Duka Bukit Soeharto dan Sibolga
MULUSNYA jalan aspal Balikpapan-Samarinda, Kalimantan Timur bisa melenakan pengemudi. Lengah sedikit, bisa ‘ciuman’ berujung maut. Kepolisian setempat menyebutkan, setidaknya ada tiga titik di kawasan tersebut yang dikenal rawan kecelakaan lalu lintas jalan.
Di penghujung September 2012, kita sodori kabar tewasnya sembilan pengguna jalan akibat tabrakan dua mobil. Peristiwa itu terjadi di KM 56 kawasan Tahura Bukit Soeharto itu, Jumat (28/9/2012) pagi berkisar pukul 07.00-00.08 waktu Indonesia tengah (WITA). Tabrakan terjadi adu banteng antara truk dan minibus Daihatsu Xenia. Sopir truk diduga terlalu ke kanan hingga melewati marka jalan dan akhirnya bertabrakan dengan Xenia tersebut. Sembilan orang yang tewas adalah penumpang dan pengemudi Xenia. Sedangkan sopir dan dua kernet truk selamat.
Sang sopir truk, seperti dikutip dari http://ntmc-korlantaspolri.blogspot.com/, Sandi (26 tahun), belakangan ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat pasal 310 ayat 4 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAT). Sang sopir terancam sanksi penjara maksimal enam tahun dengan denda maksimal Rp 12 juta.
Duka anak negeri yang cukup menyita perhatian lainnya adalah kasus di Jalan Barus-Sibolga Km 12, Kelurahan Sosorgadong, Kecamatan Sosorgadong, Tapteng, Selasa (18/9/2012) sekira pukul 13.30 waktu Indonesia bagian barat (WIB).
Dua sepeda motor bertabrakan adu banteng. Empat orang tewas seketika. Situs http://www.metrosiantar.com menyebutkan, peristiwa bermula ketika Jhon Piter, pengendara sepedamotor APP KTM bermaksud hendak memotong mobil di depannya. Namun, karena jalan agak bergelombang dan diduga tidak melihat ada kendaraan di depannya, sepeda motor yang ditunggangi Jhon bertabrakan dengan sepedamotor Alimudin. Kedua pengendara sepedamotor berikut yang duduk di boncengan masing-masing pun terpelanting ke aspal jalan. Tewas.
Peristiwa di Sibolga itu menyodorkan fakta bagaimana faktor jalan dan faktor manusia demikian dominan. Ketika hendak mendahului, kita sebagai pemotor mesti memastikan kondisi dari arah berlawanan cukup aman. Namun, soal faktor jalan, di luar kuasa kita. Jalan bergelombang atau jalan berlubang tanggung jawab penyelenggara jalan, yakni kementerian pekerjaan umum atau pemerintah daerah.
Hanya saja, sebagai pemotor, kita terus dituntut waspada. Penuh konsentrasi saat berkendara. Sebagai aspek melihat dan terlihat, kita dituntut melihat medan di depan sebagai jalan yang hendak dilewati. Melepas sejauh mungkin pandangan di depan kita untuk bekal mengambil keputusan. Cukup amankah untuk mendahului? Atau, tahan sesaat. Lebih baik terlambat beberapa saat, daripada hilang dalam sekejap.
Sedangkan jalan aspal yang mulus dan lurus jangan dianggap remeh. Biasanya jalan seperti itu melenakan kita. Bisa-bisa malah mengantuk. Konsentrasi mutlak. Bukan tak mungkin ada pengguna jalan yang lengah dan membahayakan kita.
Ikhtiar dan ikhtiar. Cuma itu yang kita bisa lakukan ketika di jalan. Semaksimal mungkin menerapkan pola berkendara yang aman dan selamat. (edo rusyanto)






Innalilahi… semoga mjd pelajaran bagi kita dlm berkendara
miris. jlnan sungguh ironis, disaat jln udah bagus, pemakainya yg ngawur n sebaliknya.
Faktor manusia ternyata kuncinya ada diseputar konsentrasi berkendara. Yuk terus fokus saat berkendara. Salam.
Huffr……. duwit pada dikorupsi…Rakyat jelata yg jadi korbanya….
betul poros samarinda-balikpapan sampai KM 60 udah 3 kecelakaan dalam 3 minggu ini. pertama truck keluar jalur, terguling, trailer kontainer tergling, taxi argo keluar jalur, dan trakir xenia-DT yg menelan 9 korban….ngeri belum keitung yang motor.
makanya kalo lewat balikpapan – samarinda mampir dulu di RM. Thu Smdg, lebih baik keenakan diperut daripada kelengahan dijalan,
“Salam satu tahu”
Saya pernah mampir juga tuh disitu. Masih ada gak yah?
wah,, tambah rame tuh pak, malah ada cabang yg sama besarnya di jalan antara samarinda – bontang.
“Salam Surveyor”
ngeri jika adu bannteng…hmmm serem
nitip artikel mas
[tanyai diri kamu, untuk apa hidupmu selama ini?]
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/10/03/hidupmu-untuk-apa-saja/
terima kasih