Skip to content

Obrolan Berteduh

4 Januari 2013

hujan pemotor berempat_embosh

HUJAN belum reda. Kilat saling menyambar di langit. Guntur menggelegar.

Derasnya hujan membuat permukaan aspal jalan bertambah licin. Saya duduk bersimpuh, berteduh.

Pilihan logis untuk berteduh. Tahun 2011, hujan menyumbang 4.020 kasus atau setara 68,91% faktor alam. Setiap hari ada 11 kasus kecelakaan lalu lintas jalan akibat hujan.

Di bagian lain emperan toko ada beberapa pesepeda motor yang juga menghindari guyuran hujan sore itu. Mereka terdiri atas tiga keluarga. Satu motor dihuni empat orang, dua dewasa dan dua anak-anak. Ada juga pemotor lain, setidaknya ada lima orang.

“Adik sini, jangan hujan-hujanan,” seloroh Nyrma, seorang ibu muda kepada anak perempuan balita-nya yang berlarian kesana kemari.

Sang bocah yang sedang sumringah bercanda dengan air hujan, mendekat kepada sang ibu. Memeluk. Berharap kehangatan kasih ibu.

Kakak sang bocah yang tampak tak lebih dari usia lima tahun, duduk dalam dekapan sang bapak, Wirthoe. Keduanya menatap curahan hujan.

“Coba tadi bawa jas hujan, kita gak kebasahhan,” sergah Nyrma kepada Wirthoe, suaminya yang sedang mendekap si sulung.

“Ya, tadikan gak hujan. Terang benderang,” kata dia sambil mengelus kepala sang bocah pria.

Perbincangan mereka cukup jelas sekalipun hujan kian deras. Sebagian baju mereka basah kena air hujan.

“Benar juga kata mamah tadi, mending kita naik taksi,” lanjut sang isteri.

Tampaknya, mamah yang dimaksud adalah orang tua sang ibu muda.

“Ya, tapi kan sekarang tanggal tua, duit kita cekak,” jawab sang suami dengan wajah memerah.

“Paling gak, kita angkot lah,” seru wanita itu sambil mengeluarkan sapu tangan, mengeringkan sisa air hujan di kening bocah kecilnya.

“Naik angkot ribet. Kita mesti naik turun, gonta-ganti tiga kali,” jawab Wirthoe.

Hujan agak sedikit reda. Pemotor lain yang membawa dua anak dan seorang wanita dewasa, coba melanjutkan perjalanan. Jas hujan model ponco dikeluarkan. Satu jas, untuk menutupi empat orang.

Sementara itu, keluarga yang tadi asyik berbincang, masih sabar menanti hujan benar-benar reda. Anak-anak mereka kini asyik bersenda gurau.

“Coba kalau kita punya mobil, pasti enak deh,” seru Nyrma.

Sang suami yang usianya sekitar tigapuluhan, tak langsung menjawab. Dia menatap wajah isterinya. Menghela nafas.

“Kita nabung dulu lah, berat kalau beli cash,” akhirnya sang suami menjawab.

“Nabung berapa tahun?”

“Paling gak lima tahun, bisa buat ngumpulin uang muka.”

“Makanya nyari obyekan, jangan cuma ngandelin gaji.”

Tak ada lagi dialog setelah kalimat terakhir wanita muda tadi. Sang pria tampaknya malas menimpali lagi.

Hujan berubah menjadi gerimis. Rintik-rintik. Keluarga tadi bersiap-siap meneruskan perjalanan. Sang bocah paling kecil tampak terkantuk-kantuk.

Kuningan, 2 Januari 2013

About these ads
13 Komentar leave one →
  1. nubi permalink
    4 Januari 2013 00:25

    Renungan malam..

  2. 4 Januari 2013 01:36

    nerima apa adanya tanpa menyalahkan apapun, kalo orang jawa bilang nerimo ing pandum.
    selain itu juga mencerminkan betapa buruknya sistem transportasi yg tak dijadikan pilihan utama warganya. BTW kok tahu nama si perempuan pak? hehehe

  3. 4 Januari 2013 03:25

    Pondium

  4. 4 Januari 2013 07:29

    :)

  5. 4 Januari 2013 07:41

    gak ada yg nimpalin “coba ada angkot murah nyaman dan tepat waktu” ?

  6. ibrahim touring permalink
    4 Januari 2013 08:02

    nasib kami rakyat ya spt itu …
    mau pakai transportasi umum biar aman namun nyata nya blom sudah gak layak juga udeh gak murah plus gak lagi nyaman

    maksa naik motor lebih dr dua orang juga karena terpaksa keadaan ….

    kami tinggal berharap suatu saat anak kami bisa membawa perubahan sebuah revolusi buat membangun negeri ini menjadi negeri yg teratur nyaman bin tertib segala nya ….

  7. 4 Januari 2013 10:25

    Hmmm…cerita yg menyentuh.

  8. bdt permalink
    4 Januari 2013 10:37

    transfortasi di kita masih mahal,
    coba kaya malasysia, walu rata-rata punya mobil, tapi transportasi masssal murah dan nyaman.

  9. bdt permalink
    4 Januari 2013 10:39

    bersykurlah dgn apa yg kita miliki, jgn liat ke atas, tapi lita ke bawah dlm urusan duniawimu

  10. 6 Januari 2013 10:57

    “Makanya nyari obyekan, jangan cuma ngandelin gaji.” <~Jlebb! Hehe, males banget deh kalo kalimat ini dah keluar.

    Salut, Om Edo, serasa baca cerpen. Enak baca blog ini, kalimat baku dan rapi, tidak umbar tanda seru.

    • 6 Januari 2013 18:51

      obyekan yang halal tentunya..btw di t4 umum kog ngomgnya gitu yah…hehehe…

      • z1rider permalink
        9 Januari 2013 07:56

        Hehehe… *Kurang sukses nyari istri… Barangkali kuantitas (waktu) dan kualitas (saling mengenal) pada masa pacarannya kurang… *Au ah :D

  11. pambudi permalink
    8 Januari 2013 18:12

    jd pikiran para kepala rumah tangga, izin copas ya om…artikel ini sedikit banyak juga mengajarkan tntang tanggung jawab…trims

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.564 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: