety

Memasuki penyegaran pemahaman safety riding sejumlah tayangan audio visual mengajak peserta touring IBC malam itu kian antusias. Sejumlah materi pun bergulir yakni tentang group riding, analisis medan jalan, hingga pentingnya pemahaman mengenai aturan baru lalu lintas yakni UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Saya tetap terus mengajak agar seluruh anggota dan simpatisan IBC menerapkan perilaku dan ketaatan pada aturan lalin. Urusan keterampilan berkendara hanya menjadi landasan saat kita berlalu lintas di jalan. Maklum, perilaku menjadi batu sandungan utama dalam mewujudkan lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat.

Walau, tanpa sistem transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau, jumlah kecelakaan sulit untuk direduksi secara optimal.

Penyegaran di IBC secara harfiah dijalankan pada Sabtu siang.Air terjun Cibodas menjadi latar belakang. Momentum bermandi ria jadi rangkaian penyerahan Trophy Bergilir Pernikahan IBC. Trophy ini diberikan kepada anggota IBC yang menikah selama menjadi anggota. Nama pasangan, tempat dan tanggal pernikahan digoreskan dalam trophy yang bersimbol pelek sepeda motor dengan logo IBC.

Tak ayal, rasa segar percikan air terjun dan segarnya udara pegunungan Gede Pangrango, menyeruak di tengah keceriaan. Kepenatan bekerja di Jakarta seakan lenyap tak berbekas. Segarnya tubuh dan pikiran menjadi modal untuk kembali menjalani rutinitas di Jakarta. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. Anonymous permalink
    21 Desember 2009 09:32

    Ade jun pake celana ga tuh….

  2. Edo Rusyanto permalink
    23 Desember 2009 01:24

    pake dong, he he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: