Lanjut ke konten

Program Kerja Ala RSA

1 Juni 2009

foto:dok RSA

PENAT masih menggila. Seharian tubuh rasanya pegal-pegal. Gejala flu? Walauhuwallam.
Suasana kantin Nyi Ageng Serang, Jl HR Rasuna Said, Senin (1/6) malam, lumayan ramai. Saat kaki menjejak, sudah tampak Rio Octaviano, ketua Road Safety Association (RSA), Syamsul (Pembina), Eko (wakil ketua), dan sejumlah rekan divisi RSA seperti Ndee Siswandhi, Benny, Ridwan, Ditto, dan Yudhi Bewok. Di belakang deretan tempat duduk aktifis RSA berkumpul, tampak istri Rio. Wanita yang setia menemani hidup Rio termasuk dalam aktifitas di RSA. Suasana kantin diterangi lampu neon. Aneka panganan dan minuman dijajakan dalam bentuk kios-kios di kanan kiri kantin yang mirip lorong. Deretan bangku panjang dan meja memadati lorong tersebut. Setiap hari, di tempat tersebut tempat istirahat sejumlah polisi lalu lintas (Polantas) lengkap dengan motor 1.000 cc-nya. Di sebelah kiri kantin, terdapat lapangan Planet Futsal, sedang tak jauh dari situ adalah Gedung Pusat Perfilman nasional dan Pasar Festival, Kuningan, termasuk Gelanggang Olahraga Brojosumantri.
Malam itu, aktifis RSA sedang menggodok sejumlah program kerja. Di antaranya, program pelatihan safety riding (SR) untuk PT DNP dan program kampanye SR bekerja sama dengan Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia.
Bukan lantaran RSA tidak punya sekretariat jika pembahasan program kerja digelar di kantin umum. ”Di sini mencerminkan bahwa RSA memang berasal dari akar rumput,” ujar bro Syamsul yang juga pentolan komunitas Honda Tiger Mailing List (HTML).
Tidak ada perdebatan sengit seperti saat menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) RSA beberapa waktu lalu. Obrolan soal program kerja mengalir begitu saja, sesekali diselingi canda tawa.
RSA baru saja bermetamorfosa menjadi lembaga swada masyarakat (LSM), dari wujud semula sebuah organisasi yang dicitrakan menaungi klub atau komunitas sepeda motor di Jakarta. Cairnya sistem organisasi serta organisasi yang nirlaba membuat aktifitas orang di dalamnya mengandalkan kesukarelaan. ”Motivasi menjadi kunci karena kita tidak ada yang dibayar,” ujar bro Rio yang juga pengurus di Daihatsu Taruna Club (DTC).
Ya. LSM berbasis pada komitmen dan tanggungjawab. Namun demikian, tetap harus ada rambu dan aturan yang jelas sebagai pemandu aktifitas. Sehingga, tak ada lagi rencana besar dengan aktifitas kecil. Lebih elok jika rencana kecil bermanfaat besar bagi sekitar.
Malam merayap kian cepat. Menjelang tengah malam, saat segambreng program kerja disepakati untuk dijalankan, rapat ditutup oleh Rio. Tersisa sejumlah asa, bisakah RSA terus menggulirkan karya bermanfaat bagi para pengguna jalan. Waktu yang bisa menjawab. (edo)
One Comment leave one →
  1. Rachmad Sadeli permalink
    18 November 2009 23:46

    Jika semangat ketulusan berbagi membuncah di langit jiwa, maka kata tak akan ada kata putus untuk terus berusaha di jalur kasih Tuhan. Semoga niatan mencerahkan banyak orang tentang pentingnya safety riding diberkati sang Maha Pemilik Jiwa. Amin. Salam takhzim. Rahmat Sadeli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: