Skip to content

Buah Serempetan Cukup Pahit

22 Oktober 2012


Wajahnya pucat. Usai menyalami saya, dia duduk terlemas. Tepat di depan saya. Setelah meneguk segelas air putih dia mulai bercerita.
“Saya mau minta tolong,” tuturnya terbata-bata.
Kita sebut saja Mamat. Dia pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Sore itu mengojek sepeda motor untuk menambah uang dapur. Tapi nasib naas menghampirinya.
“Saya menyerempet anak kecil yang sedang menyeberang dengan bapaknya,” cerita dia dengan mata berbinar.
Sang anak terluka di bagian tangan. Lecet-lecet. Pinggangnya memar. “Di bawa ke rumah sakit, katanya mau di-rongent,” tambah dia.
Sempat terjadi ketegangan antara Mamat dengan sang bapak si anak. Uang di dompet Mamat tak cukup membiayai pengobatan ke dokter. Dia hanya punya uang Rp 100 ribu. “Sore itu baru dapat Rp 5 ribu,” katanya.
Kedatangan dia ke saya untuk meminta bantuan dana. Dia meminjam Rp 200 ribu untuk menambah biaya pengobatan luka lecet sang anak. Saya coba bantu sebisanya.
Kronologis serempetan tidak bisa saya gali lebih banyak. Mamat bercerita, seusai menurunkan penumpang, dia hendak berbalik arak. Putaran yang ada di jalan dianggapnya aman karena memang itu tempat putaran. Mungkin dia melamun sehingga tak memperhatikan jalan yang ada di depannya hingga menyerempet penyeberang jalan.
Melamun. Sebuah kondisi yang kerap sulit ditepis adalah kosongnya pikiran kita karena menerawang. Melamun. Pikiran melayang memikirkan sesuatu padahal saat itu sedang mengemudi. Praktis, konsentrasi raib. Ketika ada pergerakan tiba-tiba reflek menjadi melemah. Kemampuan mengantisipasi kondisi di jalan menjadi lalai. Ujungnya, bisa terjebak insiden kecelakaan.
Saya menduga, kasus Mamat tak sedikit. Ke depan, semoga terus berkurang. Kuncinya hanya satu, selalu waspada dan fokus berkendara. Setuju? (edo rusyanto)

About these ads
12 Komentar leave one →
  1. 22 Oktober 2012 16:04

    sip ajib “Selalu waspada dan fokus berkendara”

  2. ken39 permalink
    22 Oktober 2012 17:02

    saya ada cerita soal ngelamun. Karena udah terbiasa lewat jalur yg sama tiap hari. Saat ngelamun n ketemu per4an, tiba tiba saya reflek belok sendiri ke kiri. Emang jalan yg saya tuju belok kiri. Tapi kok bisa yah, otak ngereflek sendiri, padahal saya lagi ngelamun :D. dan alhamdulillah gak kenapa kenapa :D

  3. bitlow permalink
    22 Oktober 2012 20:03

    Semoga masalahnya cepat selesai
    http://belitong.wordpress.com/2012/10/22/opini-slogan-harusnya-humanis-dan-masuk-akal/

    • 22 Oktober 2012 20:08

      aminnn

  4. 23 Oktober 2012 06:28

    ati2 nang duwur dalane siji
    http://jaranwesi.wordpress.com/2012/10/22/ritual-usai-bersetubuh/

  5. 23 Oktober 2012 10:23

    kasian om..hasil gk seberapa, kalo ada apa2 nanggungnya byk banget..

    http://boerhunt.wordpress.com/2012/10/23/jika-pembatasan-jarak-tempuh-motor-saat-mudik-diberlakukan-siapa-sebenarnya-yang-diuntungkan/

    • 23 Oktober 2012 11:06

      Ya. Krn itu kita mesti mengurangi risiko.

      • 23 Oktober 2012 11:18

        betul banget om..

  6. 23 Oktober 2012 11:59

    Waspada tapi relax, kadang beban hidup juga mempengaruhi cara berkendara, ya karena otak terbebani riding motorpun gak nyaman dan cenderung tidak konsen, bersyukur akan nikmat yang ada jadi jalan ketenangan pikiran shg menjalani hidup dan menapaki jalanan lebih santai, imho

    • 23 Oktober 2012 12:04

      Setuju. Makasih dah berbagi disini mas. Salam.

  7. aryanto permalink
    29 Oktober 2012 07:56

    pagi Pak. Minggu 28 oktober sore, kembali jalan poros Balikpapan-Samarinda KM 45 menelan 2 nyawa. semula mobil **nia menyerempet motor, sama2 dari arah Balikpapan, terus jatuh ke kiri. mobilbanting setir kanan, justru menabrak motor dari arah berlawan. satu pengendara dan boncenger meninggal. Semoga semua pengguna jalan berhati2..walaupunpake kendaraan enteng buatngebut …berat konsekuensi…nya.

    • 29 Oktober 2012 10:53

      Pagi bro. Makasih infonya. Satu fakta lagi, berkendara punya segudang risiko. Kita cuma bisa ikhtiar untuk mengurangi fatalitasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.289 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: