Skip to content

Rembulan Menerangi Malam

20 Januari 2013

NYARIS setiap malam dia menatap ke langit. Mencari jawab atas sebuah pertanyaan. "Kenapa sang malam memberi waktu amat singkat."

Rembulan selalu mencari jawab, sekalipun tak pernah mendapat secara utuh. Malam-malam yang dilaluinya masih menyisakan kepedihan.

Tiga tahun lalu, saat masih berseragam abu-abu, Rembulan menghadapi kabar memilukan. Sang ayah dijemput jagal jalan raya. Mobilnya ringsek dihajar kendaraan lain yang berkecepatan tinggi. Sang penabrak dalam kondisi mabuk.

Kepergian sang ayah yang menyangga tiang ekonomi keluarga membuat semua asa runtuh. Niat meneruskan studi ke perguruan tinggi pupus. Dia dan sang ibu harus bahu membahu mengais rupiah sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Membeli makan dan minum, membiayai dua adiknya yang sekolah dasar dan lanjutan pertama, termasuk membayar biaya sewa rumah.

Setiap pagi Rembulan menjajakan kue ke sekolah di lingkungan rumahnya. Siang hari sang ibu buruh nyuci, sedangkan Rembulan membantu tetangga berjualan mie ayam. Cita-citanya menjadi psikolog terpaksa dikubur dalam-dalam.

Padahal, sejak sekolah dasar, Rembulan tergolong anak cerdas. Selalu lulus dengan nilai memuaskan. Hobinya membaca aneka buku pengetahuan.

* * *

Penghasilannya pas-pasan. Paling banter buat makan dan minum. Karena itu, Rembulan menjajal pergi ke kota. Temannya mengimingi pekerjaan dengan penghasilan berlipat-lipat dari sekadar menjaga warung mie ayam di kampung.

Hati Rembulan berapi-api, pergi naik kereta, berbekal ijazah sekolah lanjutan atas, dan uang satu juta dua ratus ribu rupiah.

Janji dipekerjakan sebagai kasir rumah makan, jauh dari kenyataan. Rembulan justeru diminta berdandan menor, mendampingi tamu bersenandung dengan tatapan penuh hasrat. Dia pun pusing tujuh keliling. Membentengi diri sekuat tenaga, menepis jemari liar yang mencoba menyentuh kulit kuning langsatnya.

Hanya tiga hari, Rembulan minta berhenti. Tak ada gaji. Uang tips yang dia terima hanya cukup buat makan dan ongkos pulang kampung.

Teman yang mengajak malah mencibir. Rembulan dibilang sok suci. Pedih hatinya.

* * *

Kecelakaan lalu lintas jalan berdampak luas. Termasuk menggoyang tiang ekonomi keluarga. Kabar menyebar lebih dari separuh keluarga korban kecelakaan terimbas secara finansial. Bayangkan, dalam setahun ada tiga puluh ribuan jiwa tewas bergelimpangan di jalan raya.

Bagi Rembulan, penghasilan ayahnya yang sopir angkutan umum, cukup membiayai hidup keluarga sehari-hari. Dalam kesederhanaan mereka menatap hidup dengan ceria.

Kini dia bertekad membantu dua adiknya menyelesaikan sekolah. Setidaknya hingga ke level sekolah menengah atas. Tak ada waktu lagi meratapi nasib. Terus berjuang untuk menerangi jalan keluarga, seperti rembulan menerangi sang malam.

Cipayung, Januari 2013.

About these ads
9 Komentar leave one →
  1. 20 Januari 2013 00:06

    itu dimana mbah,

    • 20 Januari 2013 00:10

      Di Taroko National Park, Hualien, Taiwan.

      • 20 Januari 2013 00:12

        mantabh mbah, ane cuma baca narasi bentar, ada tulisan cina, trus cipayung :D

        • 20 Januari 2013 00:18

          Yg di Taiwan, fotonya. Ini tulisan fiksi.

  2. 20 Januari 2013 00:48

    vote inspiratif..

    • 20 Januari 2013 00:52

      Trims atensinya.

  3. 20 Januari 2013 02:36

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  4. 20 Januari 2013 06:57

    mantep ceritanya

    http://brigade15.wordpress.com/2013/01/19/lucu-nih-modif-toyota-yaris-nya/

    • 20 Januari 2013 08:48

      Trims.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.371 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: