Lanjut ke konten

Belajar dari Mereka

10 Juni 2009

berteduh di warung

HUJAN mengucur deras dari langit. Aspal menjadi licin. Angkutan umum terseok-seok, di bagian lain pengendara sepeda motor melamban. Jaga konsentrasi, daripada tergelincir mencium aspal? Tapi masih ada yang memacu bak melenggang di sirkuit. Konyol.

Siang ini, Jakarta hampir merata diguyur hujan. Sambil menanti hujan reda, vixy merah diparkirkan di depan warung kaki lima penjaja nasi uduk. Sebagian celana, jaket, helm, dan sepatu kuyup oleh air hujan saat melangkah masuk ke warung tenda di pinggir jalan itu.

Uppss…ternyata ada juga beberapa bikers berteduh. Mereka juga sudah kebasahan. Sebagian memilih menunggu sambil menyantap lele goreng, sebagian ayam goreng. Lumayan isi perut.
Pilihan saya jatuh pada segelas teh manis hangat. Sekadar mengurangi rasa dingin. Maklum siang itu sudah santap siang di rumah.

Hampir tak ada yang istimewa, hingga….”Bisa pinjam koreknya dik?” Suara lelaki setengah baya.

Kami pun sama-sama menikmati kepulan rokok kretek. Sebuah komoditas yang mampu menyumbang Rp 40 triliun untuk kas negara. Walau lebih dari 4.000 zat kimia beracun yang masuk ke tubuh perokok ketika mengisap sebatang kretek. Menimbulkan aneka penyakit.

“Nunggu ujan berhenti membosankan,” tiba-tiba lelaki yang menunggang motor bebek itu bicara lagi.

“Iya,” Jawabku sekenanya karena asyik mantau email dan pesan di face book dari nokia 9300.

“Pelindung kaki dan jaket septi-nya bagus dik,” celoteh bapak itu. Rupanya orang ini memperhatikan safety gear yang saya kenakan. Rasanya tidak sopan jika menimpali omongan sambil mengetik di ponsel. Saya pun berpaling menatap wajah sang bapak yang saya taksir berusia lima puluhan tahun. Banyak kerut di keningnya. Cerminan memikul kerasnya beban hidup di Jakarta.

“Minggu lalu anak saya kecelakaan motor,” seru lelaki itu lagi. Wah…menarik nih. Gumam dalam hati.

“Lalu,” jawabku.

“Tak ada yang menolong karena takut, kejadiannya malam hari, orang Jakarta mending ngurusin dirinya sendiri daripada orang lain,” kata dia. Tadinya ingin protes, tapi bapak itu keburu melanjutkan.

“Akhirnya ada yang menolong. Seorang pedagang asongan dan sopir angkot, mereka membawa anak saya ke rumah sakit,” tatapan sang bapak menerawang. Terbersit rasa iba.

“Lantas?”

“Penjaga di ruang darurat awalnya enggan menolong sebelum ada jaminan,” ujar lelaki itu sambil menyeruput kopi hitam dari gelas. Tangannya terlihat sedikit bergetar.

“Rumah sakit mahal. Tapi saya bersyukur pedagang asongan tadi dan sang sopir angkot berani bertanggung jawab,” ceritanya lagi dengan intonasi sedikit bergetar.

“Berapa rumah sakit minta jaminan?” Tanya saya.

“Itulah dik, sang pedagang asongan mengeluarkan seluruh uang recehan yang ia dapat hari itu, ada Rp 143 ribu, sopir angkot ada Rp 215 ribu,” paparnya.

Uang segitu mana cukup dan pasti pihak rumah sakit menolak. Namun, sela sang bapak, para penolong anaknya ngotot. Mereka minta rumah sakit menolong dulu sang korban, urusan biaya bisa dipikul belakangan. “Ini soal nyawa manusia!” Bentak mereka, ujar sang bapak menirukan dialog saat itu. Beruntung, lanjut si bapak, ada seorang ibu yang sedang menjenguk suaminya dirawat di situ mau membantu. Terkumpullah uang satu juta dua ratus ribu.

“Akhirnya anak saya yang berlumuran darah ditangani dik,” kisah bapak itu. Sorot mata sang bapak terlihat sayu.

“Bagaimana kondisi anak bapak sekarang?” tanya saya penasaran.

Sang bapak tidak langsung menjawab, ia mengisap dalam-dalam sisa rokok kretek di jarinya.”Meninggal. Karena terlambat ditangani petugas rumah sakit.”

Tak mudah saya mengajukan pertanyaan lagi. Suasana senyap beberapa saat, walau di luar sana suara mobil dan motor lalulalang. Rintik hujan masih memainkan irama alam yang dramatis.

“Makanya saya bilang pelindung lutut, jaket dengan pelindung sikut, dan helm punya adik ini amat bagus buat perlindungan,” tiba-tiba sang bapak angkat bicara lagi.

Ia pun bertutur, saat kecelakaan sang anak yang berusia 18 tahun, tidak memakai jaket, sepatu, dan helm. “Boro-boro pelindung lutut dan siku, kami gak mampu beli dik,” ujar lelaki itu.

Saya cuma terdiam. Hingga sang bapak itu beringsut meninggalkan warung karena hujan tinggal sisa rintik-rintik. Langit Jakarta masih terlihat gelap. Sayup-sayup lagu U Rise Me Up, Josh Groban bak menyayat dari Ipod. (edo rusyanto)

Cililitan, 10 Juni 2009

8 Komentar leave one →
  1. alamsuro permalink
    14 Juli 2009 13:57

    Sepertinya ini jd PR tambahan lg ya pak, lg-lg masalah ekonomi, tapi seandainya anak nya selamat, biaya rumah sakit kan jg besar ya pak. Namun tetap semangat untuk menularkan Safety Riding pak.

  2. Yane permalink
    23 Agustus 2009 00:20

    Pagi ini..saya baru aja OL..tp hati saya sudah miris membaca tulisan B'edo..sungguh menyayat bang..memang sih ujung2nya ekonomi..tp seharusnya pihak RS lebih mementingkan nyawa drpd uang walau mereka bahkan kita sniri tidak tahu ajal seseorang smpai dmn..semoga cerita ini ada hikmahnya b'edo..oh y ttp keep safety ridding y ..salam

  3. Edo Rusyanto permalink
    23 Agustus 2009 16:55

    @alam; dilematis memang, moral tulisan tersebut tetap bermuara kepada pentingnya berkendara yg aman dan selamat.@ yane; ya, kita senantiasa mengambil hikmah dari segala hal yg kita temui. trims dah mau respons yah. salam

  4. Didik sugianto permalink
    30 Januari 2010 17:02

    @nurani: sbnarnya tanpa perlu ada kejadian ini pun kita sudah bisa membayangkan apa yg akan terjadi jika kita kurang cerdas dalam berkendara.
    @didik: q punya mtr hbt, mesin bertenaga, doble cakaram dan tampilan keren, sayang kalo cuma jalan pelan di lajur kiri sambil selalu sibuk mewaspadai kanan kiri ,depan dan belakng,
    @ nurani: sebenarnya ndak ada yg mengharuskan kita dtng jauh lebih awal, jika harga yg harus di byr sangat mahal.
    @didik: hm
    @nurani: qt telah mempertaruhkan hidup keluarga qt, anak dan istri.setidaknya ortu kita menaruh harapan pd anaknya.

  5. 11 Maret 2010 01:51

    Semoga kecelakaan seperti ini dijauhkan dari kita semua, karena kita tidak mau titipanNya dipanggil dengan cara seperti ini, tetapi jika DIA sudah berkendak kita tak mampu mengubahnya.

    Saya mendapatkan pelajaran dari kejadian ini, jangan sepelekan perlengkapan dalam berkendara, lebih baik berkorban untuk membeli perlengkapan daripada nyawa yang mejadi taruhannya.

  6. sri mulyono permalink
    11 Maret 2010 01:54

    semua memang ALLOH yg menentukan,tp seyogyanya RS harus lebih manusiawi…selbihnya safety riding berawal dr diri kita meski dng keterbatasan ekonomi….

  7. siska permalink
    11 Maret 2010 09:32

    wahh,,pagi” baca cerita ini buat hati tersentuh bngt…
    kasihan bapak itu.tp inilah kehidupan orang yg ngk punya uang slalu tertindas dalam jurang ketidak adilan. harusnya ada jaminan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. kalau begini terus wajar saja kriminalitas smakin merajalela.
    tp kita ambil ajalah hikmah di balik ini smuanya.
    untuk itu sebagai pengendara kita harus belajar dr kejadian ini spya lebih berhati” dan memakai peralatan yg lengkap saat berkendara.:D

  8. 31 Agustus 2012 13:19

    (baru) numpang baca 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: