Gileee Pasar Mobil Masih Gede
Tulisan ini saya tuangkan di harian ekonomi Investor Daily yang terbit di Jakarta.
Rasio kepemilikan mobil jika dibandingkan jumlah penduduk Indonesia masih kecil. Saat ini, baru sekitar 10% dari penduduk Indonesia yang memiliki mobil. Peluang penjualan mobil masih cukup tinggi. Sedangkan, Jawa dan Bali masih menjadi wilayah paling tinggi menyerap penjualan mobil, yakni berkisar 60-70%.
Di sisi lain, pemerintah mendorong agar volume pasar otomotif terus bertumbuh. Pertumbuhan itu dianggap bakal memenuhi skala ekonomis untuk memacu investasi mobil dan komponen.
Demikian rangkuman pendapat Direktur Utama PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan, Vice President Director National Sales & Promotion PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Teddy Irawan, dan Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada Prodjo Sunarjanto, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Budi Darmadi, dan pengamat transportasi Instran Darmaningtyas. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, Kamis (11/10).
“Dengan GDP Indonesia sebesar US$ 3.000 membuat pasar otomotif Indonesia masih cukup besar,”kata Johnny Darmawan.
Dalam sepuluh tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia mencapai sekitar 17,22%. Pada periode 2003-2012 tersebut, sekitar 5,69 juta mobil diserap oleh pasar domestik.
Dalam rentang tersebut, penjualan sempat anjlok sekitar 40,27% pada 2006. Saat itu, penurunan terjadi sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2005 yang mencapai sekitar seratusan persen. Penurunan tajam juga sempat terjadi pada 2009 sebagai imbas krisis finansial global. Hanya saja, penurunan 2009 tidak sebesar tahun 2006, yakni sekitar 20,03%.
Menurut Johnny, setelah kedua kejadian tersebut, pasar mobil di Indonesia terus meningkat. Bahkan, per akhir September 2012, terjadi kenaikan sekitar 23% menjadi 816.322 unit jika dibandingkan periode sama 2011. “Tahun 2012, penjualan mobil bisa lebih dari satu juta unit,” tukas dia.
Pemicu pertumbuhan penjualan mobil ke depan, jelas Johnny, ada tiga. Pertama, rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih rendah. Kedua, tidak ada transportasi publik yang memadai. Ketiga, produk lokal seperti mobil low car green car (LCGC) harganya bakal lebih terjangkau kebanyakan konsumen.
Bagi Darmaningtyas, produsen otomotif di Indonesia tidak perlu khawatir bahwa perbaikan angkutan umum akan bikin bangkrut usaha mereka. “Indonesia bisa meniru negara-negara maju,” katanya.
Dia mencontohkan, di Eropa angkutan umum bagus, tapi industri otomotif juga tetap maju. Hal itu, tambahnya, karena konsumen membeli mobil bukan sekadar untuk transport. “Tapi untuk inventaris, gengsi, dan lainnya,” tutur dia.
Jawa Menciut
Pasar mobil di Indonesia masih berpusat di Jawa dan sekitarnya, seperti Bali. Menurut Johnny, dari total penjualan mobil saat ini, berkisar 60-70% masih berkutat di Jawa.
Angka itu, jelasnya, jika dibandingkan dengan kondisi 15 tahun lalu, sudah menurun drastis. Penyerapan pasar Jawa, tambah Johnny, saat itu mencapai sekitar 93%.
“Ke depan, pasar Jawa bakal menjadi berkisar 30-40%,” kata dia.
Penyebaran penjualan mobil bakal bergeser ke Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Selain dipicu karena peningkatan daya beli di wilayah tersebut, juga dipicu oleh penerapan otonomi daerah. “Ke depan, pertumbuhan penjualan mobil di ketiga pulau itu bakal kian besar,” ujarnya.
Sekalipun demikian, pasar otomotif Indonesia masih terus bisa bertumbuh. Teddy Irawan mengiyakan. Potensi perkembangan pasar mobil di Tanah Air masih sangat besar jika melihat jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta dan rasio kepemilikan mobilnya masih sangat rendah. Saat ini, baru sekitar 10% masyarakat yang berkemampuan membeli mobil. Ke depannya, jika 20% saja dari 250 juta penduduk Indonesia berkemampuan membeli mobil, berarti potensi pasar mobil mencapai 50 juta orang/unit.
Sementara itu, penjualan mobil dalam empat-lima tahun ke depan diproyeksikan mencapai 1,5-1,6 juta unit dalam setahun dari 2012 diperkirakan tembus 1 juta unit. “Peningkatan penjualan akan ditopang oleh pertumbuhan PDB, program LCGC (mobil murah dan ramah lingkungan), jumlah orang kaya yang bertambah, dan suku bunga yang mendukung. Pelaku usaha industri otomotif pun akan menambah investasinya karena melihat prospek tersebut,” kata dia.
Tentang penyebaran penjualan mobil ke Sumatera, Kalimatan, dan Sulawesi, menurut Teddy, juga dipicu oleh kemajuan pembangunan. “Karena itu, kami dari Nissan juga terus mengembangkan pasar-pasar baru di luar Jawa tersebut untuk menjaga keseimbangan penjualan, selain prospek pasarnya bagus karena terus berkembang,” tutur dia.
Terkait dengan perkembangan rasio kepemilikan mobil pribadi yang belum seimbang dengan panjang jalan yang ada, pelaku usaha otomotif telah meminta pemerintah lebih banyak membangun jalan baru. Bukan hanya untuk menunjang industri otomotif, penambahan jalan juga mendukung perkembangan industri yang lain.
Sebab, pertumbuhan industri dan ekonomi secara umum akan membutuhkan peningkatan mobilitas, yang artinya membutuhkan tambahan jalan baru. Penambahan jalan baru juga diyakini akan menghemat pemakaian BBM karena arus transportasi menjadi lebih lancar.
Selain itu, NMI juga mendukung pembangunan transportasi massal di Indonesia seiring dengan perkembangan industri otomotif yang berkembang pesat. Jika transportasi umum berkembang dan kondisinya bagus, masyarakat akan semakin punya banyak pilihan transportasi.
“Kami yakin, mobil pribadi juga akan tetap laku dijual karena pertimbangan membeli mobil banyak alasannya, antara lain karena kebutuhan privat dan untuk keluarganya serta aktualisasi diri atau simbol kesuksesan,” ujarnya.
Dorong Penelitian
Sementara itu, Budi Darmadi mengatakan, pemerintah mendorong meningkatnya investasi di sektor komponen otomotif. Saat ini, jumlah industri komponen otomotif mencapai 1.400 unit di Tier I, II, dan III. Dibandingkan empat tahun lalu yang sekitar 900 unit.
Selain itu, lanjut dia, pemerintah mendorong peningkatan dan pengembangan R&D di sektor otomotif. Misalnya, kata dia, dengan BPPT untuk mendukung R&D platform komponen generik otomotif.
R&D, lanjut dia, sangat dibutuhkan. Pasalnya, sebuah mobil hanya bertahan pada satu model dalam 7-8 tahun. Sementara itu, dibutuhkan riset sekitar 3-4 tahun untuk menghasilkan suatu model baru dan siap dikomersialkan. Pemerintah, kata dia, bersama dengan BPPT mendorong agar R&D sektor otomotif berkembang.
Di sisi pasar, kata dia, pemerintah mendorong agar volume pasar bertumbuh. Dengan demikian, memenuhi skala ekonomis untuk memacu investasi. Baik di sisi produksi mobil, maupun komponen. Dia mencontohkan, untuk komponen tertentu, setidaknya dibutuhkan skala pasar sebesar 1,5 juta unit mobil. Meski, kondisi beragam terhadap jenis yang berbeda.
“Ketika kita berupaya mendorong R&D, tentu dibutuhkan tenaga-tenaga yang ahli di bidangnya. Mulai dari mekanik, dan engineer untuk teknologi material hingga tehnik IT. Kemenperin hanya punya beberapa sekolah dan balai. Nah, Kemenperin bekerja sama dengan Kementerian lain, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk menciptakan SDM-SDM ahli. Karena, sangat dibutuhkan. Terutama ketika kita akan melakukan manuver-manuver. Saat ini, SDM-SDM ahli, engineer kita masih kurang,” kata Budi. (eme/lm)







budaya konsumtif berkembang karena transportasi masal yang sama sekali tak bisa diandalkan
woww…menmbah kemacetan jg
nitip jemuran mas
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/10/11/siapa-yang-berani-menjamin-hidupmu/
terima kasih
pasar yg gurih bgt..