Skip to content

Giliran Nongol di Komunitas Mobil Putih

21 Januari 2013

rsa white car jan 13

KAWASAN Lippo Karawaci, Tangerang, Banten dirundung gerimis. Di sudut Supermal Karawaci, sejumlah anggota Komunitas Mobil Putih (White Car Community), sibuk menggelar ‘Gathering Akbar Mobil Putih’, Minggu (20/1/2013) siang.

Saya bersama, Sekjen Road Safety Association (RSA) bro Lucky dan Humas RSA bro Ivan, menjejakan kaki 30 menit menjelang pukul 14.00 WIB. Sesuai jadwal, RSA menjadi narasumber untuk talkshow seputar keselamatan jalan (road safety) pada pukul 14.00 WIB.

Suasana kawasan mal siang itu dipadati kendaraan. Mulai dari mobil pribadi hingga angkutan umum taksi. Tampaknya, pusat perbelanjaan itu menjadi tujuan untuk menekuni gaya hidup masyarakat di sekitarnya.

Area parkir di sudut pintu utama mal, disulap menjadi ajang gathering komunitas White Car Community. Belasan tenda dan mobil, tentu saja didominasi warna putih, tampak berjajar rapi. Selain diisi berbagai permainan, tiap tenda sponsor juga menyodorkan karakter masing-masing. Termasuk, tersedia satu mobil simulator berkendara. Para anggota White Car Community berkumpul setelah pada pagi harinya berkonvoy dari kawasan Senayan, Jakarta menuju Karawaci.

“Anggota kami sekitar dua ratusan,” cerita Lamod, salah satu pengurus komunitas itu, saat berbincang dengan saya, di sela talkshow yang berdurasi sekitar satu jam itu.

Bahas Konvoy

Talkshow bergulir dipandu oleh bro Rio Octaviano selaku moderator. Selain saya, sebagai pembicara adalah bro Iwan Pranoto dari Garda Oto dan bro Lamod perwakilan White Car Community. Kami berbincang dengan porsi berbeda-beda.

Bro Lamod bercerita tentang keberadaan komunitasnya yang dideklarasikan di Jakarta pada 6 Mei 2012. Komunitas ini tak sekadar ajang bertemu pecinta mobil berwarna putih, dalam kopdar juga kerap diisi dengan perbincangan yang bermanfaat. Salah satunya terkait dengan keselamatan dalam berkendara di jalan.

Selaku penggiat dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) saya fokus kepada ajakan agar komunitas bisa membentengi diri anggotanya dari risiko maut di jalan raya. Berharap seratus persen kepada Negara rasanya amat mustahil. Peran komunitas bisa dengan saling mengingatkan di kalangan anggotanya agar biasa berkendara yang aman dan selamat.

Langkah awal bisa dengan membuat aturan yang mengajak anggotanya menjunjung keselamatan jalan sebagai sebuah identitas. Ketika kebiasaan berkendara yang aman dan selamat tertanam, risiko terjebak dalam fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan bisa lebih dikurangi. Komunitas punya andil besar dalam hal ini.
“Lantas, bagaimana caranya konvoy yang baik di jalan tol?” Tanya seorang anggota komunitas.

rsa white car jan 13 narsum

Untuk urusan konvoy, saya mengajak agar disamakan dulu persepsinya. Maksud saya, jika merujuk pada Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), konvoy bermakna sebagai sebuah iring-iringan kendaraan yang dikawal oleh polisi lalu lintas (polentas). Dengan begitu, konvoy memiliki hak utama. Bisa mendapat prioritas. Tak heran, kadang kita lihat ada konvoy yang dengan entengnya menerobos lampu merah.

rsa white car simulator mobil

Tapi, ini dia tapinya. Soal konvoy tak semata urusan legalitas. Ada aspek lain, yakni etika. Bagaimana perasaan pengguna jalan lain ketika seratusan mobil beriring-iringan menutup jalan, karena bisa mendapat prioritas? Etika mestinya mendapat porsi terhormat ketika di jalan raya. Maklum, dengan etika yang saling menghargai, menunjukan keadaban kita sebagai manusia. Bisa mewujudkan lalu lintas jalan yang kian humanis. Manusia yang beradab.

Karena itu, jika berkendara beriringan di jalan, ada baiknya dibuat per kelompok kecil. Misal 10 mobil. Tentu, tetap menjunjung tinggi aturan yang ada. Ketika teradang lampu merah yang berhenti. Kecuali, jika kelompok-kelompok kecil tadi memang masing-masing di kawal polantas. Lain cerita.

Klaim Asuransi

Bro Iwan menitikberatkan pada aspek asuransi. Dia menjelaskan, di perusahaan tempatnya bekerja, pengajuan klaim tidak boleh bertentangan dengan aturan lalu lintas yang berlaku. Jika penyebab kecelakaan adalah bertentangan dengan aturan, klaimnya bakal tidak cair.

“Misalnya, berkendara dalam kondisi mabuk atau melanggar rambu jalan,” ujar dia.

Karena itu, dia mengajak para anggota White Car Community agar mengutamakan keselamatan di jalan. Berkendara yang aman dan selamat. Termasuk, dengan menjaga jarak antara kendaraan saat di jalan raya. “Jarak aman berkendara di jalan adalah empat detik, bukan berdasarkan berapa meter antara satu dengan yang lain,” kata bro Iwan.

Dia bercerita, setiap tahun bisa ratusan ribu klaim yang diajukan oleh nasabah. Artinya, sebanyak itu pula insiden atau kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Tak heran, mengingat menurut catatan kepolisian, tahun 2011 saja, dalam setahun ada seratusan ribu kasus kecelakaan di Indonesia dengan menelan korban jiwa sedikitnya 31 ribuan jiwa. Masih mau ugal-ugalan di jalan? (edo rusyanto)

About these ads
One Comment leave one →
  1. Brodjo permalink
    22 Januari 2013 21:16

    Manstapp.. semakin meluas ya eyang menyebarkan virus keselamatan berkendara.. sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.288 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: