Lanjut ke konten

Kejujuran Mengungkap Jejaring Sosial

15 Juni 2009

Resensi Buku: Situs Gaul, Gak Cuma Buat Ngibul

MENULIS dengan jujur kadang sulit. Ada saja niatan membelokkan fakta dengan harapan dan opini pribadi. Lebih sulit lagi, menulis sesuatu yang ilmiah menjadi popular. Enak dibaca.
Merry Magdalena, punya bakat untuk menulis keduanya: Jujur dan Enak dibaca. Hal itu ia buktikan dalam buku terbarunya Situs Gaul, Gak Cuma buat Ngibul!
Ia dengan gamblang membuka sisi gelap dan sisi terang jejaring sosial dunia maya. Sebuah entitas yang kini mengoyak sedikitnya 10% aktifitas kehidupan masyarakat kota. Artinya, kalau 24 jam kehidupan sehari, maka paling gak 2,4 jam dihabiskan menggunakan fasilitas dunia maya untuk berinteraksi. Termasuk transaksi membeli buku, baju, bahkan (maaf) obat kuat.
Dunia maya bisa menjadi ajang interaksi dominan bagi sebagaian masyarakat kota yang ‘kesepian’ di tengah padatnya aktifitas mereka. Via dunia maya, seseorang merajut persahabatan, asmara, ekonomi bisnis, hingga interaksi politik. Seseorang yang mendapat kesulitan berinteraksi face to face untuk merajut asmara, tertolong oleh jejaring sosial. Ia bisa melatih untuk ’berbicara’ dengan calon sang kekasih. Walau saat kopi darat (kopdar) yakni istilah untuk bertemu face to face selain berkomunikasi via internet, latihan berbicara tadi seringkali tidak efektif. Walau, ada juga yang sukses. Penulis bahkan dengan jujur menyebut, dirinya mendapat pujaan hati tertolong dunia maya.
Urusan merintis bisnis dan urusan politik juga dibeberkan oleh Merry. Ia membeberkan lewat testimoni para tokoh-tokoh penting seperti Irfan Setiaputra, CEO Cisco Indonesia dan Nukman Luthfie, CEO Virtual.co.id. Soal Barack Hussein Obama juga diulas. Termasuk bagaimana Obama memiliki tiga juta teman di fasilitas jejaring Face Book-nya.
Sebenarnya, buku ini bisa lebih dahsyat lagi mengorek sebuah sisi interaksi masyarakat tertentu yang memanfaatkan internet atau jejaring sosial. Misal saja, komunitas atau klub sepeda motor yang kini meruyak di tengah kita. Pada 2008, setidaknya ada 900-an kelompok sepeda motor yang memanfaatkan internet sebagai ajang interaksi. Dari dunia maya mereka menggerakkan roda organisasi, menautkan silaturahmi, dan melahirkan ide besar. Termasuk memperluas berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Maklum, populasi sepeda motor kita sedikitnya mencapai 50 juta unit, alias hampir 25% populasi penduduk kita.

Perbedaan
Buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2009, juga mengulas perbedaan tiap situs jejaring sosial. Termasuk apa saja yang harus diperhatikan oleh setiap pengguna internet. Penulis dengan lugas membongkar kelemahan yang mungkin menimpa pengguna internet jika tidak berhati-hati. Bisa jadi korban pemerasan oknum penjahat.
Buku setebal 175 halaman dan dicetak di atas kertas koran itu, sedikitnya membuka pencerahan buat kita bahwa masa depan kehidupan masyarakat kita makin paper less. Bahkan, bisa jadi kian individu. Semua asyik di depan monitor pc, laptop, dan mobile phone.
Enak dibaca? Penulis meruntutkan penulisan dari mulai memperkenalkan apa saja itu situs jejaring sosial, lalu manfaatnya, kelemahannya, hingga testimoni. Beragam tips yang disodorkan juga bisa dijajal. Siapa tahu mujarab untuk cari jodoh. Testimoni dari beberapa tokoh dicoba memperkuat semua tips atau fakta yang diulas penulis. Walau mengambil contoh hanya dari beberapa bagian sisi kehidupan masyarakat, buku ini masih tergolong lumayan untuk dibaca. Pembaca cukup merogoh kocek Rp 30 ribu, sudah bisa mengantongi segudang tips bergaul di dunia maya. Mau? (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: