Motor di Sela Trans Musi Palembang
TERIK mentari mengguyur Kota Palembang. Peluh berlomba-lomba membasahi t-shirt. Maklum, siang itu saya berdiri di sisi Sungai Musi.
Perahu-perahu kecil yang menanti penumpang untuk diantar ke berbagai pelosok di sekitar Palembang, sesekali bergoyang diterpa gelombang sungai. Penumpang hilir mudik. Ada yang membawa aneka barang, tapi tak jarang yang hanya membawa badan.
Nah, menariknya, tak jauh dari dermaga di bawah Jembatan Ampera tersedia sebuah halte bus rapid transit (BRT) Trans Musi. Bus yang mirip Trans Jakarta itu, langsung diserbu ketika merapat ke halte. Penumpang antusias. Beda Trans Musi dengan Trans Jakarta, Trans Musi tidak memiliki jalur khusus seperti di Jakarta.
Itu potret kecil transportasi kota Palembang yang saya lihat sekilas. Pembangunan moda transportasi publik terus menggeliat. “Trans Musi menghubungkan titik-titik tertentu di kota. Kehadirannya gak mengganggu kami,” tutur seorang sopir taksi Bluebird, saat berbincang dengan saya, ketika mengantar ke bandara Palembang, Jumat (28/9/2012) sore.
Layanan angkutan umum massal itu cukup menarik. Busnya cukup bersih dengan tampilan memikat. Berhenti hanya di halte tertentu dan memasang tarif Rp 4.000 per penumpang untuk enam koridor. Sedangkan khusus dua koridor yakni Pangkalan Balai: Alang-Alang Lebar – Pangkalan Balai dan Koridor Indralaya: Terminal Karya Jaya – Indralaya tarifnya Rp 7.000 per penumpang.
Akankah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi? Entah itu sepeda motor atau mobil?
“Belum bisa mas, karena armadanya belum terlalu banyak dan tidak menjangkau lokasi pemukiman,” kata seorang warga Palembang.
BRT Trans Musi mulai soft opening pada 22 Februari 2010. Saat itu, Trans Musi diharapkan menjadi salah satu moda transportasi yang baik dan bisa dikembangkan hingga menjangkau seluruh kawasan kota Palembang. Bus yang dikelola PT Sarana Pembangunan Palembang (PT SP2J) itu, hingga September 2012, memiliki 120 bus yang berkapasitas berkisar 40-60 penumpang. Rata-rata per hari mampu mengangkut 20 ribu penumpang dengan pendapatan sekitar Rp 80 juta. Sedangkan operasional Trans Musi pukul 06.00-22.00 WIB.
Pilihan paling favorit jatuh pada sepeda motor. Saat Anda ke kota Palembang, bakal disuguhi pemandangan banyaknya si kuda besi wara wiri. Pemandangan lumrah di kota-kota besar yang ada di Indonesia, termasuk perilaku berkendara yang tidak memakai helm atau melawan arus kendaraan.
Kemudahan memperoleh sepeda motor menjadi salah satu pemicu meruyaknya si roda dua. Kita tahu, lebih dari 80% sistem pembelian sepeda motor memakai sistem kredit dengan uang muka sekitar 5-10%. Walau, sejak 15 Juni 2012, batas uang muka minimal 30%, tapi hal itu masih tidak membuat gentar membeli sepeda motor. “Peraturannya telat, kebiasaan bangsa kita, sudah terjadi, motor numpuk baru deh bikin peraturan,” seloroh warga lainnya.
Palembang adalah ibukota Sumatera Selatan (Sumsel). Di wilayah Sumsel, penjualan sepeda motor cukup tinggi. Untuk periode Januari-Agustus 2012, menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), tercatat sekitar 769 unit per hari. Angka itu setara dengan hampir 4% dari total penjualan sepeda motor nasional.
Tampaknya sepeda motor masih menjadi primadona sebagai alat transportasi di wilayah ini. Transportasi publik masih menjadi impian. Butuh kemauan dan kebijakan yang konsisten dari pemerintah daerah. Selain itu, kata Profesor Erika Buchari dari Universitas Sriwijaya, butuh konektivitas atau angkutan yang terkoneksi dengan baik antar seluruh moda yang ada. Kapan yah? (edo rusyanto)






Makin laris kendaraan pribadi, makin jauh tranportasi publik yang aman nyaman dan terjangkau
mudah-mudahan untuk kedepannya angkutan publik bisa lebih banyak lagi dan disertai pula pelayanan yang memuaskan, sehingga akan menambah nilai positif bagi para pengguna jalan raya. amin. klo tidak dikontrol penggunaan kendaraan pribadi bukan tidak mustahil kota palembang akan seperti ibukota jakarta yang macetnya sudah cukup memprihatinkan.
seharusnya sebelum terlambat spt jakarta..segera benahi infrastruktur dan suprastruktur berupa regulasi, shg tidak akan terlambat spt jkt dan bandung…masih bisa diantisipasi utk ditata..
http://boerhunt.wordpress.com/2012/10/01/dampak-sistem-boarding-yang-setengah-setengah-pada-stasiun-ka-gambar-berbicara/
Gagasan yg keren. Setuju.
Kenyamanan angkutan umum tidak akan pernah terjadi selama pengamen, penjual asongan apalagi pencopet masih beroerasi.
kota yg indah…
http://joeloe2.wordpress.com/2012/10/01/spyshot-tambahan-beat-fi/
Hmm.. Motor laris maniss.. Jepang tambah kaya aja ya gan…
Mestinya Indonesia bisa bikin motor sendiri ya gan..
Orang spare part motor aja banyak yang bikinan Indonesia
yg pnting ad niat yg kuat utk membangun sistem tranportasi publik yg maju.
betulll, setelah niat, tindakan nyata dan konsistensi. semangatttt..